Ketika Difabel Belajar Fotografi, Mereka Membaca Dunia Lewat Lensa

Bagikan :

*Sekolah Menulis Jurnalisme Perspektif

Suasana kelas menulis jurnalisme dan artikel opini untuk difabel, sesi materi “fotografi jurnalisme” bersama jurnalis senior yang juga fotografer Farid Wahdiono (berkacamata), Sabtu (10/1/2026). Foto: Harta Nining Wijaya/EDUKATOR

YOGYAKARTA. EDUKATOR–Hujan deras disertai angin mengguyur Kota Yogyakarta pada Sabtu (10/1/2026) sore itu. Namun, kondisi tersebut tak menjadi penghalang bagi para peserta Sekolah Menulis Jurnalisme Perspektif, Kelas Menulis untuk Difabel Seri II.

Satu per satu mereka hadir dilokasi pelatihan menulis. Yakni di sebuah rumah tinggal yang berada di Jalan Arjuna Nomor 7, Wirobrajan, Yogyakarta. Bahkan sebagian hadir 20–30 menit lebih awal, sebelum kegiatan yang teragenda pada pukul 15.00 WIB.

Kali itu adalah pertemuan ke-14 dari 16 kali pertemuan yang dijadwalkan. Sekolah Jurnalisme Perspektif menghadirkan Farid Wahdiono, seorang fotografer yang juga jurnalis senior. Sosok yang konsisten mengupas dunia fotografi secara mendalam dan kritis itu, dihadirkan sebagai fasilitator materi fotografi jurnalisme.

Lima peserta kelas menulis Seri II hadir lengkap. Mereka adalah Rini Rindawati, Victoria Nenti Saptari, Trimah, dan Prabandika Wirayuda. Keempatnya difabel fisik. Kemudian Sru Hardoyo, difabel pengguna alat bantu dengar. Turut bergabung pula Akbar Ariantono Putro (difabel netra), alumni Kelas Menulis Jurnalisme Perspektif Seri I.

Foto bersama peserta Sekolah Jurnalisme Perspektif dengan para fasilitator, Farid Wahdiono (berkacamata) dan Agoes Widhartono (mengenakan topi), Sabtu (10/1/2026). Foto: Harta Nining Wijaya/EDUKATOR)

Mengapa Materi Fotografi Jurnalisme Dihadirkan?
Satu hal, jurnalisme merupakan bagian penting dalam kurikulum kelas menulis. Karena fotografi tidak sekadar pelengkap teks. Melainkan fondasi penting dalam membangun narasi visual yang kuat, etis, dan bermakna. Karenanya, materi fotografi jurnalisme dirancang sebagai bagian integral dari kelas menulis.

Tersebut di atas mengemuka dari penyelenggara, sekaligus fasilitator Sekolah Menulis Jurnalisme Agoes Widhartono.

“Fotografi jurnalisme sangat menunjang kualitas penulisan, terutama dalam membangun narasi visual yang etis dan bertanggung jawab,” ujar Agoes Widhartono, jurnalis senior ini.

Dengan pemahaman tersebut, peserta diharapkan semakin sadar akan makna foto setiap kali melakukan peliputan dan menuliskan laporan jurnalistik.
Dia menegaskan, bahwa fotografi jurnalisme merupakan bagian dari kurikulum berkelanjutan Sekolah Menulis Jurnalisme. Artinya, materi ini akan selalu hadir dalam setiap seri kelas menulis yang diselenggarakan.

Foto sebagai Fakta
Pada kesempatan lain, Farid Wahdiono menegaskan bahwa fotografi jurnalisme adalah upaya mendokumentasikan peristiwa faktual secara akurat, sekaligus menyampaikan informasi dan emosi secara visual.

“Kerja jurnalistik memang menulis. Tapi akan jauh lebih kuat bila penulis juga bisa memotret,” ujar Farid. Menurutnya, narasi tekstual akan lebih hidup bila disertai narasi visual. Foto memudahkan pembaca membayangkan peristiwa, sekaligus menjadi bukti visual yang otentik.

Farid mengingatkan bahwa foto bukan sekadar gambar, melainkan representasi realitas. Ia mengutip ungkapan klasik, a picture is worth a thousand words (sebuah gambar lebih bernilai ketimbang seribu kata-kata). Bahkan, dalam banyak kasus, foto itu sendiri sudah menjadi berita.

