Menegur Tanpa Mempermalukan

Bagikan :

Oleh:Ākhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Guru SMP Negeri 2 Kutasari
Kabupaten Purbalingga

SUATU pagi saat ujian berlangsung, ruang kelas terasa begitu hening. Hanya terdengar bunyi kertas dibalik perlahan dan gesekan pensil di atas lembar jawaban. Saya berdiri di depan kelas sebagai pengawas.

Tiba-tiba, dari sudut mata tampak gerakan kecil. Seorang siswa menunduk terlalu lama, tangannya bergerak pelan di bawah meja. Refleks pertama yang hampir muncul adalah teguran keras. Namun saya menahan diri.

Saya memilih berjalan mendekat. Berdiri di sampingnya beberapa detik—tanpa suara, tanpa amarah. Hanya kontak mata singkat dan bisikan pelan,

“Kerjakan sesuai kemampuanmu.”

Ia terdiam, lalu kembali menulis.

Peristiwa kecil itu mengajarkan satu hal penting: menegur tidak selalu harus mempermalukan.

Menyontek: Masalah Lama, Wajah Baru
Fenomena menyontek bukan cerita baru dalam dunia pendidikan. Sejak dulu, ruang ujian sering menjadi arena tarik-menarik antara kejujuran dan kecemasan.

Bedanya, cara menyontek kini semakin berkembang. Jika dahulu hanya secarik kertas kecil yang disembunyikan di lengan baju, hari ini teknologi menghadirkan akses informasi dalam genggaman. Modusnya berubah, tetapi akarnya sering kali sama: ketakutan dan tekanan.

Sebuah penelitian di SMP Negeri 1 Citeureup mencatat bahwa 75 persen peserta didik pernah menyontek saat ulangan. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah cermin budaya belajar yang perlu kita renungkan bersama.

Mengapa Anak Menyontek?
Alasan mereka beragam:
1.Takut gagal
2.Kurang percaya diri
3.Tertekan tuntutan nilai tinggi dari sekolah maupun orang tua

Dalam situasi seperti itu, nilai menjadi tujuan utama, sementara proses belajar kehilangan makna. Menyontek pun dianggap jalan pintas yang “rasional”.

Di titik inilah guru menghadapi dilema. Ketika mendapati siswa menyontek, respons spontan biasanya berupa teguran keras. Kita ingin memberi efek jera. Kita ingin menunjukkan bahwa tindakan itu salah.

Namun, pernahkah kita bertanya:
apakah cara itu benar-benar membentuk kejujuran?

Teguran Keras vs Kesadaran Diri
Teguran keras memang menghentikan perilaku saat itu juga. Kelas kembali tenang. Tetapi di dalam diri siswa mungkin tumbuh rasa malu, bahkan dendam kecil. Ia berhenti menyontek bukan karena sadar, melainkan karena takut dipermalukan.

Dan bisa jadi, pada kesempatan berikutnya, ia hanya akan lebih berhati-hati agar tidak tertangkap.

Jika pendidikan bertujuan membentuk karakter, maka pendekatan yang hanya mengandalkan rasa takut terasa kurang memadai.

Alternatif: Teguran Senyap
Pendekatan reflektif dalam layanan bimbingan kelompok menunjukkan hasil yang lebih menjanjikan. Metode sederhana yang mengajak siswa bertanya:

Apa yang terjadi?
Apa dampaknya?
Sikap apa yang seharusnya diambil?

Pendekatan ini tidak menghakimi, tetapi mengajak berpikir.
Prinsip serupa bisa diterapkan di ruang ujian melalui apa yang saya sebut sebagai “teguran senyap.” Teguran ini bukan berarti membiarkan pelanggaran. Ia tetap tegas, tetapi dilakukan tanpa mempermalukan.

Guru cukup:
1.Mendekat
2.Memberi isyarat non-verbal
3.Berbisik singkat

Kehadiran fisik yang tenang sering kali sudah cukup menjadi pesan bahwa tindakan tersebut terlihat dan tidak dapat diterima.

Menjaga Harga Diri, Menumbuhkan Integritas
Mengapa cara ini penting? Karena harga diri adalah bagian dari proses pendidikan. Anak yang dipermalukan di depan teman-temannya mungkin akan patuh, tetapi belum tentu tumbuh kesadarannya.

Sebaliknya, anak yang ditegur dengan tenang memiliki ruang untuk merefleksikan kesalahannya tanpa kehilangan martabat.

Pendidikan kita sering kali terlalu terfokus pada angka. Nilai tinggi dipuja, peringkat dirayakan. Namun jarang kita bertanya bagaimana nilai itu diperoleh. Jika prosesnya diwarnai ketidakjujuran, maka angka setinggi apa pun kehilangan makna.

Menyontek yang dibiarkan bisa berdampak panjang:
1.Menurunnya rasa percaya diri
2.Hilangnya kreativitas
3.Terbentuknya kebiasaan mencari jalan pintas

Kita tentu tidak ingin sekolah menjadi tempat tumbuhnya generasi yang cerdas secara kognitif, tetapi rapuh secara moral.

Karena itu, disiplin tetap penting. Aturan tetap harus ditegakkan. Namun cara menegakkan aturan menentukan arah pembentukan karakter.

Menegur tanpa mempermalukan bukan tanda kelemahan. Ia justru menunjukkan kedewasaan pedagogis. Guru tidak lagi sekadar berperan sebagai “polisi ujian”, melainkan sebagai pembimbing integritas.

Saya teringat kembali pada siswa pagi itu. Setelah ujian selesai, ia menghampiri saya dan berkata pelan,

“Pak, tadi saya hampir saja menyontek. Terima kasih sudah mengingatkan.”

Kalimat sederhana itu terasa lebih bermakna daripada seribu teguran keras.

Mungkin inilah esensi pendidikan yang sesungguhnya: bukan sekadar menghentikan kesalahan, tetapi menumbuhkan kesadaran. Sebab pada akhirnya, yang diingat siswa bukan hanya soal yang diujikan—melainkan bagaimana gurunya memperlakukan mereka ketika mereka berbuat salah. (*)

 

 

BERITA TERKINI

pri1
Dilema MBG Saat Ramadan, Strategi Sekolah Menjaga Murid Tetap Tuntas Berpuasa
libur sekolah1
Libur Lebaran 2026 Dimulai 16 Maret, Masuk Kembali 30 Maret
mgi1
Cynthia Andriani Suparman, Ibu Lima Anak yang Sukses Bersama MGI
DSC09954 (1)
BI Siapkan Rp 3,5 Triliun untuk Penukaran Uang, Layanan Jangkau Sampai Kampung Laut
sae1
Muhammad Syaifudin, Guru Fisika SMAN 1 Purbalingga Jalani Ujian Proposal Program Doktor di UAD