YOGYAKARTA, EDUKATOR–Berita membanggakan kembali datang dari Yogyakarta. Jogja Disability Arts (JDA) berhasil meraih Juara 1 pada dua kategori dalam ajang Unspoken Talent Night (UTN) ke-7 bertema UTN 7 Senyum Indonesia Award. Sebuah kompetisi yang diselenggarakan LogIn Foundation, di Kota Bandung.
Dalam kompetisi seni khusus difabel yang digelar secara daring sejak November 2025 ini, JDA mengirimkan dua delegasi. Kategori sastra diwakili oleh Alif Akbar Eka Junata. Seorang difabel netra yang membawakan puisi monolog berjudul “Di Negeri Amplop”, karya KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus).
Sementara Kategori Band diwakili oleh GANDANA, kelompok musik yang mengeksplorasi alat bantu mobilitas difabel sebagai instrumen musikal. Keduanya keluar sebagai Juara 1 di kategori masing-masing. Pengumuman pemenang dilakukan secara online melalui Zoom pada Sabtu (20/12/2025).
Ketua JDA, Sukri Budi Dharma, yang akrab disapa Butong, menyebut capaian ini sebagai kebanggaan kolektif sekaligus penegasan arah gerak JDA. “Ini menjadi kebanggaan bersama, dan menjadikan arah tujuan yang dilakukan dan dicita-citakan JDA semakin jelas,” ujar Butong.
Menurutnya, kemenangan ini bukan sekadar hasil lomba, melainkan cerminan dari proses panjang pendampingan dan konsistensi JDA dalam membuka ruang seni yang setara bagi difabel.
Butong menjelaskan, sejak awal JDA terlibat penuh dalam proses kurasi dan produksi karya. Diskusi dilakukan bersama Alif dan GANDANA, mulai dari penentuan tema hingga teknis produksi. “Kami berdiskusi terkait tema dan materi yang akan diikutkan, bagaimana tayangan yang inklusif, alur cerita video, latihan, sampai eksekusi pembuatan video,” jelasnya.
Seluruh proses belakang layar mendapat dukungan penuh dari JDA. Termasuk peran sutradara, proses editing, serta penyediaan subtitle dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Pendekatan ini memastikan karya yang ditampilkan tidak hanya kuat secara artistik, tetapi juga aksesibel bagi publik luas.
Penemuan Bakat
Ada pun, bagi Alif, ia mengaku bangga atas capaian yang diraihnya. Mahasiswa semester V Universitas PGRI Yogyakarta itu menyampaikan bahwa membaca puisi sejatinya bukan hobi utamanya. “Sebenarnya saya tidak terlalu menyukai baca puisi. Tapi karena saya hobi membaca karya sastra, saya merasa ini kesempatan yang sayang kalau dilewatkan,” ujar Alif.
Keputusan mengikuti lomba justru membuka kesadaran baru dalam dirinya. Alif menyadari bahwa proses mencoba, meski berangkat dari keraguan, dapat menuntunnya pada penemuan bakat. “Dari sini saya jadi lebih percaya diri. Ternyata saya punya potensi yang sebelumnya tidak saya sadari,” tambahnya.
Saat ini, Alif tengah aktif menulis cerita pendek bersama teman-teman seangkatannya di Sekolah Menulis Perspektif, sebuah kelas menulis jurnalisme dan artikel opini yang diperuntukkan bagi difabel. Aktivitas ini membuatnya semakin bersemangat menjalani hari-hari. “Sekarang saya lebih bersemangat menjalani hidup. Menulis membantu saya mengenali diri sendiri,” tuturnya.
Remaja berusia 23 tahun itu juga mengungkapkan cita-cita sederhananya: menjadi guru. Ia menempuh studi di jurusan Pendidikan Luar Biasa dengan harapan kelak dapat bermanfaat bagi anak-anak difabel netra di mana pun berada. “Saya ingin hidup saya punya arti, terutama untuk adik-adik difabel netra,” kata Alif pelan namun mantap.
Jejak Prestasi
Kembali Butong menegaskan bawah prestasi ini bukan kali pertama bagi JDA. Pada UTN VI tahun 2018, JDA juga meraih Juara 1 kategori seni pertunjukan (teater). Setelah vakum akibat pandemi, UTN kembali digelar pada 2025 dengan edisi ketujuh. Catatan sejarah ini menegaskan konsistensi JDA sebagai ruang tumbuh seniman difabel yang mampu bersaing di tingkat nasional.
Meski demikian, Butong mengakui bahwa tidak semua rencana dapat terwujud. Sejatinya, JDA ingin mengirimkan delegasi dari cabang seni lain seperti tari dan film, namun keterbatasan biaya menjadi kendala utama.
“Sebenarnya kami ingin mendukung dan mengirimkan seniman tari dan film, tapi belum bisa karena kendala biaya,” ungkapnya.
Melangkah tanpa dukungan
Di akhir perbincangan, Butong menyampaikan refleksi jujur tentang minimnya dukungan pemerintah daerah. Dengan tawa lebar, ia menyebut JDA telah terbiasa berjalan mandiri.
“Aslinya, sudah tidak berharap dukungan pemerintah setempat,” ujarnya sambil tertawa. “Ini kali kedua JDA menjadi juara. Sejak awal, ketika mengirimkan teater pun, kami tetap berjuang sendiri membawa nama Yogyakarta.”
Ke depan, JDA berencana membuka pelatihan-pelatihan seni yang lebih terjadwal, menjangkau lebih luas, serta memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak penyelenggara acara. Bagi JDA, seni bukan sekadar ekspresi, melainkan jalan perjuangan menuju ruang publik yang setara dan inklusif.
“Kemenangan ini adalah kado istimewa dari Jogja Disability Arts untuk Yogyakarta. Meski selama ini pemerintah setempat tak pernah benar-benar hadir, baik memberi dukungan, apalagi apresiasi,: katanya, (Harta Nining Wijaya)