Lipstik di Gerbang Sekolah, Antara Ekspresi Diri dan Pendidikan Disiplin

Bagikan :

Oleh:Ākhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari
Kabupaten Purbalingga

PAGI itu, saat mendapat giliran piket bersama beberapa rekan guru, tampak sejumlah siswi tidak langsung masuk ke halaman sekolah. Mereka berhenti sejenak di balik tembok gerbang, sibuk mengusap wajah dan bibir dengan tisu secara tergesa. Riasan yang sebelumnya tampak rapi perlahan dihapus. Mereka sadar sedang melanggar tata tertib sekolah: larangan menggunakan makeup.

Pemandangan seperti ini bukan lagi hal asing. Tren rias wajah di kalangan remaja semakin kuat. Jika dulu bedak tipis dianggap cukup, kini gaya yang lebih tegas dan ekspresif semakin umum dijumpai. Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting: apakah ini sekadar bentuk ekspresi diri, atau sudah mulai mengganggu fokus belajar?

Disiplin, Bukan Pengekangan
Di sekolah, aturan larangan makeup dibuat bukan untuk mengekang, melainkan untuk menegakkan kedisiplinan, kesederhanaan, dan menjaga fokus siswa pada kegiatan belajar.

Umumnya, yang dilarang adalah riasan dekoratif seperti lipstik mencolok, eyeshadow, eyeliner, dan perhiasan berlebihan. Sementara perawatan dasar seperti pelembap dan tabir surya tetap diperbolehkan karena berkaitan dengan kesehatan kulit. Namun di lapangan, tidak jarang terjadi salah tafsir antara makeup dan skincare.

Temuan penelitian Ajeng Ragil Sinta Dewi dan Antari Ayuning Arsi (2024) di sebuah SMA negeri di Kudus menunjukkan hal serupa. Sekolah telah menerapkan larangan makeup untuk menanamkan nilai disiplin, tetapi dalam praktiknya sebagian guru belum mampu membedakan produk makeup dan skincare.

Akibatnya, produk perawatan kulit pun kadang ikut disita karena dianggap pelanggaran. Penelitian itu juga menemukan bahwa pelanggaran aturan makeup tetap sering terjadi meski sudah ada pemeriksaan rutin dan sidak kelas.

Secara psikologis, fase remaja memang merupakan masa pencarian jati diri. Erik Erikson menyebutnya tahap identity versus role confusion—masa ketika remaja berusaha menjawab siapa dirinya dan bagaimana ia ingin dipersepsikan orang lain. Penampilan menjadi salah satu media ekspresi paling cepat terlihat.

Ditambah pengaruh media sosial dan figur publik, standar gaya orang dewasa mudah ditiru. Dalam teori Social Learning Albert Bandura, perilaku banyak dipelajari melalui pengamatan dan peniruan. Maka, keinginan berhias sering berkaitan dengan kebutuhan akan percaya diri dan penerimaan sosial.

Makeup sebagai Bahasa Percaya Diri
Penelitian yang sama juga menemukan empat makna utama penggunaan makeup di kalangan siswi: untuk mempercantik diri, meningkatkan rasa percaya diri, mencari penerimaan sosial, dan sebagai hobi atau kesenangan pribadi. Banyak siswi menyatakan merasa lebih siap berinteraksi ketika menggunakan riasan, meskipun tahu ada aturan sekolah yang melarangnya.

Di sisi sosiologis, fenomena ini dapat dibaca melalui teori kontrol sosial Travis Hirschi. Perilaku patuh atau melanggar aturan sangat dipengaruhi oleh ikatan sosial: keluarga, sekolah, dan teman sebaya.

Studi tersebut menegaskan bahwa pengaruh teman sebaya (peer group) sering kali lebih kuat daripada pengawasan keluarga dan sekolah dalam urusan penampilan. Jika lingkungan pertemanan menganggap makeup sebagai hal wajar, maka kecenderungan pelanggaran meningkat—terlebih jika sanksi yang diberikan ringan dan tidak konsisten.

Saat Penampilan Mulai Menggeser Konsentrasi
Namun persoalan muncul ketika perhatian pada penampilan mengambil porsi berlebihan di waktu belajar. Konsentrasi mental memiliki kapasitas terbatas. Jika energi psikologis terlalu tercurah pada tampilan luar selama jam sekolah—mengecek riasan, membandingkan diri, mencari pengakuan—fokus akademik bisa ikut terdampak. Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang latihan hidup.

Ia adalah miniatur masyarakat. Jika kehidupan diibaratkan lautan luas dengan gelombang tak terduga, sekolah adalah kolam latihan dengan batas terukur. Di sinilah siswa berlatih mematuhi aturan, mengelola diri, dan memahami konteks sosial sebelum terjun ke kehidupan yang lebih kompleks.

Aturan—termasuk larangan makeup—berfungsi melatih pengendalian diri dan kepatuhan pada kesepakatan bersama. Penelitian menunjukkan bahwa tujuan utama aturan ini bukan semata estetika, melainkan membentuk kesederhanaan, kesetaraan sosial, dan disiplin perilaku di lingkungan belajar.

Memahami Waktu dan Tempat yang Tepat
Lebih jauh, aturan juga mengajarkan bahwa setiap hal memiliki tempat dan waktu yang tepat. Berhias bukanlah hal buruk, tetapi penggunaannya perlu mempertimbangkan konteks. Situasi formal, kegiatan belajar, acara perayaan, dan kegiatan seni memiliki standar kepantasan berbeda. Kemampuan membaca situasi inilah yang perlu dilatih sejak remaja.

Karena itu, penegakan disiplin tidak seharusnya dilakukan dengan cara mempermalukan siswa. Pendekatan keras di depan umum justru berisiko menimbulkan penolakan dan merusak relasi guru–siswa. Penelitian lapangan juga menunjukkan bahwa teguran yang dialogis dan personal lebih efektif dibanding penyitaan dan hukuman simbolik semata.

Sekolah dapat memilih pendekatan yang lebih komunikatif dengan mengedepankan dialog daripada sekadar menjatuhkan vonis. Siswa juga perlu dibekali pemahaman bahwa harga diri tidak bergantung pada riasan, disertai penjelasan yang jelas mengenai perbedaan antara skincare dan makeup dekoratif serta penyediaan ruang ekspresi yang terarah seperti hari kreativitas atau pentas seni.

Di saat yang sama, kerja sama dengan orang tua penting diperkuat agar pesan tentang kerapian dan kepantasan berjalan selaras di rumah maupun di sekolah.

Mengarahkan, Bukan Mematahkan
Kegemaran remaja dalam berhias tidak perlu langsung dicap sebagai penyimpangan. Ia adalah bagian dari proses tumbuh. Tugas pendidik bukan mematahkan rasa percaya diri, melainkan mengarahkannya.

Dengan bimbingan yang proporsional dan berbasis pemahaman ilmiah, sekolah dapat tetap menjadi ruang belajar yang fokus sekaligus aman bagi remaja untuk berkembang menjadi pribadi yang percaya diri, disiplin, dan matang membaca situasi. (*)

 

BERITA TERKINI

galor2
SDN 2 Purbalingga Lor Borong Juara Pesta Siaga
dw1
Pancasan dan Panembangan Disiapkan Jadi Desa Wisata Unggulan
daop56
KAI Daop 5 Purwokerto Siapkan 170 Ribu Tiket Lebaran
Akhmad Fauzi1
Lipstik di Gerbang Sekolah, Antara Ekspresi Diri dan Pendidikan Disiplin
WhatsApp Image 2026-02-06 at 20.08
520 Relawan Dindikbud Kerja Bakti Massal di Serang