Oleh: Akhmad Fauzi, S.S.,S.Pd., C.PIM
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Purbalingga
BARU-baru ini, penulis mengikuti sebuah akun media sosial milik seorang warga Indonesia yang tinggal dan bekerja di Jepang. Hampir setiap hari ia membagikan potongan-potongan kecil kehidupan di Negeri Sakura: anak-anak sekolah yang membersihkan kelasnya sendiri, budaya antre yang tertib, kebiasaan menghargai orang lain, hingga sikap disiplin yang tampak tumbuh sejak usia dini. Yang menarik bukan sekadar pemandangan itu, melainkan pertanyaan yang muncul setelahnya: bagaimana sebuah kebiasaan sederhana dapat menjadi budaya?
Anak-anak Jepang tentu bukanlah anak-anak yang sejak lahir lebih disiplin daripada anak-anak Indonesia. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang secara konsisten memperkenalkan aturan, tanggung jawab, dan kepedulian melalui praktik sehari-hari. Karakter tidak hanya dibicarakan, tetapi dilatih. Tidak hanya diajarkan, tetapi dibiasakan. Di situlah barangkali kita perlu belajar.
Belajar dari Jepang bukan berarti menempatkan Jepang sebagai bangsa yang sempurna, apalagi menyalin sistem pendidikannya secara utuh. Indonesia memiliki sejarah, budaya, persoalan sosial, dan karakter masyarakat yang berbeda. Namun, ada prinsip yang bersifat universal: manusia yang baik tidak terbentuk dalam semalam. Ia dibangun melalui kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang, konsisten, dan dimulai sejak usia dini.
Karakter Tumbuh dari Kebiasaan Kecil
Jepang sendiri bukan bangsa yang lahir dalam kondisi ideal. Negeri itu pernah mengalami kehancuran akibat Perang Dunia II. Namun, dari masa sulit tersebut, Jepang membangun kembali kehidupan masyarakatnya dengan pendidikan sebagai salah satu fondasi penting. Sekolah tidak hanya dipandang sebagai tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang untuk membentuk kebiasaan hidup bersama.
Karena itu, tidak mengherankan jika kegiatan sederhana seperti membersihkan kelas memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar membuat ruangan menjadi bersih. Anak belajar bahwa ruang yang digunakan bersama juga merupakan tanggung jawab bersama. Mereka belajar bahwa tidak semua pekerjaan harus dilakukan oleh orang lain. Mereka belajar bahwa menjadi bagian dari kelompok berarti bersedia mengambil bagian.
Di Indonesia, gagasan semacam itu sebenarnya bukan sesuatu yang asing. Kita mengenal gotong royong, kerja bakti, musyawarah, saling membantu, dan berbagai nilai sosial yang telah lama hidup dalam masyarakat. Persoalannya bukan apakah kita memiliki nilai-nilai tersebut, tetapi apakah nilai itu benar-benar hadir dalam keseharian sekolah.
Kita sering berbicara tentang pendidikan karakter dengan kalimat yang besar, tetapi kadang lupa bahwa karakter justru tumbuh dari tindakan-tindakan kecil.
Anak yang dibiasakan mengembalikan buku ke tempatnya sedang belajar tanggung jawab. Anak yang menunggu giliran sedang belajar menghargai orang lain. Anak yang membantu temannya memahami pelajaran sedang belajar empati. Anak yang datang tepat waktu sedang belajar menghargai komitmen.
Dengan demikian, pendidikan karakter tidak selalu membutuhkan program besar. Ia dapat dimulai dari cara anak memasuki kelas, cara mereka berbicara, cara mereka memperlakukan teman, hingga cara mereka menjaga lingkungan sekolah.
Keteladanan Guru Menjadi Kurikulum Tak Tertulis
Persoalannya kemudian bergeser kepada konsistensi orang dewasa. Budaya antre, misalnya, tidak akan tumbuh hanya karena sekolah memasang tulisan “Budayakan Antre”. Anak akan lebih mudah memahami maknanya ketika guru, tenaga kependidikan, dan orang dewasa di sekitarnya juga menunjukkan perilaku yang sama.
Demikian pula disiplin waktu. Sulit mengajarkan pentingnya datang tepat waktu jika orang dewasa justru memberikan contoh sebaliknya.
Di sinilah keteladanan menjadi semacam kurikulum yang tidak tertulis. Anak-anak belajar bukan hanya dari buku pelajaran dan penjelasan guru, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Guru yang berbicara santun sedang mengajarkan kesantunan. Guru yang mau meminta maaf ketika melakukan kesalahan sedang mengajarkan kerendahan hati. Guru yang konsisten terhadap aturan sedang mengajarkan integritas. Karakter akhirnya bukan sekadar materi pelajaran. Ia menjadi atmosfer sekolah.
Namun, pendidikan karakter tidak boleh pula dipertentangkan secara sederhana dengan pendidikan akademik. Anak tetap membutuhkan kemampuan membaca, berhitung, berpikir kritis, berkomunikasi, dan memecahkan masalah. Tantangannya adalah bagaimana prestasi akademik dan pembentukan karakter tidak berjalan sendiri-sendiri.
Kita perlu bertanya: untuk apa anak memiliki nilai tinggi jika ia tidak mampu bertanggung jawab? Untuk apa ia menguasai banyak pengetahuan jika tidak mampu menghargai orang lain? Dan untuk apa sekolah menghasilkan siswa dengan prestasi akademik baik jika mereka tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika kita berbicara tentang Indonesia Emas 2045.
