
Plt Rektor Unsoed Prof. Dr. Ali Rokhman, M.Si. bersama peserta dan narasumber pada kegiatan Sawit Goes to Campus 2026 di Auditorium Gedung Faperta Unsoed, Rabu–Kamis (7–8/10/2026).
PURWOKERTO, EDUKATOR–Minyak sawit berpotensi menjadi bahan baku lilin batik alternatif melalui inovasi biowax yang membuka peluang pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Inovasi ini diperkenalkan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Faperta Unsoed) bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam kegiatan Sawit Goes to Campus 2026, di Auditorium Gedung Faperta Unsoed, Rabu–Kamis (7–8/10/2026).
Kegiatan bertema “Pemberdayaan UMKM dan Koperasi Petani Komoditas Perkebunan & Biowax untuk Batik Sawit” tersebut membahas potensi hilirisasi sawit, pemberdayaan UMKM dan koperasi petani, serta inovasi produk turunan sawit untuk industri kreatif.
Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor Unsoed, Prof. Dr. Ali Rokhman, M.Si.
Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor Unsoed, Prof. Dr. Ali Rokhman, M.Si., saat membuka kegiatan menegaskan pentingnya pemahaman menyeluruh tentang industri sawit bagi mahasiswa. Pemahaman tersebut mencakup aspek keberlanjutan, pengembangan produk turunan, dan keterampilan yang diperlukan untuk mendukung pengembangan komoditas perkebunan.
“Mahasiswa perlu memahami industri sawit secara utuh,” ujarnya.

Biowax Sawit Jadi Alternatif Malam Batik
Biowax merupakan bahan lilin berbasis bahan hayati yang dapat dibuat dengan memanfaatkan minyak nabati, termasuk minyak sawit atau produk turunannya. Dalam proses membatik, bahan ini digunakan sebagai malam untuk menutup bagian tertentu pada kain agar tidak terkena pewarna sehingga motif batik dapat terbentuk.
Penggunaan biowax berbahan minyak sawit membuka peluang pengembangan bahan malam alternatif sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan. Namun, keunggulan lingkungan bahan tersebut tetap bergantung pada komposisi, proses produksi, dan hasil pengujiannya.
Ali Rokhman menilai hilirisasi sawit melalui industri kreatif, termasuk batik, perlu terus dikembangkan. Inovasi bahan baku diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk sekaligus membuka peluang usaha bagi UMKM.
Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banyumas, Arif Sukmo Buwono, S.T., M.M., yang hadir mewakili Bupati Banyumas. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dalam mengembangkan komoditas perkebunan dan produk turunannya agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas.
“Produk perkebunan harus memberi nilai tambah bagi masyarakat,” katanya.
Menurut Arif, penguatan UMKM dan koperasi petani menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem usaha yang mampu meningkatkan nilai ekonomi hasil perkebunan. Pengolahan dan inovasi diharapkan tidak hanya menguntungkan produsen bahan baku, tetapi juga pelaku usaha dan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UKMK BPDP, Helmi Muhansyah, menyampaikan bahwa produk turunan sawit memiliki potensi pemanfaatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin mahasiswa melihat potensi hilirisasi sawit,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai peluang pengembangan produk turunan sawit dalam berbagai skala usaha.
Mahasiswa Praktik Membuat Lilin Batik Sawit
Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi tentang prospek kelapa sawit berkelanjutan di Indonesia dari Dr. Khavid Faozi, M.P., dari Faperta Unsoed dan Fitriono Efendi, S.P., dari PT Anugrah Kembang Sawit Sejahtera.
Pembahasan dilanjutkan dengan pemanfaatan produk turunan minyak sawit untuk mendukung usaha batik Banyumas yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Materi disampaikan Ir. Indra Budi Susetyo, M.Sc., dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Miftahudin Nur Ihsan, S.Pd., MBA, dari Smart Batik Indonesia.
Peserta juga mempelajari perjalanan bisnis batik Banyumas bersama Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan Kabupaten Banyumas serta Aliansi Batik Banyumas.
Pada hari kedua, peserta mengikuti demonstrasi dan praktik pembuatan lilin atau malam batik berbahan minyak sawit (biowax) di halaman Gedung D Faperta Unsoed. Kegiatan dilanjutkan dengan praktik membatik, presentasi dan penjurian lomba desain batik, serta pengumuman juara dan penutupan.
Melalui praktik tersebut, peserta diperkenalkan pada potensi pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan baku alternatif dalam proses membatik. Inovasi ini diharapkan dapat mendorong kreativitas sekaligus membuka peluang pengembangan produk bagi pelaku UMKM batik.
Perkuat Kolaborasi Kampus dan Pelaku Usaha
Wakil Dekan Bidang Akademik Faperta Unsoed, Susanto Budi Sulistyo, S.TP., M.Si., Ph.D., yang menyampaikan sambutan dekan, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami industri sawit secara lebih luas. Pemahaman itu mencakup keberlanjutan, pengembangan produk turunan, dan peluang pemberdayaan masyarakat.
Melalui Sawit Goes to Campus 2026, Faperta Unsoed dan BPDP mendorong sinergi perguruan tinggi, pemerintah, pelaku usaha, UMKM, koperasi, dan masyarakat dalam mengembangkan hilirisasi sawit.
Inovasi biowax untuk batik menjadi salah satu contoh pemanfaatan produk turunan sawit yang berpotensi dikembangkan dalam industri kreatif. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan, memperluas peluang usaha, dan mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat.(Prasetiyo)