
Mahasiswa Telkom UNiversity Purwokerto bersama para perajin gula kelapa di Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas.
BANYUMAS, EDUKATOR–Para perajin gula kelapa di Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas kini bisa tersenyum lega. Proses pengayakan gula kelapa yang selama ini memakan waktu hingga dua jam untuk 10 kilogram gula, kini dapat dilakukan lebih cepat dan efisien hanya dalam beberapa menit. Itu berkat SOLVIA,mesin pengayak gula kelapa otomatis berbasis energi surya dan Internet of Things (IoT) yang dikembangkan mahasiswa Telkom University Purwokerto dalam program Innovillage 2025.
Ketua tim mahasiswa, Farhat Huda menjelaskan, inovasi ini lahir dari kebutuhan nyata para penajin gula kelapa setempat. “Setelah sebelumnya kami mengembangkan platform digital CocoBase untuk pencatatan produksi dan distribusi, kami menemukan kendala terbesar berikutnya ada di proses pascapanen, khususnya pengayakan yang masih dilakukan manual,” ujarnya di kampus Telkom University, Purwokerto, Senin (2/3/2026).
Mahasiswa Telkom University Purwokerto dan para perajin gule kelapa menunjukkan Solvia, mesin pengayak gula kelapa yang bekerja cepat dan efisien.
Selama ini, proses pengayakan 10 kilogram gula kelapa membutuhkan waktu 1–2 jam. Selain memakan waktu, pekerjaan tersebut juga menguras tenaga, terutama bagi perempuan yang menjadi pengolah utama.
Ketua Kelompok Tani, Sikko Ferianto, mengungkapkan proses manual membuat hasil ayakan kurang seragam sehingga memengaruhi kualitas dan harga jual. “Prosesnya lama dan melelahkan. Hasilnya juga kadang kurang seragam,” katanya.
Melihat persoalan itu, tim mahasiswa merancang SOLVIA sebagai mekanisasi sederhana yang mempercepat proses sekaligus menjaga kualitas produk. Mesin ini menggunakan sistem getaran dengan saringan bertingkat untuk menghasilkan butiran gula yang lebih seragam.
Proses pengayakan gula kelapa dengan Solvia
Energi Surya dan IoT Terintegrasi
SOLVIA memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi sehingga tidak membebani listrik rumah tangga. Alat ini juga dilengkapi sensor berat (load cell) serta modul IoT berbasis ESP32 yang terintegrasi dengan platform CocoBase. Dengan sistem tersebut, kelompok tani dapat memantau jumlah produksi dan durasi penggunaan alat secara real-time.
Hasil uji coba awal menunjukkan waktu pengayakan yang sebelumnya berjam-jam dapat dipangkas menjadi hitungan menit untuk kapasitas yang sama. Tingkat keseragaman produk pun meningkat sehingga kualitas gula lebih stabil di pasaran.
Ketua Kelompok Tani Gendis Asri, Rian, menyambut baik inovasi tersebut. “Kalau ada alat seperti ini tentu sangat membantu, apalagi tidak bergantung pada listrik rumah tangga,” ujarnya.
Menuju Desa Mandiri Energi
Selain menghadirkan teknologi, tim mahasiswa juga memberikan pelatihan pengoperasian dan perawatan alat kepada anggota kelompok tani agar dapat digunakan secara mandiri dan berkelanjutan.
Dosen pembimbing, Aiza Yudha Pratama, S.T., M.Sc., berharap inovasi ini dapat direplikasi di desa penghasil gula kelapa lainnya di Banyumas. “Harapannya, apa yang dibangun di Pernasidi bisa menjadi model yang bisa ditiru di desa lain,” katanya.
Melalui integrasi mekanisasi, energi terbarukan, dan digitalisasi, SOLVIA diharapkan menjadi langkah nyata menuju desa mandiri energi sekaligus memperkuat ekonomi berbasis potensi lokal.(Prasetiyo)