Laksmayshita Pimpin Gerkatin Yogyakarta Periode 2026-2031, Bawa Misi Kemandirian

Bagikan :

YOGYAKARTA, EDUKATOR –Laksmayshita Khanza Larasati Carita, S.Pd., terpilih sebagai Ketua DPC Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Kota Yogyakarta periode 2026–2031 setelah meraih 15 suara dalam Musyawarah Cabang (MUSCAB) II, Minggu (6/9/2026). Perempuan berusia 31 tahun itu kini membawa amanah  dengan misi memperkuat kemandirian, keberanian, dan pemberdayaan anggota.

MUSCAB II DPC Gerkatin Kota Yogyakarta berlangsung di ruang pertemuan lantai 2 Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta. Pemilihan dilakukan secara langsung dengan menuliskan nama kandidat pada potongan kertas yang kemudian dilinting.

Tiga nama menjadi kandidat dalam pemilihan tersebut, yakni Sru Hardono, Iwan selaku petahana, dan Laksmayshita. Hasil penghitungan menunjukkan Laksmayshita memperoleh 15 suara, sedangkan Sru Hardono dan Iwan masing-masing mendapatkan satu suara.

“Saya merasa dipercaya dan menjadi harapan anggota,” ujar Laksmayshita.

Laksmyshita  menilai kepercayaan yang diberikan anggota merupakan amanah yang harus dijaga. Kemenangan dalam MUSCAB II,  bukan sekadar keberhasilan memenangkan pemilihan, tetapi awal dari tanggung jawab untuk menjawab harapan anggota.

Amanah Besar Membangun Organisasi Berdaya
Laksmayshita juga menilai kepercayaan tersebut tidak terlepas dari dukungan anggota serta para ketua Gerkatin sebelumnya. Ia menduga sikap jujur, terbuka terhadap kerja sama, dan menghargai seluruh anggota menjadi bagian dari alasan dirinya mendapatkan kepercayaan.

Kini, tantangan sesungguhnya justru dimulai. Ia ingin DPC Gerkatin Kota Yogyakarta berkembang menjadi organisasi yang mampu mendorong anggotanya menjadi pribadi yang kuat, percaya diri, dan mandiri secara ekonomi.

Pemberdayaan anggota tidak ingin berhenti sebagai jargon. Laksmayshita menyiapkan sejumlah program konkret yang diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi anggota selama lima tahun kepemimpinannya.

Salah satunya adalah kelas tata bahasa Indonesia bagi anggota Gerkatin. Program tersebut dinilai penting agar anggota Tuli semakin mampu menerima, menyampaikan, dan menuliskan informasi secara baik dan benar.

Selain kemampuan berbahasa, Laksmayshita memberikan perhatian besar terhadap kemandirian ekonomi. Ia menyiapkan pelatihan melukis menggunakan berbagai media berbahan kain, seperti jilbab, kaos, baju, tas, hingga sepatu.

“Produk kain akan dilatih agar memiliki nilai jual,” katanya.

Karya yang dihasilkan tidak diarahkan hanya untuk dipamerkan. Produk tersebut diharapkan dapat dipasarkan sehingga keterampilan yang diperoleh anggota dapat berkembang menjadi peluang ekonomi.

Pelatihan melukis itu akan dilengkapi dengan pembelajaran digital marketing dan kelas keuangan digital. Dengan demikian, anggota tidak hanya memperoleh keterampilan membuat produk, tetapi juga memahami cara memasarkan dan mengelola hasil usahanya.

Laksmayshita melihat keterbatasan lapangan kerja bagi masyarakat Tuli masih menjadi persoalan mendesak. Karena itu, Gerkatin diharapkan menjadi ruang bagi anggota untuk belajar, berkarya, berusaha, dan membangun jejaring.

Gerkatin Akan Lebih Aktif di Ruang Publik
Pemberdayaan internal bukan satu-satunya agenda yang akan dijalankan Laksmayshita. Ia juga ingin Gerkatin lebih aktif hadir di tengah masyarakat.

Karya dan pengalaman anggota akan dibawa ke ruang publik sebagai bagian dari edukasi sekaligus advokasi. Menurutnya, masyarakat perlu mengetahui keberadaan, kemampuan, hak, serta kontribusi komunitas Tuli.

“Gerkatin harus lebih sering hadir di masyarakat,” ujarnya.

Melalui pendekatan tersebut, perjuangan kesetaraan diharapkan tidak berhenti pada upaya meminta masyarakat memahami Tuli. Masyarakat juga perlu mengenal kemampuan, hak, serta kontribusi komunitas Tuli dalam kehidupan sosial.

Edukasi publik akan menjadi bagian dari agenda kepemimpinannya. Gerkatin akan menyuarakan hak-hak Tuli, termasuk hak menggunakan bahasa isyarat dalam berkomunikasi dan hak memperoleh informasi yang aksesibel.

Akses tersebut dapat diwujudkan melalui ketersediaan juru bahasa isyarat maupun pemanfaatan media digital yang aksesibel. Sasaran edukasi meliputi pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat secara umum.

Pendataan Tuli Jadi Agenda Prioritas
Laksmayshita juga menyiapkan agenda pendataan masyarakat Tuli di Kota Yogyakarta secara lebih terstruktur. Data tersebut diharapkan mencakup nama dan alamat, gender, usia, pendidikan, hingga pekerjaan.

