*Dari Mimbar Tarawih, Lahir Gerakan Sosial Ramadan

PURBALINGGA, EDUKATOR--Ramadan di Masjid Al Hidayah, Kelurahan Karangsentul, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga, Minggu malam (22/2/2026) , menjadi momentum kebangkitan generasi muda. Dari mimbar tarawih, semangat “Urip Iku Urup” atau hidup harus memberi cahaya dan manfaat digaungkan sebagai gerakan sosial berbasis masjid dan Karang Taruna.
Adalah Dede Riyanto, A.Md., pemuda Karang Taruna Karangsentul, yang tampil sebagai imam salat tarawih. Dengan bacaan fasih, tartil, dan penuh penghayatan, ia memimpin jamaah dalam suasana khusyuk. Dede tercatat sebagai pemuda pertama di Karangsentul yang berhasil menuntaskan Tasmi’ Juz 30.
Warga menilai momentum tersebut bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan simbol hijrah qolbiyah—transformasi kesadaran spiritual dan moral generasi muda dari dalam diri.
Spirit Kebermanfaatan Menggema
Kehangatan malam itu berlanjut melalui kultum yang disampaikan Ketua Karang Taruna Bina Muda Karangsentul, Briliyan Wisnu Aji, S.H. Dalam tausiyah bertema “Jadilah Manusia yang Bermanfaat”, ia mengajak jamaah merefleksikan makna keberadaan manusia di tengah masyarakat.
Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, “Khairunnas anfa’uhum linnas” (H.R. Ahmad), yang berarti sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
“Ukuran kemuliaan seseorang bukan pada jabatan atau popularitasnya, tetapi pada sejauh mana ia memberi manfaat bagi sesama,” ujarnya.
Briliyan juga mengingatkan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 7, “In ahsantum ahsantum li anfusikum” (Jika kamu berbuat baik, sesungguhnya kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri). Menurutnya, setiap kebaikan yang ditanam akan kembali kepada pelakunya sebagai investasi dunia sekaligus akhirat.
Ia turut mengutip falsafah Sunan Kalijaga, “Urip iku urup.” Sebuah filosofi Jawa yang menegaskan bahwa hidup harus menyala dan memberi cahaya bagi lingkungan sekitar.
Transformasi dari Akar Rumput
Fenomena di Kelurahan Karangsentul menunjukkan bahwa perubahan sosial tidak selalu lahir dari kebijakan besar, melainkan dapat tumbuh dari komunitas. Revitalisasi peran masjid dan Karang Taruna menjadi ruang internalisasi nilai, keteladanan, dan penguatan solidaritas sosial.
Warga menyebutnya sebagai hijrah ijtima’iyyah—revitalisasi relasi sosial—sekaligus hijrah madaniyyah, yakni pemberdayaan dan rekonstruksi tatanan sosial berbasis nilai.
Dari mimbar tarawih hingga ruang-ruang interaksi masyarakat, generasi muda Karangsentul kini tampil sebagai motor penggerak perubahan. Ramadan kali ini pun menjadi lebih dari sekadar ritual tahunan, melainkan momentum lahirnya generasi yang kuat secara spiritual, matang secara sosial, dan hadir membawa manfaat bagi sesama. (Muhammad Syaifudin/Prs)