Mahasiswa STIE SBI Belajar “Civic Education Inklusif” di Sekolah Jurnalisme Perspektif

Bagikan :

Foto bersama mahasiswa dan pimpinan STIE SBI dengan Ketua, Fasilitator dan Peserta Sekolah Menulis Perspektif, Sabtu (24/1/2026). (Dok STIE SBI Yogyakarta/EDUKATOR)

YOGYAKARTA, EDUKATOR–Sebanyak 17 mahasiswa semester III Program Studi Akuntansi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Solusi Bisnis Indonesia (STIE SBI) Yogyakarta mengikuti praktik mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan (civic education) dengan terjun langsung ke Sekolah Jurnalisme Perspektif, Yogyakarta, Sabtu (24/1/2026).

Kegiatan ini memberi pengalaman nyata tentang peran masyarakat sipil dalam membangun literasi, kepercayaan diri, dan inklusivitas bagi penyandang difabel melalui jurnalisme.

Kunjungan akademik tersebut tidak sekadar observasi, melainkan pembelajaran kontekstual mengenai realitas sosial dan kemanusiaan. Sekolah Jurnalisme Perspektif dipilih karena konsistensinya membuka ruang belajar jurnalisme bagi difabel sebagai wujud praktik civic education di tingkat komunitas.

Ruang Belajar yang Menguatkan Kepercayaan Diri
Didampingi dosen sekaligus Ketua STIE SBI, Dr. Saifudin Zuhri, para mahasiswa berdialog langsung dengan peserta Sekolah Menulis Jurnalisme Perspektif yang memiliki latar belakang dan kebutuhan berbeda. Mereka menyaksikan bagaimana proses belajar literasi dijalani dengan tantangan masing-masing.

Ketua Perspektif Yogyakarta, Sri Hartaningsih, menegaskan bahwa kelas menulis tidak hanya berorientasi pada kemampuan teknis. “Menulis adalah keterampilan yang perlu diasah terus-menerus. Di sini kita belajar bersama dan saling menguatkan,” ujarnya.

Kelas menulis ini difasilitasi jurnalis senior Agoes Widhartono dan diikuti peserta difabel dari berbagai ragam, antara lain difabel fisik, tuli, mental, serta netra. Program ini telah memasuki seri kedua, setelah seri pertama berlangsung pada Desember 2024 hingga Mei 2025.

Testimoni Difabel, Pembelajaran Nyata Mahasiswa
Suasana kelas menjadi semakin hidup ketika para peserta difabel menyampaikan pengalaman personal mereka. Akbar Ariantono Putro, penyandang difabel netra, mengisahkan proses belajarnya dari tahap paling dasar hingga praktik liputan lapangan.

“Liputan lapangan memberi pengalaman dan rasa yang berbeda. Saya jadi lebih percaya diri untuk menulis di media,” ujar mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga itu.

Sementara itu, Trimah mengaku mengikuti kelas menulis untuk belajar menulis dengan baik dan benar meski sempat merasa ragu. “Karena saya suka menulis. Saya ingin belajar menulis,” katanya singkat.

Yanti, peserta difabel mental, berharap semangat mereka dapat menginspirasi mahasiswa. “Adik-adik harus bisa, karena kami juga bisa. Dengan menulis, kita meninggalkan sejarah,” ujarnya. Ia rutin datang ke kelas dengan diantar sang suami dari Wonosari ke Yogyakarta.

Peserta lain, Rini Rindawati dan Nenti Saptari, menilai kelas Perspektif membuka kembali minat membaca serta menjadi ruang belajar bersama, terutama bagi difabel perempuan yang minim akses literasi. Sementara Sru Hardoyo, satu-satunya peserta tuli, berbagi pengalaman praktik liputan untuk menghimpun data dan fakta.

Literasi sebagai Peran Masyarakat Sipil
Dr. Saifudin Zuhri mengajak mahasiswa memahami keberagaman sebagai realitas bangsa yang majemuk. Menurutnya, keterbatasan peran negara perlu dilengkapi oleh kreativitas warga. “Melalui literasi dan jurnalisme, Perspektif Yogyakarta memberi contoh nyata peran civil society,” ujarnya.

Agoes Widhartono menambahkan bahwa menulis bukan soal bakat, melainkan konsistensi dan komitmen belajar. “Difabel punya potensi besar. Stigma bahwa difabel tidak mampu menulis harus dipatahkan,” tegasnya.

Kelas jurnalisme Perspektif diselenggarakan secara gratis, dengan syarat utama keseriusan belajar. Setiap angkatan menutup proses pembelajaran dengan tugas liputan mendalam yang hasilnya dipublikasikan di media cetak maupun daring.

Menulis untuk Mencatat Sejarah
Di akhir kegiatan, Saifudin menegaskan pentingnya tradisi menulis sebagai upaya mencatat sejarah bangsa. “Kita kuat dalam tradisi tutur, tetapi lemah dalam tradisi menulis. Akibatnya, banyak sejarah hilang karena tidak ditulis,” ujarnya.

Kunjungan berakhir pukul 17.30 WIB dengan penyerahan kenang-kenangan dari STIE SBI kepada Perspektif Yogyakarta, pembacaan puisi oleh Akbar, dan foto bersama. Di ruang sederhana itu, menulis dipraktikkan sebagai hak dan sarana merawat nalar, sekaligus bukti bahwa literasi dapat menjadi milik semua, tanpa kecuali.(Harta Nining Wijaya)

 

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-02-03 at 17.21
IKAPERO Purbalingga Salurkan Bantuan di Lereng Gunung Slamet
WhatsApp Image 2026-02-03 at 16.53
Dr. Akhmad Rizqul Karim Kupas RPS Berbasis OBE Menggunakan GenAI
WhatsApp Image 2026-02-03 at 14.48
Jepang Butuh Tenaga Pertanian, Gaji Tembus Rp 25 Juta/Bulan
aston1
Aston Purwokerto Hadirkan "Ramadhan Culinary Festival"
Akhmad Fauzi1
Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Bisa Gagal, Jika Orang Tua Tak Tegas Soal HP