*Angkat Model K-HIMAD untuk Menjawab Krisis Sosial Kultural

Muhammad Syaifudin, S.Pd., M.Pd., guru Fisika SMA Negeri 1 Purbalingga saat mempresentasikan proposal disertasinya.(Foto:Istimewa/EDUKATOR)
YOGYAKARTA, EDUKATOR–Muhammad Syaifudin, S.Pd., M.Pd., guru Fisika SMA Negeri 1 Purbalingga, menjalani ujian proposal disertasi Program Doktor (S3) Program Studi Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Selasa (3/3/2026) dari pukul 13.00–15.00 WIB. Ujian berlangsung di Kampus II UAD Unit A Jalan Pramuka No. 42 Pandeyan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta.
Mahasiswa angkatan masuk Maret 2025 ini mempresentasikan riset berjudul “Integrasi Prinsip Fisika dan Nilai Qur’ani dalam Sosial Kultural Masyarakat melalui Model Kampung Hijrah Madani (K-HIMAD)” . Riset ini menawarkan pendekatan rasional-ilmiah sekaligus spiritual dalam menjawab krisis sosial kultural.
Betindak sebagai promotor dalam ujian tersebut, Prof. Dr. Sumaryati, M.Hum, dan Ko-Promotor Dr. Hendro Widodo, M.Pd. Sedangkan dosen penguji terdiri Prof. Dr. Ir. Dwi Sulisworo, M.T. dan Dr. Ika Maryani, M.Pd.

Dari kiri ke kanan: Dr. Ika Maryani, M.Pd, Prof. Dr. Sumaryati, M.Hum, M. Syaifudin, Dr. Hendro Widodo, M.Pd, dan Prof. Dr. Ir. Dwi Sulisworo, M.T. (Foto: Istimewa/EDUKATOR)
Berangkat dari Kegelisahan Akademik dan Empirik
Tampil penuh percaya diri, Muhammad Syaifudin–kelahiran Purbalingga, 30 Agustus 1977–dalam paparannya menegaskan, proposal disertasi ini lahir dari kegelisahan atas krisis nilai yang terjadi secara global maupun nasional.
“Krisis sosial hari ini tidak cukup dijawab dengan pendekatan normatif-religius semata. Diperlukan pendekatan rasional-ilmiah yang sistemik agar nilai-nilai itu membumi dalam struktur sosial,” ujarnya di hadapan dewan penguji.
Ia memaparkan, berbagai laporan global menunjukkan meningkatnya individualisme, melemahnya solidaritas sosial, dan hilangnya makna hidup di tengah arus modernitas. Pembangunan yang bertumpu pada aspek struktural dan ekonomi dinilai belum sepenuhnya menyentuh ketahanan moral masyarakat.
Di Indonesia, gejala tersebut tampak pada meningkatnya perilaku berisiko di kalangan generasi muda, lemahnya pendidikan karakter, hingga penyalahgunaan narkoba yang merambah wilayah pedesaan. “Artinya, krisis ini bukan hanya persoalan struktural, tetapi menyentuh dimensi nilai dan kesadaran sosial,” tegasnya.
Transformasi Karangsentul Jadi Kampung Santri
Penelitian kualitatif fenomenologi ini mengambil lokasi di Kelurahan Karangsentul, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga. Wilayah tersebut sempat mengalami krisis sosial pada awal 2000-an. Namun, melalui peran tokoh lokal, penguatan fungsi masjid, serta pendidikan Qur’ani berbasis komunitas, terjadi proses hijrah sosial secara bertahap.
Transformasi itu mencapai tonggak penting saat Karangsentul diresmikan sebagai Kampung Santri oleh Lurah Karangsentul, Nur Laela Hamdiyah, pada 25 Oktober 2025.
Model K-HIMAD
Menurut Syaifudin, perubahan organik tersebut menjadi dasar lahirnya Model Kampung Hijrah Madani (K-HIMAD). Model ini mengintegrasikan prinsip-prinsip fisika—seperti keteraturan sistem, keseimbangan, dan hukum sebab-akibat—dengan nilai-nilai Qur’ani dalam membangun masyarakat yang resilien. Yakni masyarakat yang tangguh, berdaya tahan dan memiliki ketahanan sosial.
“Fisika mengajarkan keteraturan dan keseimbangan. Nilai Qur’ani memberi arah moral. Ketika keduanya dipadukan dalam sistem sosial, akan lahir masyarakat yang lebih kokoh dan berdaya,” jelasnya.
Melalui ujian proposal tersebut, M Syaifudin berharap, Model K-HIMAD tidak berhenti sebagai kontribusi akademik di lingkungan kampus. Tetapi dapat direplikasi atau ditiru dan diterapkan sebagai pendekatan pembangunan sosial berbasis komunitas di berbagai daerah di Indonesia.. (Prasetiyo)