Indonesia Emas Dibangun dari Ruang Kelas
Anak-anak yang sekarang duduk di sekolah dasar adalah bagian dari generasi yang kelak akan berada pada usia produktif ketika Indonesia memasuki usia satu abad kemerdekaan. Bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan apabila jumlah penduduk usia produktif tersebut diikuti kualitas manusia yang memadai.
Karena itu, pendidikan dasar tidak boleh hanya dipandang sebagai tahap awal untuk mengejar kemampuan akademik. Ia merupakan fondasi pembentukan manusia.
Lalu, apa yang dapat kita lakukan? Kita tidak harus menunggu perubahan besar dari pusat. Sekolah dapat memulainya dari kebijakan-kebijakan kecil yang konsisten.
Kelas dapat diposisikan sebagai ruang milik bersama. Piket bukan sekadar daftar nama yang ditempel di dinding, melainkan kesempatan untuk belajar bertanggung jawab. Siswa dapat dilibatkan dalam menata buku, merawat lingkungan kelas, atau memastikan fasilitas yang digunakan bersama tetap terjaga.
Kebiasaan disiplin juga dapat dibangun melalui rutinitas sederhana. Berbaris dengan tertib, mengangkat tangan sebelum berbicara, menunggu giliran, datang tepat waktu, dan menyelesaikan tugas sesuai kesepakatan mungkin tampak sepele. Namun, kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus akan membentuk pola perilaku.
Empati pun demikian. Anak tidak cukup diberi tahu bahwa membantu teman adalah perbuatan baik. Mereka perlu diberi kesempatan untuk melakukannya. Siswa yang lebih cepat memahami pelajaran dapat membantu temannya. Kelas dapat memiliki kegiatan kepedulian lingkungan. Pada akhir pekan, siswa dapat menuliskan satu kebaikan yang telah dilakukan atau diterimanya.
Kegiatan semacam itu tidak harus menjadi tambahan beban kurikulum. Nilai-nilai tersebut dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran dan kehidupan sekolah sehari-hari.
Hal lain yang juga perlu direnungkan adalah cara kita memandang keberhasilan anak.
Di sekolah, angka memang penting. Nilai diperlukan untuk mengetahui perkembangan belajar. Asesmen dibutuhkan untuk melihat capaian dan menentukan tindak lanjut. Namun, jangan sampai angka menjadi satu-satunya bahasa keberhasilan.
Anak juga perlu mendapatkan apresiasi karena berusaha, berani bertanya, mampu bekerja sama, menunjukkan kejujuran, membantu teman, atau berani memperbaiki kesalahan. Sebab, sekolah bukan pabrik angka. Sekolah adalah tempat manusia belajar menjadi manusia.
Tentu saja, semua itu tidak mudah. Sekolah memiliki berbagai keterbatasan. Guru menghadapi beban administrasi, jumlah siswa yang beragam, tuntutan capaian pembelajaran, serta lingkungan sosial yang belum selalu mendukung pembentukan budaya disiplin.
Karena itu, kita tidak bisa mengharapkan perubahan hanya melalui slogan atau kegiatan seremonial. Diperlukan konsistensi seluruh ekosistem pendidikan.
Kepala sekolah perlu memberikan arah yang jelas. Guru perlu menjadi teladan. Orang tua perlu melanjutkan kebiasaan baik di rumah. Masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang mendukung. Dengan demikian, pesan yang diterima anak tidak saling bertentangan antara sekolah, rumah, dan lingkungan sosialnya.
Kebiasaan Butuh Konsistensi
Pada titik inilah pelajaran dari Jepang menjadi relevan. Bukan untuk mengatakan bahwa Jepang lebih baik daripada Indonesia. Bukan pula untuk memindahkan budaya Jepang ke sekolah-sekolah kita. Yang perlu kita ambil adalah kesadaran bahwa karakter dibangun melalui kebiasaan, dan kebiasaan membutuhkan konsistensi.
Kita sebenarnya memiliki modal yang tidak kalah penting: gotong royong, kekeluargaan, religiusitas, kepedulian sosial, dan nilai-nilai Pancasila. Tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai slogan yang tertulis di dinding sekolah, tetapi hadir dalam perilaku sehari-hari.
Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar menggunakan teknologi. Kita membutuhkan manusia yang mampu menggunakan teknologi dengan tanggung jawab. Kita membutuhkan generasi yang mampu bersaing, tetapi tidak kehilangan empati; mampu berpikir kritis, tetapi tetap menghargai orang lain; memiliki keberanian mengambil keputusan, tetapi tetap memahami konsekuensi; serta memiliki kecakapan tinggi tanpa kehilangan karakter.
Mungkin karena itu, pertanyaan terbesar tentang masa depan pendidikan Indonesia bukan sekadar berapa tinggi nilai yang dapat dicapai siswa. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: manusia seperti apa yang sedang kita bangun melalui sekolah?
Sebab, ketika Indonesia memasuki 2045, yang akan menggerakkan bangsa ini bukan sekadar lulusan dengan angka-angka tinggi di rapornya. Mereka adalah manusia yang hari ini sedang belajar mengantre, menjaga kebersihan, menghargai teman, berkata jujur, menepati janji, membantu orang lain, dan bertanggung jawab terhadap pilihan-pilihannya.
Indonesia Emas mungkin masih berada di depan. Tetapi manusia yang akan mengisinya sedang berada di ruang-ruang kelas hari ini. Dan masa depan itu sesungguhnya sedang dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita pilih untuk ditanamkan setiap hari.(*)