Oleh:Ākhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari
Kabupaten Purbalingga
DI SAAT minat baca masyarakat Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar, sebuah ilustrasi dalam video yang penulis tonton menghadirkan pemandangan yang menggugah: kerumunan orang di Tiongkok berlarian menuju sebuah gedung megah—perpustakaan. Pagi itu, matahari belum sepenuhnya tinggi, namun kursi-kursi telah terisi penuh oleh anak-anak muda yang datang dengan satu tujuan: belajar.
Tidak ada keramaian yang riuh, tidak ada hiruk-pikuk gawai yang mendominasi. Yang terdengar hanya lembaran buku yang dibalik, goresan pena di atas kertas, dan napas panjang dari mereka yang sedang berpikir keras. Di tengah kemajuan teknologi, mereka justru kembali pada sumber pengetahuan paling klasik: buku.
Perpustakaan
Bagi mereka, satu kursi perpustakaan bukan sekadar tempat duduk, melainkan simbol harapan—sebuah “tiket” untuk mengubah nasib. Dalam realitas persaingan yang ketat, mereka memahami bahwa tidak semua orang memiliki privilese berupa koneksi atau “orang dalam”. Namun, semua orang memiliki akses terhadap waktu dan kesempatan untuk belajar. Di ruang-ruang sunyi itulah mimpi-mimpi besar dirajut.
Ilustrasi ini menjadi cermin tajam bagi kita. Ketika sebagian generasi muda masih memandang membaca sebagai aktivitas yang membosankan, di belahan dunia lain membaca justru menjadi strategi bertahan dan berkembang. Pertanyaannya, sudahkah kita menghadirkan makna belajar yang sama kuatnya bagi para murid? Sudahkah membaca diposisikan bukan sebagai kewajiban, tetapi sebagai kebutuhan?
Pertanyaan tersebut semakin relevan di tengah derasnya arus digital.
Pada pembukaan Gerakan Santri Menulis di Pondok Pesantren Muhammadiyah Zaenab Masykur, Adiwerna, Kabupaten Tegal (8 Maret 2026), Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., menyampaikan pesan sederhana namun mengena: “Jangan biasakan hanya scroll-scroll saja.” Pesan ini bukan sekadar nasihat, melainkan refleksi atas realitas pendidikan kita hari ini.
Surface Reading
Banyak siswa kini terbiasa membaca secara sekilas—melihat judul, menggulir layar, lalu berpindah ke konten berikutnya. Pola ini dikenal sebagai surface reading, yaitu membaca cepat, dangkal, dan tidak mendalam, yang biasanya dipicu oleh kebiasaan digital seperti scrolling.
Akibatnya, siswa mengalami kesulitan memahami teks panjang, menganalisis isi, dan mengekspresikan gagasan secara runtut. Yang terjadi adalah pergeseran dari deep reading menuju surface reading.
Data internasional memperkuat kekhawatiran ini. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan kemampuan literasi membaca siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD. Ini menandakan bahwa persoalan literasi tidak cukup diselesaikan melalui kebijakan formal semata, tetapi membutuhkan perubahan budaya belajar secara menyeluruh.
Dalam kondisi ini, sekolah sering berada dalam posisi dilematis. Berbagai program literasi telah dijalankan, mulai dari membaca rutin hingga penugasan resensi buku. Namun, lingkungan di luar sekolah—terutama keluarga—sering kali belum mendukung. Padahal, dalam perspektif ekologi pendidikan, perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan terdekatnya.
Kebiasaan literasi tumbuh dari keseharian: melihat orang tua membaca, berdiskusi, dan menghargai pengetahuan. Sebaliknya, jika rumah didominasi penggunaan gawai tanpa kontrol, maka upaya sekolah akan kehilangan daya dorongnya. Dengan demikian, literasi bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi merupakan hasil dari ekosistem yang saling terhubung.
Di sisi lain, pendekatan literasi juga perlu ditinjau ulang. Dalam perspektif konstruktivisme, belajar adalah proses aktif membangun makna. Membaca tidak seharusnya menjadi aktivitas yang dipaksakan. Jika siswa membaca hanya untuk memenuhi tugas, maka yang terjadi bukanlah pemahaman, melainkan sekadar penyelesaian kewajiban.
Literasi sejatinya tidak hanya tentang membaca teks, tetapi juga membaca dunia. Ia harus mampu menghubungkan informasi dengan realitas kehidupan. Dari sinilah lahir literasi kritis—kemampuan memahami, mengevaluasi, dan mengkritisi informasi secara reflektif.
Kurikulum Merdeka sebenarnya telah membuka ruang besar untuk penguatan literasi yang lebih bermakna. Melalui pembelajaran berbasis projek dan diferensiasi, siswa didorong tidak hanya membaca, tetapi juga berdiskusi, mengaitkan dengan pengalaman nyata, hingga menghasilkan karya.
Namun, tantangan di lapangan masih nyata: budaya membaca belum tumbuh kuat, perpustakaan belum dimanfaatkan optimal, dan distraksi digital terus meningkat. Tanpa strategi yang tepat, program literasi berisiko menjadi sekadar simbol.
Literasi sebagai Kebutuhan
Padahal, penguatan literasi dapat dimulai dari langkah sederhana. Di sekolah, guru dapat membiasakan membaca sebelum pelajaran, mengadakan diskusi buku, serta memberi ruang publikasi bagi karya siswa. Di rumah, orang tua dapat menyediakan bahan bacaan, membatasi penggunaan gawai, dan membangun budaya dialog.
Pendekatan literasi harus bergeser: dari kewajiban menjadi kebutuhan, dari aktivitas membaca menjadi proses memahami.
Jangan Hanya Scrool
Pada akhirnya, pesan “jangan hanya scroll” adalah ajakan untuk kembali pada esensi literasi: berpikir mendalam, memahami secara kritis, dan mengekspresikan gagasan secara bermakna. Peradaban besar selalu dibangun oleh masyarakat yang membaca dan menulis. Jika generasi muda hanya menjadi konsumen informasi, maka yang hilang bukan hanya budaya literasi, tetapi juga kemampuan berpikir kritis.
Sekolah dapat menyalakan api literasi. Keluarga menjaga agar api itu tetap menyala. Dan dari ruang-ruang sunyi—dari kursi-kursi perpustakaan yang sederhana—akan lahir generasi yang tidak sekadar menggulir layar, tetapi mampu membaca dunia dan menuliskan maknanya.
Mulailah dari hal kecil: luangkan 10 menit setiap hari untuk membaca secara sungguh-sungguh. Dari sana, peradaban besar bertumbuh.(*)