*Dihadiri 1.200 Peserta, Estafet Kepemimpinan Berlanjut

Prosesi Pembukaan Munas APTIKOM 2026 ditandai peluncuran anak panah oleh Ketua Umum APTIKOM (Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer) Prof. Dr. rer. nat. Achmad Benny Mutiara, S.Si., S.Kom bersama Rektor UAJY Dr.Greg. Sri Nurhartanto, dan Kepala Tekkomdik Sayuri Ega Ravanda.
YOGYAKARTA, EDUKATOR— Perguruan tinggi didorong tidak hanya menghasilkan riset dan publikasi ilmiah, tetapi juga menciptakan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Hal itu menjadi sorotan dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke-7 Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM) 2026 yang dibuka di Hotel Sahid Raya Yogyakarta, Kamis (8/10/2026) malam.
Forum itu diikuti 1.200 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, sekaligus menandai keberlanjutan kepemimpinan APTIKOM untuk periode 2026–2030.
Riset Harus Berdampak bagi Masyarakat
Munas tahun ini mengusung tema “Transformasi Pendidikan Tinggi Informatika, Kampus Berdampak, Hilirisasi Riset dan Sumber Daya Manusia Berdaya Saing”. Tema tersebut menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menjawab tantangan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI).
Pembukaan Munas ditandai dengan peluncuran anak panah secara simbolis oleh Ketua Umum APTIKOM periode 2022–2026, Prof. Dr. rer. nat. Achmad Benny Mutiara, S.Si., S.Kom., bersama Rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Dr. Greg. Sri Nurhartanto dan Kepala Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan DIY, Sayuri Ega Ravanda.
Dalam sambutan tertulis Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X yang dibacakan Sayuri Ega Ravanda, ditegaskan bahwa daya saing masa depan tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan manusia mengarahkan pemanfaatannya secara bijaksana.
“Daya saing masa depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menguasai teknologi, tetapi juga oleh kecakapan memberi arah terhadap penggunaannya,” demikian petikan sambutan Sri Sultan.
Menurut Sri Sultan, hasil penelitian perguruan tinggi tidak semestinya berhenti pada publikasi ilmiah. Riset perlu dikembangkan menjadi inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat, dunia industri, dan layanan publik untuk menyelesaikan berbagai persoalan nyata.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, pendidikan tinggi juga memiliki tanggung jawab menjaga kualitas manusia. Kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan kebijaksanaan dan tanggung jawab dalam penggunaannya.
Sri Sultan turut mengingatkan filosofi Jawa ngelmu iku kelakone kanthi laku, yang mengandung makna bahwa ilmu memperoleh arti ketika diwujudkan melalui tindakan nyata, manfaat, dan tanggung jawab.
Ia berharap Munas APTIKOM menghasilkan kesepakatan untuk memperkuat kolaborasi antarkampus serta mempertemukan hasil riset dengan kebutuhan masyarakat.
Memperkuat Jejaring Akademisi
Ketua Panitia Munas ke-7 APTIKOM 2026, Paulus Mudjihartono, mengatakan UAJY telah mempersiapkan diri selama sekitar dua tahun untuk menjadi tuan rumah. Persiapan tersebut dimulai sejak Rapat Kerja Nasional (Rakernas) APTIKOM di Medan pada 2024 hingga penetapan Yogyakarta sebagai lokasi Munas 2026.
Menurut Paulus, Yogyakarta dipilih bukan hanya karena daya tarik wisatanya, tetapi juga karena identitasnya sebagai kota budaya dan pendidikan. Karakter tersebut dinilai sejalan dengan semangat APTIKOM dalam mempertemukan perguruan tinggi informatika dan komputer dari berbagai wilayah Indonesia.
Untuk jumlah peserta, lanjutnya, diikuti 1.200 orang. Tujuh provinsi dengan jumlah peserta terbanyak meliputi Jawa Barat, DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, dan Sumatera Utara.
Panitia juga mencatat dukungan dari 32 perguruan tinggi, termasuk lima perguruan tinggi lokal Yogyakarta, serta delapan pihak industri.
Paulus berharap Munas tidak sekadar menghasilkan keputusan organisasi, tetapi juga memperkuat jejaring akademisi, peneliti, dan pengelola perguruan tinggi untuk bersama-sama memajukan pendidikan informatika dan komputer di Indonesia.
Estafet Kepemimpinan untuk Periode 2026–2030
Munas APTIKOM 2026 juga menjadi momentum pergantian kepemimpinan organisasi. Setelah periode 2022–2026, kepemimpinan APTIKOM berlanjut untuk periode 2026–2030 di bawah Ketua Umum Prof. Husni Teja Sukmana dan Sekretaris Jenderal Prof. Adiwijaya.
APTIKOM menyampaikan apresiasi kepada Prof. Achmad Benny Mutiara dan Prof. Husni Teja Sukmana atas pengabdian, dedikasi, serta kontribusi mereka dalam memajukan organisasi selama periode 2022–2026.
Pergantian kepemimpinan tersebut diharapkan menjadi landasan untuk memperkuat kolaborasi, mendorong pertumbuhan organisasi, serta meningkatkan dampak nyata perguruan tinggi informatika dan komputer bagi masyarakat.
Dengan kepemimpinan baru, APTIKOM diharapkan semakin mampu memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, industri, dan masyarakat, terutama dalam pengembangan riset, hilirisasi inovasi, serta peningkatan daya saing sumber daya manusia. (Prasetiyo)