“Negara kita hanya punya satu foto saat Bung Karno membacakan Proklamasi Kemerdekaan dan pengibaran bendera merah putih pertama kali. Foto itu menjadi catatan sejarah yang sangat penting,” kata Farid, merujuk karya dua wartawan bersaudara, Alex dan Frans Mendur.

Dari situ, ia menegaskan betapa pentingnya kemampuan memotret bagi seorang wartawan.

Pesan Farid kepada peserta sederhana namun kuat: “Keep shooting.” Teruslah memotret apa saja, sebab dengan begitu kepekaan visual akan terasah. Kamera ponsel, menurutnya, bisa dimaksimalkan untuk menangkap momen-momen bermakna.

Mengubah Cara Pandang
Bagi peserta kelas menulis, sesi fotografi jurnalisme membawa perspektif baru. Satu di antaranya, hal tersebut mengemuka dari Trimah, perempuan difabel fisik, tanpa kedua lengan.

Ia mengaku kini lebih memahami bagaimana sebuah foto dapat bercerita melalui detail, terlebih bila didukung caption yang tepat.

“Foto itu sangat dibutuhkan untuk mendukung berita yang memang nyata adanya,” katanya. Ia juga menyoroti pentingnya bukti visual di tengah pembaca yang kian kritis.
Menurutnya, keberadaan foto menjadi penanda sebuah berita menjadi aktual dan dapat dipercaya.

Sementara, Akbar Ariantono Putro seorang tottaly blind (buta total), ia mengaku mendapat banyak pembelajaran teknis. Mulai dari kualitas cahaya, sudut pengambilan gambar, hingga momen terbaik memotret. Misalnya pagi dan sore hari. Dalam praktik menulis, fotografi membantunya menjadi lebih deskriptif.

“Saya juga harus lebih baik dari AI pembaca layar dalam menggambarkan sesuatu dengan tulisan,” ujarnya. Akbar optimistis, tunanetra dapat belajar fotografi dengan dukungan teknologi AI pada ponsel, meski tetap membutuhkan kolaborasi dengan orang awas agar hasil visual semakin maksimal.

Hangat dan Inklusif
Sore hari itu, seluruh peserta mengenakan kaos hitam dengan logo Perpsektif berwarna merah dan tulisan putih “Sekolah Jurnalisme Perspektif”. Identitas baru, bagi Sekolah Jurnalisme Perspektif. Suasana kelas terasa semakin kompak dan bersemangat.

Sesi berlangsung dinamis: pemaparan materi, diskusi, praktik langsung, hingga bedah foto. Peserta mempraktikkan pengaturan kecepatan rana, diafragma, sudut pengambilan gambar, serta memanfaatkan cahaya alami dan buatan. Suasana kelas pun menjadi objek dokumentasi para peserta, yang kemudian dibedah bersama.

Diskusi berlangsung hangat hingga malam tiba. “Biarkan foto yang bicara,” sebuah kutipan yang terus terngiang. Sebuah penegasan bahwa gambar yang baik mampu menyampaikan pesan tanpa perlu banyak kata.

Sekira pukul 21.00 WIB, diskusi pun diakhiri. Satu per satu peserta meninggalkan lokasi menggunakan transportasi ojek daring, demikian pula sang pemateri.

Di balik hujan, kelas hari itu meninggalkan jejak penting. Sebuah keyakinan, bahwa jurnalisme inklusif tak hanya ditulis, tetapi juga dilihat, dirasakan, dan direkam dengan kesadaran etis melalui lensa. (Harta Nining Wijaya)

BERITA TERKINI

al2
408 Orang Hadiri Peringatan Isra Mi'raj di MI Al Mujahadah Pagerandong
kalimanah3
Peringati Isra Mi’raj, SMPN 3 Kalimanah Perkuat Karakter Religius Peserta Didik
PRIYANTO2026
Isra Mi‘raj dan Pendidikan Karakter: Iman yang Menumbuhkan Keluhuran, Kreasi, dan Prestasi
audiensikeftunsoed1
BNNK Purbalingga Audiensi ke Kampus FT Unsoed
mini ranch1
"Mini Ranch Domba" Fapet Unsoed, Sarana Edukasi Sejak Dini Bagi Anak Sekolah