Model PBL Tingkatkan Motivasi Siswa Belajar Senam Lantai Guling Depan

by -893 Views

Oleh: Afif Fadlulah, S.Pd
Guru SMK MA’ARIF NU Bobotsari
Kabupaten Purbalingga

PENDIDIKAN Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) tidak hanya tentang aktivitas fisik semata, tetapi juga melibatkan pembelajaran yang bermakna dan mendalam. Di Kelas X SMK Ma’arif NU Bobotsari, penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berbasis Information and Communication Technology (ICT) dan Technological Pedagogic Content Knowledge (TPACK) telah membuktikan dampak positifnya dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada senam lantai guling depan. Kombinasi antara pendekatan PBL, pemanfaatan teknologi, dan pemahaman konten menjadi kunci untuk mencapai tujuan tersebut.

Menurut Savery & Duffy  (2017), PBL adalah pendekatan pembelajaran di mana siswa menghadapi masalah yang menantang dan membutuhkan solusi. Siswa bekerja dalam kelompok untuk merumuskan masalah, mengidentifikasi sumber daya yang diperlukan, dan menerapkan pemecahan masalah.

Howard Barrows (2019) mendefinisikan PBL sebagai metode pembelajaran di mana siswa belajar dengan menghadapi masalah yang kompleks, kontroversial, dan realistis. Mereka bekerja dalam kelompok untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang relevan dan mengembangkan pemahaman yang mendalam.

Adapun langkah-langkah pembelajaran model PBL Berbasis ICT dan TPACK dalam senam lantai guling depan. Pertama, guru memperkenalkan konteks senam lantai guling depan dan mengapa keterampilan ini penting dalam pembelajaran olahraga. Kedua, guru memperkenalkan "permasalahan" kepada siswa, seperti: "Bagaimana cara memperbaiki teknik senam lantai guling depan agar lebih presisi dan aman?"

Ketiga, siswa melakukan penyelidikan awal menggunakan sumber daya digital dan bahan referensi terkait teknik senam lantai guling depan. Keempat, siswa bekerja dalam kelompok untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi teknik senam lantai guling depan, baik dari aspek fisik maupun teknik. Kelima, kelompok siswa merumuskan solusi untuk meningkatkan teknik senam lantai guling depan, dengan mempertimbangkan informasi yang telah mereka kumpulkan.

Keenam, menggunakan teknologi, siswa membuat video atau presentasi yang menjelaskan perbaikan teknik senam lantai guling depan berdasarkan temuan mereka.

Ketujuh, setiap kelompok menyajikan hasilnya di depan kelas, dan guru memfasilitasi diskusi tentang metode perbaikan yang diajukan.

Kedelapan, siswa mencoba menerapkan teknik perbaikan yang mereka pelajari selama latihan senam lantai.

Kesembilan, guru memberikan umpan balik terkait peningkatan teknik dan memberikan dukungan dalam mengatasi kesulitan.

Kesepuluh adalalah siswa diajak merenung tentang proses pembelajaran, bagaimana pengetahuan TPACK (integrasi teknologi, pedagogi, dan konten) membantu mereka, dan bagaimana pembelajaran ini memotivasi mereka untuk berpartisipasi lebih aktif dalam pembelajaran PJOK.

Berdasarkan pemngamatan penulis, model PBL memiliki beberapa kelebihan. Diantaranya,  mendorong siswa untuk aktif berpartisipasi dalam memecahkan masalah nyata atau kompleks. Siswa tidak hanya mengingat fakta-fakta, tetapi juga harus memahami konsep secara lebih mendalam untuk mengidentifikasi solusi yang tepat.

Selain itu, dalam PBL, siswa harus melakukan analisis, evaluasi, dan sintesis informasi untuk memecahkan masalah. Ini merangsang pengembangan keterampilan berpikir kritis yang penting dalam pemecahan masalah dunia nyata.

Intinya, PBL merupakan pendekatan pembelajaran yang merangsang keterlibatan aktif, pengembangan keterampilan berpikir kritis, dan penerapan konsep dalam konteks dunia nyata. Dengan mengatasi pembelajaran pasif dan mendorong kolaborasi serta pemecahan masalah, model ini membantu siswa mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan dunia modern yang kompleks.

Dapat disimpulkan, bahwa model pembelajaran PBL berbasis Information and Communication Technology (ICT) dan Technological Pedagogic Content Knowledge (TPACK) telah berhasil mengoptimalkan motivasi belajar siswa pada senam lantai guling depan di Kelas X SMK MA’ARIF NU Bobotsari. Pendekatan ini memberikan siswa kesempatan untuk terlibat dalam pemecahan masalah nyata, memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu, dan mengintegrasikan pemahaman konten dalam pembelajaran. Dengan demikian, siswa tidak hanya mengembangkan keterampilan fisik, tetapi juga keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

No More Posts Available.

No more pages to load.