Mahasiswa STIE SBI Menghayati Keberagaman di GKJ Gondokusuman Yogya

Bagikan :

Usai mengikuti kebaktian, para mahasiswa STIE SBI berfoto di depan mimbar GKJ GK, bersama para pendeta dan pengurus gereja.

YOGYAKARTA, EDUKATOR–Pagi itu, Minggu (21/12/2025), suasana kebaktian di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Gondokusuman Yogyakarta, sedikit berbeda. Pendeta dan petugas ibadah mengenakan busana tradisional Jawa. Puji-pujian dilantunkan dalam Bahasa Jawa. Nuansa budaya terasa kental. Menyatu dengan ritus keagamaan yang telah dijalani gereja itu selama lebih satu abad. Kali ini, kebaktian berbahasa Jawa, dimulai pukul 09.00 WIB, dipimpin oleh Pendeta (Em) David Rubingan.

Di deretan kursi depan mimbar, duduk 25 mahasiswa Sekolah Tinggi Ekonomi Solusi Bisnis Indonesia (STIE SBI). Mayoritas dari mereka beragama Islam. Mengenakan busana bernuansa hitam. Mereka mengikuti prosesi ibadah dengan khidmat, sebagai pembelajar. Duduk takzim bersama lebih dari 400 jemaat, di dalam gedung gereja berkapasitas 800 orang.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari mata kuliah Pendidikan Agama dengan tema keberagaman beragama. Mahasiswa dikawal langsung oleh pimpinan kampus, Doktor Saifudin Zuhri, yang sejak awal berkomitmen menghadirkan pendidikan multikultural secara nyata.

“Kami tidak ingin toleransi hanya berhenti di teori, dihafalkan di ruang kuliah.  Kami ingin mahasiswa hadir dengan mata kepala, membawa tubuh, perasaan, dan pikirannya.” ujar Saifudin dalam dialog bersama mahasiswa dan pengelola gereja..

Menyaksikan langsung.

Ia menegaskan, pengalaman ini bukan sekadar kunjungan simbolik. Mahasiswa diminta menyerap, merasakan, dan kelak merefleksikan sendiri nilai yang mereka temui. Kampus tidak mendikte kesimpulan, melainkan membuka ruang pengalaman.

Ia juga menyampaikan rasa bahagia dan tersanjung atas sambutan yang diberikan GKJ Gondokusuman.

Mayoritas mahasiswa STIE SBI yang hadir pagi itu, adalah pemeluk agama Islam. Namun justru melalui perjumpaan inilah, Saifudin Zuhri menginginkan, agar mahasiswa menyentuh langsung pengalaman berjumpa dengan saudara sebangsa yang memeluk agama lain. Hari itu, mereka menyaksikan umat Kristen beribadah, yang kebetulan menggunakan bahasa Jawa. “Ini saudara kita sebangsa,” katanya.

“Mestinya ajaran kasih dipraktikkan seperti ini.” Ia berencana membawa mahasiswa mengunjungi berbagai tempat ibadah agama lain, demi nilai multikulturalisme tumbuh melalui penghayatan langsung.

“Selama ini mungkin kebersamaan dan toleransi hanya dikenal di teori,” lanjutnya. “Sekarang rasakan langsung betapa indahnya sebuah keragaman.” Kunjungan ini akan ditindaklanjuti sebagai bagian dari tugas perkuliahan. Mahasiswa dipersilakan mengambil insight masing-masing, tanpa didikte kesimpulan apa pun. Nilai itu diharapkan tumbuh di hati nurani, pikiran, dan perasaan mereka sendiri.

Dalam Lintasan Sejarah
Dalam sesi dialog di aula gereja, Pendeta Siswadi menjelaskan, bahwa GKJ Gondokusuman berdiri sejak 23 November 1913 dan kini telah berusia 112 tahun. Gereja ini berakar pada tradisi Jawa. Meski dalam perjalanan sejarahnya tidak selalu ramah terhadap budaya lokal.

