Pembersihan Jenderal AS vs Soliditas Rantai Komando Iran

Bagikan :

Oleh: Mayor Jenderal TNI ( Purn ) Fulad, S.Sos, M.Si
Penasihat Militer RI untuk PBB (2017–2019)

SAYA membaca berita tentang pemecahan Kepala Staf Angkatan Darat Amerika Serikat, Jenderal Randy George, oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Tanggal 2 April 2026. Di tengah perang melawan Iran. Saya geleng-geleng kepala.

Bukan karena saya anti Amerika. Saya hanya tidak habis pikir. Di saat tentara sedang bertempur, di saat ultimatum sudah dilontarkan ke Iran, di saat ancaman serangan darat digembar-gemborkan, Washington malah sibuk membersihkan jenderalnya sendiri. Ini tidak masuk akal dalam naluri militer manapun.

Saya pernah bertugas sebagai Penasihat Militer RI untuk PBB. Saya duduk bersama perwira-perwira dari berbagai negara. Saya melihat sendiri bagaimana sistem kepemimpinan militer yang baik dan yang buruk.

Satu hal yang saya yakini: rantai komando tidak boleh terganggu di tengah operasi.! Apalagi di tengah perang.

Ketika seorang jenderal dipecat, apalagi dengan alasan “perbedaan visi” yang samar-samar, efeknya berantai. Perwira di bawahnya bingung. Prajurit kehilangan kepercayaan. Komandan baru butuh waktu untuk menyesuaikan. Di medan perang, waktu adalah nyawa.

AS sedang melakukan kesalahan klasik: mengutamakan loyalitas politik di atas kompetensi militer.

Saya tidak tahu persis apa visi Jenderal George yang tidak cocok dengan Hegseth. Tapi saya tahu satu hal: jika visi yang dimaksud adalah visi profesionalisme, maka yang salah adalah Hegseth, bukan George.

Sekarang lihat Iran
Mereka diancam perang. Dikepung sanksi. Dikultimatum habis-habisan oleh Trump. Tapi mereka tidak gentar. Bahkan mereka berani membalas ultimatum: negara-negara Teluk yang punya pangkalan AS harus mengusir pasukan AS, kata Iran.

Kenapa Iran Bisa Setegar Itu?
Menurut pengamatan saya, salah satu jawabannya ada di sistem meritokrasi. Mereka menempatkan perwira berdasarkan kemampuan, bukan karena dekat dengan siapa. Rantai komando mereka solid. Pimpinan politik dan pimpinan militer berjalan seirama. Tidak ada pembersihan besar-besaran di tengah badai.

Ini pelajaran berharga. Negara yang kalah teknologi bisa tetap kuat karena soliditas internalnya. Sebaliknya, negara dengan teknologi tercanggih sekalipun akan rapuh jika kepemimpinannya terpecah.

Saya tidak sedang memuji Iran. Saya hanya sedang membaca fakta

Dan sebagai orang Indonesia, sebagai mantan perwira TNI yang pernah mengemban tugas di PBB, saya merasa perlu menyampaikan satu hal yang mungkin tidak nyaman didengar.

Kita juga punya masalah serupa.

Saya tahu. Kita semua tahu. Masih ada praktik di tubuh TNI di mana seorang perwira tinggi mendapat promosi bukan karena prestasinya, tapi karena kedekatannya dengan pimpinan. Karena pertemanan. Karena satu golongan.

Ini bukan rahasia publik. Ini sudah jadi gunjingan di dalam dan di luar korps.

Dan saya khawatir. Jika praktik ini terus berlanjut, kita tidak perlu menunggu musuh dari luar. Kerapuhan dari dalam sudah cukup untuk menjatuhkan kita.

Lihat saja Amerika. Negara adidaya. Anggaran militer triliunan dolar. Teknologi perang paling canggih di dunia. Tapi lihat apa yang terjadi: satu pemecatan jenderal saja sudah cukup mengguncang rantai komando mereka di tengah perang.

Kita tidak ingin itu terjadi di sini, kan?

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin sudah bicara soal revitalisasi TNI. Saya setuju. Tapi revitalisasi tidak akan berarti apa-apa jika sistem promosi perwira masih menggunakan logika “siapa yang dekat dengan siapa”.

Reformasi harus dimulai dari sana. Transparan. Berbasis kompetensi. Mengutamakan rekam jejak, bukan relasi.

Saya tidak sedang menggurui. Saya hanya bicara sebagai seseorang yang pernah duduk di sistem dan melihat langsung bagaimana dampaknya. Meritokrasi itu bukan sekadar konsep. Ini kebutuhan.

AS sedang memberi kita pelajaran mahal.Iran juga memberi kita contoh alternatif.

Sekarang terserah kita. Mau belajar dari kesalahan orang, atau menunggu sampai kesalahan itu menimpa kita sendiri?

Salam dari alam yang indah Geopark Ciletuh

Sukabumi, 8 April 2026

BERITA TERKINI

fulad2
Israel dan Amerika Merobek Gencatan Senjata di Depan Mata Dunia
sma2
Bawaslu Sosialisasi Pengawasan Pemilu di SMAN 2 Purbalingga
pgri banyumas
Disiapkan 732 Formasi CASN, Tidak Ada PHK PPPK Guru di Banyumas
fulad2
Gencatan Senjata AS-Iran di Ambang Batal, Damai Palsu di Tengah Mayat Anak-anak Lebanon
TUKIJO1
Paradoks TKA, Belajar Nilai Tinggi tapi Gagap Paham