
Oleh: Priyanto, M.Pd.I
Kepala SMP N 3 Kutasari
Litbang MKKS SMP Kabupaten Purbalingga
ISTILAH brainrot awalnya populer sebagai gurauan di media sosial untuk menggambarkan kondisi “otak lelah” akibat terlalu banyak mengonsumsi konten digital yang singkat, repetitif, dan dangkal.
Namun, jika dibaca secara lebih serius, brainrot sesungguhnya merupakan gejala penting dalam lanskap pendidikan digital kontemporer. Ia mencerminkan perubahan cara generasi muda memusatkan perhatian, memproses informasi, dan membangun pemahaman di tengah dominasi teknologi berbasis algoritma.
Dalam kajian psikologi kognitif dan pendidikan digital, fenomena ini berkaitan dengan menurunnya daya atensi, melemahnya kemampuan berpikir mendalam, serta kecenderungan belajar secara instan. Siswa tumbuh dalam lingkungan yang kaya stimulus visual dan audio, tetapi miskin ruang refleksi. Pendidikan pun berada di persimpangan penting: apakah akan sepenuhnya menyesuaikan diri dengan logika kecepatan digital, atau justru memperkuat kembali fungsi dasarnya sebagai ruang pembentukan nalar.
Brainrot sebagai Gejala Sistemik Pendidikan Digital
Penting untuk dipahami bahwa brainrot bukanlah persoalan individual semata. Ia bukan sekadar soal disiplin belajar atau lemahnya motivasi siswa, melainkan gejala sistemik dari ekosistem digital yang beroperasi berdasarkan ekonomi atensi. Platform digital dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna melalui konten yang cepat, emosional, dan terus berganti.
Dalam konteks pendidikan, dampak dari sistem ini mulai terasa nyata. Guru menghadapi siswa yang mudah terdistraksi, kurang sabar membaca teks panjang, serta cenderung menginginkan hasil instan tanpa proses berpikir yang memadai. Situasi ini sering kali disalahartikan sebagai kemalasan, padahal sesungguhnya merupakan konsekuensi dari lingkungan belajar yang telah berubah secara radikal.
Teori belajar menunjukkan bahwa pembelajaran bermakna menuntut keterlibatan kognitif tingkat tinggi—analisis, sintesis, dan refleksi. Namun, paparan konten digital yang fragmentaris berpotensi melatih pola surface learning, yakni belajar di permukaan tanpa pemahaman mendalam. Ketika pola ini menjadi kebiasaan, aktivitas berpikir kompleks terasa berat dan membosankan.
Sekolah sebagai Ruang Rekonstruksi Nalar
Dalam situasi demikian, sekolah perlu diposisikan kembali secara strategis. Pendidikan tidak boleh sekadar mengikuti selera algoritma agar terlihat relevan dan menarik. Jika itu terjadi, sekolah berisiko kehilangan perannya sebagai institusi pembentuk nalar dan karakter.
Justru di tengah arus digital yang serba cepat, sekolah perlu menjadi ruang perlambatan—tempat siswa diajak berpikir secara sabar, runtut, dan reflektif. Membaca mendalam, berdiskusi secara argumentatif, serta menulis refleksi bukanlah praktik usang, melainkan kebutuhan mendesak di era digital.
Pendekatan deep learning menegaskan pentingnya pemahaman konseptual dan kemampuan mentransfer pengetahuan ke konteks baru. Dalam menghadapi brainrot, pendekatan ini menjadi semakin relevan. Proses belajar harus dirancang untuk menantang siswa keluar dari pola konsumsi instan menuju pengalaman belajar yang bermakna.
Di sisi lain, pendidikan juga perlu menggeser posisi siswa dari konsumen pasif menjadi subjek pembelajar aktif. Model pembelajaran berbasis proyek, riset sederhana, dan pemecahan masalah kontekstual memungkinkan teknologi digunakan secara produktif. Dengan cara ini, gawai tidak lagi menjadi sumber brainrot, melainkan alat untuk membangun literasi, kreativitas, dan kolaborasi.
Literasi Digital dan Tanggung Jawab Bersama
Literasi digital dalam pendidikan tidak cukup dimaknai sebagai keterampilan teknis mengoperasikan perangkat. Ia harus dipahami sebagai kesadaran etis dan reflektif terhadap cara informasi diproduksi, disebarkan, dan dimanipulasi. Siswa perlu memahami bahwa algoritma tidak netral, melainkan bekerja berdasarkan kepentingan ekonomi dan logika keterlibatan.
Peran guru menjadi sangat strategis sebagai pembimbing nalar. Keteladanan guru dalam berpikir mendalam, berdiskusi sehat, dan menggunakan teknologi secara proporsional merupakan kurikulum tersembunyi yang dampaknya sangat kuat.
Pendidikan tidak hanya diajarkan, tetapi juga dicontohkan. Namun, sekolah tidak bisa bekerja sendirian. Berbagai kajian pendidikan keluarga menunjukkan bahwa pola penggunaan gawai di rumah sangat memengaruhi daya fokus dan kebiasaan belajar anak. Karena itu, keluarga perlu dilibatkan sebagai bagian dari ekosistem literasi digital yang sehat.
Di tingkat kebijakan, negara perlu melihat brainrot sebagai sinyal peringatan. Digitalisasi pendidikan tidak boleh berhenti pada penyediaan perangkat dan platform, tetapi harus disertai penguatan kapasitas guru, kurikulum literasi digital kritis, serta regulasi yang berpihak pada kepentingan pendidikan jangka panjang.
Membaca brainrot sebagai gejala pendidikan digital membantu kita keluar dari reaksi instan dan menyederhanakan masalah. Pendidikan tidak sedang berhadapan dengan teknologi sebagai musuh, melainkan dengan tantangan bagaimana teknologi membentuk cara berpikir manusia.
Di tengah arus digital yang kian cepat, pendidikan harus tetap menjadi kompas nalar—menjaga kedalaman berpikir, ketajaman refleksi, dan arah peradaban. (*)