
Murid-murid kelas XII SMA Negeri 1 Sigaluh, Banjarnegara antusias belajar jadi Barista dan pengusaha kopi.
BANJARNEGARA, EDUKATOR–SMA Negeri Sigaluh, Banjarnegara mendadak berubah wajah, Jumat (13/2/2026). Ruang-ruang kelas XII tak lagi dipenuhi meja belajar seperti biasa, melainkan menjelma menjadi kafe dengan konsep unik. Melalui Final Project Sigaluh Barista, para murid ditantang merasakan langsung bagaimana menjadi pengusaha kopi, bahkan berperan sebagai CEO (Chief Executive Officer) atau pimpinan perusahaan.
Kelas Berubah Jadi Kafe Tematik
Setiap kelas menampilkan identitas berbeda. Kelas XII 4 misalnya, dengan konsep tradisional Jawa, mereka menamakan cafenya “Griya Aksara”. Para murid pun secara totalitas tampil dengan balutan busana tradisional Jawa, sehingga terkesan Njawani.

Lain lagi dengan kelas XII 5. Murid-murid di kelas ini menamakan cafenya “Naskah Kopi”, dengan desain memanfaatkan koran bekas, namun tetap kreatif dan menarik.
Naskah Kopi, kelas XII 5
Kelas XII 8 tak mau kalah, meski balutan warna dominan biru muda menyerupai dengan warna SPPG dapur MBG, namun cafe mereka yang bernama “Titik Temu” menawarkan menu-menu kopi dan juga makanan yang menggugah selera.
Mereka semua tengah melaksanakan kegiatan Final Project Sigaluh Barista. Tak tanggung-tanggung, juri penilai dalam kegiatan tersebut yaitu Gibran, owner dari Misisipi Kopi Banjarnegara.
Belajar meracik minuman kopi yang enak
Gibran menilai efort yang sangat besar menunjukan para siswa serius dalam mempelajari mengenai dunia kopi.
Menurutnya, kegiatan ini menantang bagi siswa untuk menjadi CEO yang menyamar sesungguhnya.
“Saya sangat terkesan dengan Kelas XII 1. Mereka sampai rela membawa barang-barang antik dari rumah demi membangun suasana kafe sesuai impian. Bahkan ada kaset pita lawas seperti milik Michael Learns to Rock, Slank, sampai Peterpan yang populer di era 90-an,” ujar Gibran.
Menurutnya, dari sisi rasa, racikan kopi para murid sudah menunjukkan perkembangan. Mereka mulai memahami keseimbangan rasa serta pentingnya pelayanan kepada pelanggan.
“Itu kemajuan berarti. Mereka benar-benar kami tantang menjadi CEO yang menyamar. Meski skalanya kecil, mereka belajar bagaimana menjalankan bisnis yang sesungguhnya,” tambahnya.
Digembleng Sepekan Sebelum Ujian Akhir
Sebelum tampil di tahap final, para murid tidak serta-merta membuka kafe dadakan. Selama sepekan mereka mendapatkan materi pengolahan pascapanen kopi, pelatihan barista, hingga kunjungan praktik ke tempat usaha sang juri untuk melihat langsung manajemen kafe.
Ingin Kuliah Sambil Kerja
Salah satu murid, Ikhsan Mukhafidin, mengaku mendapatkan pengalaman baru yang tak diperoleh di pelajaran reguler.
“Saya ingin kuliah sambil bekerja. Minimal sekarang saya sudah punya kemampuan dasar menjadi barista. Bekal dari para narasumber sangat bermanfaat bagi kami,” kata Ikhsan.
Belajar Mengelola Usaha
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Henny Murdiastuti, S.Pd berharap program ini menjadi bekal nyata bagi para murid menjelang kelulusan.
“Dengan bekal bisnis kopi ini, kami berharap setelah lulus mereka memiliki keterampilan khusus. Mereka belajar pemasaran, pelayanan, hingga pengelolaan usaha,” ujar Henny Murdiastuti.
Henny berharap, kelak ada yang bisa kuliah sambil bekerja, dan yang tidak kuliah pun dapat langsung terjun ke dunia kerja sehingga membantu menekan angka pengangguran di Banjarnegara..
Melalui kegiatan ini, sekolah berharap pembelajaran tak berhenti pada teori. Para murid diajak merasakan dinamika usaha secara langsung—mulai dari menyiapkan konsep, melayani pelanggan, hingga mempertanggungjawabkan kualitas produk—layaknya pimpinan perusahaan yang turun langsung ke lapangan. (Prasetiyo)