Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad S.Sos, M.Si
(Penasihat Militer Republik Indonesia untuk PBB, 2017–2019)
PAGI ini, Rabu, 1 April 2026, saya menulis opini ini di atas kereta, rute Gombong – Jatinegara. Jauh dari rapat-rapat yang kadang hanya berisi gema. Di luar jendela kereta yang melaju kencang, saya melihat sawah mulai ditanami padi kembali. Petani masih turun ke ladang. Tapi di wajah mereka ada sesuatu yang tidak perlu kata-kata. Kekhawatiran.
Harga pupuk naik. Harga solar naik. Mereka bertanya pelan-pelan: sampai kapan ini bisa bertahan? Itulah yang tidak terlihat di grafik. Itulah wajah stagflas.
Apa Itu Stagflasi?
Stagflasi adalah kondisi ketika harga-harga naik (inflasi), tetapi ekonomi tidak tumbuh atau bahkan melambat. Ibaratnya begini: harga beras naik, harga BBM naik, biaya hidup makin mahal, tapi penghasilan tidak ikut naik, bahkan kesempatan kerja berkurang
Jadi, masyarakat seperti “terjepit dari dua sisi”: hidup makin mahal, tapi kemampuan ekonomi tidak bertambah.
Inilah kondisi yang paling berat dirasakan rakyat kecil.
Dunia Sedang Berubah
Saya teringat krisis tahun 2008. Saat itu berbeda. Inflasi rendah karena orang berhenti belanja.
Sekarang situasinya tidak sesederhana itu. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam—bahkan sempat menembus lebih dari 100 dolar AS per barel. Harga pupuk global juga mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa bulan terakhir, sebagaimana dicatat berbagai laporan internasional.
Namun di saat yang sama, pertumbuhan ekonomi justru melambat.
Inilah yang oleh para ekonom disebut sebagai stagflasi—sebuah kondisi yang paling dihindari, terutama oleh negara berkembang seperti Indonesia yang masih bergantung pada impor energi dan bahan baku.
Faktor Global: Konflik dan Rantai Pasok
Kita perlu jujur melihat kenyataan. Tekanan utama saat ini memang banyak berasal dari faktor global, terutama konflik geopolitik di kawasan strategis energi dunia.
Ketegangan di sekitar Selat Hormuz—jalur vital perdagangan minyak dunia—telah memicu gangguan pasokan dan kenaikan harga energi. Sejumlah laporan menyebutkan adanya gangguan terhadap fasilitas energi dan distribusi global, yang berdampak luas hingga ke banyak negara.
Namun demikian, dampaknya di dalam negeri tetap sangat ditentukan oleh respons kebijakan masing-masing negara.
Indonesia, seperti banyak negara lain, pada akhirnya ikut menanggung harga yang ditentukan oleh dinamika global tersebut.
Yang Paling Terpukul: Rakyat Kecil
Dampak krisis ini tidak berhenti di sektor energi. Ia menjalar ke mana-mana.
1.Harga pupuk naik.
2.Biaya produksi pangan meningkat.
3.Harga beras, cabai, dan kebutuhan pokok ikut terdorong naik.
Ini bukan sekadar inflasi energi. Ini sudah menjadi inflasi pangan—dan inflasi jenis ini selalu paling menyakitkan bagi masyarakat kecil.
Petani, buruh, dan keluarga sederhana tidak memikirkan indeks saham.
Mereka memikirkan satu hal: apakah besok masih bisa makan dengan layak.
Respons Pemerintah: Cepat, Tapi Belum Cukup
Saya mencermati bahwa pemerintah telah mengambil sejumlah langkah cepat. Diversifikasi sumber energi, kerja sama internasional, serta upaya penguatan cadangan energi mulai dilakukan.
Ini langkah penting dan patut diapresiasi. Namun tantangannya tidak ringan. Cadangan energi nasional masih terbatas dibandingkan kebutuhan ideal. Di sisi lain, efisiensi energi masih banyak bergantung pada kesadaran, belum sepenuhnya menjadi gerakan nasional yang disiplin dan terukur.
Dalam situasi seperti ini, kecepatan saja tidak cukup. Diperlukan juga ketahanan dan konsistensi kebijakan jangka panjang.
Tiga Langkah Mendesak
Berdasarkan pengalaman saya di lingkungan internasional, krisis seperti ini harus ditangani secara luar biasa.
Pertama, perlu kebijakan nasional yang lebih tegas terkait efisiensi energi. Bukan sekadar imbauan, tetapi sistem yang terukur, transparan, dan memiliki konsekuensi jelas.
Kedua, pembentukan tim krisis lintas sektor yang tidak hanya berisi ekonom, tetapi juga melibatkan unsur logistik, ketahanan nasional, dan analisis strategis. Karena gejolak ekonomi yang tidak terkendali dapat berdampak pada stabilitas sosial.
Ketiga, komunikasi publik yang jujur dan terbuka. Masyarakat tidak menuntut kabar baik, tetapi membutuhkan kejelasan dan arah. Kepercayaan publik adalah kunci menghadapi situasi sulit.
Melihat ke Depan: Jangan Hanya Bertahan
Di tengah perjalanan kereta ini, saya berpikir: Indonesia tidak boleh hanya bertahan. Kita harus bergerak lebih jauh.
Krisis ini seharusnya menjadi momentum untuk:
1.Mengurangi ketergantungan pada energi impor,
2.Memperkuat ketahanan pangan lokal,
3.Mempercepat transisi menuju energi yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Pertanyaannya sederhana, tetapi mendasar: sampai kapan kita akan terus bergantung pada pihak luar untuk kebutuhan paling vital kita?
Kereta terus melaju. Sawah berganti bukit, lalu sungai. Di luar, para petani masih bekerja tanpa banyak pilihan.
Indonesia juga tidak punya banyak waktu untuk menunda.
Stagflasi yang mengintai adalah ujian serius. Tetapi setiap krisis selalu membawa peluang—bagi mereka yang siap berubah.
Jangan biarkan krisis ini berlalu tanpa makna. Karena bagi sebagian rakyat, waktu untuk menunggu sudah habis.(*)