Kisah Perjuangan Difabel drg Romi Syofpa Ismael di RSUD Solok Selatan

Bagikan :

*Dari Kursi Roda dan Pernah Dibatalkan Setelah Lolos Seleksi CPNS

drg Romi Syofpa Ismael (berhijab, kiri), penyandang disabilitas yang kini bekerja sebagai dokter gigi di RSUD Solok Selatan, Sumatera Barat.

YOGYAKARTA. EDUKATOR –Dokter Gigi (drg) Romi Syofpa Ismael pernah berada di puncak harapan banyak pencari kerja. Ia lulus seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dengan peringkat pertama, namun justru dinyatakan tidak layak. Bukan karena kompetensinya, melainkan karena ia menggunakan kursi roda.

Dari sinilah, perjuangan Ami—sapaan akrabnya—untuk mendapatkan haknya dimulai. Sebuah perjuangan difabel melawan stigma yang masih berkembang di masyarakat, bahwa difabel tidak layak bekerja sebagai PNS atau bekerja di berbagai lapangan pekerjaan  manapun.

Ami menceritakan, pada tahun 2018, dirinya lolos CPNS dokter gigi, namun belakangan dibatalkan sepihak. “Saya dinyatakan tidak layak bekerja.Bukan karena saya tidak mampu menjadi dokter gigi, tetapi karena saya tidak bisa berjalan,” kenang Ami dalam diskusi daring bertajuk “Peluang Disabilitas dalam Rekrutmen ASN”, Minggu (28/12/2025).

Diskusi lewat Live TikTok yang diikuti para difabel dan masyarakat umum itu, diselenggarakan oleh Komunitas SCI (Spinal Cord Injury) United yang beranggotakan penyintas cedera saraf tulang belakang di Indonesia.

Rekaman acara diskusi, dapat disaksikan melalui https://www.youtube.com/watch?v=GnuU587hUhc

Bagi Ami, keputusan pembatalan seleksi CPNS tahun 2018 itu, menjadi potret nyata bagaimana disabilitas kerap lebih dipersoalkan daripada prestasi.

Melawan Melalui Jalur Hukum
Ami tidak menerima keputusan itu sebagai takdir. Ia memilih melawan melalui jalur hukum dan administratif. Surat demi surat ia kirimkan ke berbagai lembaga negara, dari kementerian hingga Presiden.

Ia mengumpulkan regulasi, menyusun argumen, dan menunjukkan bukti kompetensi profesionalnya. Baginya, yang diperjuangkan bukan perlakuan khusus, melainkan hak yang sama sebagai warga negara.

“Saya tidak meminta belas kasihan. Saya hanya ingin dinilai dari kemampuan saya sebagai dokter gigi,” ujarnya.

Berhasil
Perlawanan atau perjuangan Ami itu akhirnya berbuah hasil. Setahun kemudian, 2019, ia resmi dilantik sebagai Pegawai Negeri Sipil dan kini bertugas sebagai dokter gigi di RSUD Solok Selatan, Sumatera Barat.

Di ruang praktik, kursi roda tidak pernah menghalangi profesionalismenya. Ami bekerja dengan standar medis dan etika profesi yang sama seperti rekan sejawatnya.

“Pasien datang bukan untuk menilai cara saya berjalan.Mereka datang untuk mendapatkan perawatan,” katanya.

Namun di luar ruang kerja, Ami menyadari stigma masih kerap mendahului penilaian atas kemampuan.

“Kalau saya diam, orang lain bisa mengalami hal yang sama,” kata Ami.

Ia menyebut berbagi pengalaman sebagai tanggung jawab moral, agar penyandang disabilitas tidak ragu mengambil ruang yang dijamin negara.

Kini Fokus Pada Pengabdian
Kini, Ami memilih fokus pada pengabdian. Ia tidak lagi sibuk membuktikan diri, karena pekerjaannya telah berbicara setiap hari. Namun ia sadar perjuangan belum selesai.

“Disabilitas bukan lawan dari prestasi.Yang sering menjadi lawan justru cara pandang,” katanya.

Kisah drg. Romi Syofpa Ismael menjadi pengingat bahwa inklusi tidak cukup berhenti pada regulasi. Selama seleksi masih lebih sibuk menilai tubuh daripada kompetensi, dan aksesibilitas dianggap sebagai beban, perjuangan harus terus dilanjutkan.

Ami telah membuktikan dirinya mampu. Kini, yang diuji adalah kesiapan negara untuk benar-benar menghargai prestasi tanpa syarat fisik.(Harta Nining Wijaya)

 

 

BERITA TERKINI

audiensi2
Faperta Unsoed akan Reklamasi Tanah Tidak Produktif di Purbalingga
salut langgeng
Yuk, Kuliah di UT–Salut Langgeng Purbalingga
bnnk2
Seluruh Pegawai BNNK Purbalingga Jalani Pemeriksaan Tes Narkoba
persibangga1
Persibangga Menang Tipis Lawan PPSM Magelang
PRIYANTO10
Membaca Brainrot sebagai Gejala Pendidikan Digital:Sebuah Tinjauan Strategis