Menurutnya, ketersediaan data yang lebih terstruktur akan membantu organisasi menyusun program secara lebih tepat sasaran. Data juga dapat menjadi dasar dalam membangun kerja sama dan memperjuangkan kepentingan masyarakat Tuli.

Selain pendataan, ia berencana membuka kelas bahasa isyarat bagi masyarakat luas. Jejaring dengan lembaga, komunitas, organisasi, perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha juga akan diperkuat.

Untuk membuka peluang kerja sama dan pemberdayaan, audiensi dengan berbagai pihak akan menjadi salah satu langkah yang ditempuh dalam lima tahun mendatang.

Memimpin dengan Mendengarkan Aspirasi Anggota
Laksmayshita menyadari perjalanan lima tahun ke depan tidak akan selalu mudah. Salah satu tantangan yang harus dihadapi adalah persoalan pendanaan organisasi.

Untuk menjaga organisasi tetap berjalan bersama, ia memilih mengedepankan komunikasi dan keterbukaan. Setiap kegiatan maupun keputusan akan dikomunikasikan kepada anggota sebelum diberlakukan.

Kritik dan saran dari anggota tidak akan dipandang sebagai hambatan. Sebaliknya, masukan tersebut menjadi bagian dari proses belajar bersama.

“Kejujuran dan keterbukaan menjadi prinsip kepemimpinan,” tuturnya.

Ia juga ingin menjadi pemimpin yang mengayomi, memberikan solusi, dan bertanggung jawab. Menurutnya, seorang pemimpin tidak mungkin menyenangkan semua orang.

Karena itu, aspirasi seluruh anggota akan didengarkan dan dipertimbangkan sebagai dasar dalam menjalankan organisasi.

Teladan Kepemimpinan dari Sang Ibu
Di balik sosok Laksmayshita sebagai pemimpin muda Gerkatin, terdapat sosok ibu yang menjadi sumber inspirasinya. Ia menggambarkan sang ibu sebagai perempuan yang memberikan teladan tentang tanggung jawab, kepedulian, kemampuan mendengarkan, serta keberanian memberikan solusi.

Dari sosok tersebut, Laksmayshita belajar menjadi pribadi yang kuat dan berani menentukan pilihan. Ia juga belajar untuk berani menerima tanggung jawab atas keputusan yang diambil.

Nilai-nilai tersebut kemudian dibawa dalam kepemimpinannya di Gerkatin. Baginya, organisasi memang membutuhkan seseorang untuk memimpin, tetapi kepemimpinan bukan berarti berdiri di atas anggota.

Ketika sebagian besar anggota memberikan kepercayaan, mandat tersebut justru harus dijaga dengan sebaik-baiknya.

Lima Tahun untuk Membuktikan Amanah
Selama lima tahun kepemimpinannya, Laksmayshita ingin melihat anggota Gerkatin Kota Yogyakarta semakin mandiri melalui karya dan usaha.

Ia berharap anggota semakin menguasai digital marketing sesuai perkembangan zaman, memahami tata bahasa Indonesia dengan lebih baik, serta mampu menerima dan menyampaikan informasi secara efektif.

Penguatan jejaring dan kolaborasi juga akan menjadi perhatian. Di sisi lain, pendataan masyarakat Tuli serta pembelajaran bahasa isyarat bagi masyarakat luas diharapkan mampu meningkatkan kepedulian dan pemahaman publik.

Kepada anggota yang masih kurang percaya diri atau belum menemukan ruang untuk berkembang, Laksmayshita mengajak mereka membangun keberanian.

“Percaya diri menjadi modal menghadapi berbagai tantangan,” ujarnya.

Menurutnya, keberanian diperlukan untuk menerima tantangan, bersuara, dan bersikap. Namun, keberanian tersebut tetap harus dijalankan dengan etika serta memahami tatanan sosial.

Bagi Laksmayshita, jabatan Ketua DPC Gerkatin Kota Yogyakarta bukan sekadar posisi. Jabatan tersebut merupakan amanah yang harus dijaga bersama.

“Amanah ini harus dijaga demi kemajuan organisasi,” ujarnya.

Kini Laksmayshita memimpin DPC Gerkatin Kota Yogyakarta. Lima tahun ke depan menjadi masa pembuktian untuk mengubah kepercayaan tersebut menjadi program nyata. Yakni mewujudkan  kemandirian, keberanian, dan kesempatan yang lebih luas bagi komunitas Tuli untuk hadir dan berkiprah secara setara di Kota Yogyakarta.(Harta Nining Wijaya/Prs)

 

 

 

BERITA TERKINI

FULAD6
Rusia, Iran, dan Eropa: Tata Kelola Baru Stabilitas Global di Tengah Dinamika AS–Iran
6118319065530045247
Purbalingga Bidik "Triple Winner" Estafet Tunas Kelapa
WhatsApp Image 2026-08-27 at 07.28
Ayo Berwisata ke Owabong
WhatsApp Image 2026-08-27 at 07.18
Hotel Owabong Andalkan Paket Menginap dan Wisata Air
WhatsApp Image 2026-09-07 at 09.57
Alifa Bilqis Fadilah Raih Medali Emas "Olympia Indonesia Taekwondo Challenge" Piala KONI Pusat