Ia mengisahkan bagaimana pada masa awal penyebaran Kristen di Jawa, orang Kristen Jawa kerap dipaksa meninggalkan budayanya oleh misionaris Belanda. Dari pengalaman itulah muncul ungkapan “Londo wurung, Jowo tanggung.” Kesadaran akan kehilangan tersebut mendorong GKJ, sejak 1990-an, untuk kembali merangkul warisan budaya leluhur.

“Kami tidak anti budaya Jawa,” tegas Siswadi. Di GKJ Gondokusuman, ibadah kerap diiringi gamelan. Bahkan pelatihnya seorang muslim. Anak-anak sekolah minggu berlatih angklung dengan pelatih perempuan yang mengenakan jilbab. Gereja juga membuka komisi beasiswa bagi anak-anak dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi. Tidak terbatas bagi anggota gereja saja, tetapi juga warga sekitar.

Menurut Pendeta Siswadi, dalam setiap perayaan undhuh-undhuh yang digelar bersama Kelurahan Klitren sejak 2019, menjadi contoh nyata bagaimana gereja hadir sebagai bagian dari komunitas sosial, melibatkan pedagang, warga, dan sumber daya lokal dalam satu perayaan bersama.

Di bagian lain, Ketua Komisi Adiyuswa GKJ Gondokusuman, Doktor Fonali Lahagu, menambahkan, upaya menghidupkan kembali ibadah berbahasa Jawa terus dikembangkan.

Sejak 2023, nuansa Jawa diperkuat melalui busana, paduan suara, kerawitan, macapat, hingga fragmen seni. Jumlah jemaat yng mengikuti ibadah berbahasa Jawa pun meningkat. Generasi muda mulai kembali akrab dengan bahasa serta filosofi Jawa.

Refleksi
Seorang mahasiswa, Dimas Farhan Herwitra, katakan, ia membawa pulang pengalaman yang tidak ditemukan di buku ajar mana pun. Sebagai seorang muslim, memasuki gereja untuk pertama kali bukan perkara sederhana. Ada ragu, ada canggung, ada bayangan-bayangan yang selama ini hidup di kepala. Namun semua itu luruh begitu ia melangkah masuk dan disambut dengan keramahtamahan. “Ada rasa lega,” katanya pelan. “Saya merasa diterima.”

Baginya, belajar di ruang seperti itu menghadirkan makna lain sebuah pendidikan. Bukan sekadar memahami konsep toleransi. Tetapi mengalami secara langsung. Melihat, merasakan, dan berjumpa. Apa yang selama ini hanya menjadi teori di ruang kelas, menjelma menjadi pengalaman yang hidup.

Ia tidak mengatakan bahwa pandangannya tentang pendidikan formal berubah. Tetapi ada sesuatu yang bertambah: cara memandang gereja, orang-orang di dalamnya, dan cinta kasih yang hadir tanpa syarat. “Yang paling berkesan, saya menyadari bahwa gereja bukan tempat yang menakutkan. Gereja adalah tempat yang nyaman, dengan jemaat yang terbuka dan penuh cinta kasih,” tuturnya.

Di titik itulah pembelajaran menemukan bentuknya yang paling utuh. Ketika toleransi tidak lagi didefinisikan, melainkan dipraktikkan. Ketika keberagaman tidak hanya dibicarakan, tetapi dihidupi. Dan ketika pendidikan benar-benar menghadirkan manusia dengan tubuhnya, perasaannya, dan keberaniannya untuk saling menyapa. (Harta Nining Wijaya)

 

BERITA TERKINI

audiensi2
Faperta Unsoed akan Reklamasi Tanah Tidak Produktif di Purbalingga
salut langgeng
Yuk, Kuliah di UT–Salut Langgeng Purbalingga
bnnk2
Seluruh Pegawai BNNK Purbalingga Jalani Pemeriksaan Tes Narkoba
persibangga1
Persibangga Menang Tipis Lawan PPSM Magelang
PRIYANTO10
Membaca Brainrot sebagai Gejala Pendidikan Digital:Sebuah Tinjauan Strategis