Pentingnya Penguasaan Keterampilan Konseling Bagi Konselor

Bagikan :

Oleh: Henri Saputro, S.Pd.
Guru Bimbingan dan Konseling SMP Negeri 2 Kalibawang
Kulonprogo, DI Yogyakarta

KEPRIBADIAN tidak dapat dipahami secara terpisah dari latar sosial. Kepribadian manusia terbentuk melalui interaksi yang berlangsung dari hari ke hari—dengan sesama manusia, dengan berbagai peristiwa kehidupan, maupun melalui proses kontemplasi batin. Seseorang yang memiliki kehidupan sosial yang baik umumnya menunjukkan kemampuan emosional yang matang. Oleh karena itu, konseling yang efektif adalah konseling yang mampu membangun perilaku individu agar terintegrasi secara sosial.

Konseling tidak hanya bertujuan membuat konseli merasa lebih baik dalam waktu singkat, melainkan membantu mereka mereduksi tekanan emosional yang sebelumnya tidak menyenangkan. Konselor yang kreatif akan senantiasa mencari cara untuk menolong klien berubah, tidak hanya dalam perilaku, tetapi juga dalam pola pikir (mindset) saat menghadapi persoalan. Dengan perubahan tersebut, kemungkinan konseli mengulangi pola pikir dan perilaku yang berdampak negatif dapat diminimalkan.

Setelah kebebasan, pembangun kedua kepribadian adalah individualitas. Seseorang yang datang ke ruang konseling umumnya sedang mengalami persoalan pribadi. Kondisi ini kerap ditandai dengan ketidakmampuan mengindividuasi diri, seperti tidak menerima diri sendiri, tidak mampu mempertahankan identitas diri, atau justru berharap menjadi orang lain. Bahkan, individu dengan kehidupan yang tampak mapan sekalipun tidak luput dari gangguan emosional pada waktu-waktu tertentu.

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi persoalan hidup. Sebagian individu mampu menyelesaikan problem emosional secara mandiri karena tingkat adaptasi yang tinggi, meski kemampuan ini tidak dimiliki semua orang dan dipengaruhi pula oleh pola asuh orang tua.

Sebagian lainnya mengandalkan pasangan, keluarga, atau teman dekat—yang efektivitasnya sangat bergantung pada kualitas relasi dan kehangatan emosional. Namun, ada pula individu yang tidak memiliki siapa pun untuk berbagi, merasa sendiri, dan tidak percaya bahwa orang lain dapat menolongnya. Pada kelompok inilah peran konselor menjadi sangat penting.

Pada dasarnya, seseorang mendatangi layanan konseling untuk mencari bantuan dalam menyelesaikan problem yang mengganggu secara emosional, terutama ketika mereka merasa tidak mampu mengatasinya sendiri. Dengan bertemu konselor, konseli berharap dapat mengungkapkan persoalan yang selama ini mungkin tersembunyi, memperoleh solusi, dan mempersiapkan diri agar lebih siap menghadapi persoalan serupa di masa depan.

Konseling sebagai Seni Mengelola Emosi
Pemahaman inilah yang menjelaskan mengapa Rollo May, psikolog eksistensial Amerika Serikat, menyebut konseling sebagai sebuah seni—seni mengelola emosi dan memahami kepribadian. Rollo May mempelajari konseling secara otodidak karena keterbatasan literatur pada masanya dan kemudian menjadi pengajar di Michigan State University pada 1930, ketika pemikiran Freud, Jung, Adler, dan tokoh psikoterapi lainnya belum diajarkan secara luas di universitas Amerika.

Keterampilan Konseling sebagai Pengantar Perilaku Sosial
Konseling sejatinya bukanlah konsep baru. Sebelum dikenal secara formal, praktik ini lebih akrab dengan istilah “percakapan terapeutik”, yakni dialog mendalam antara dua individu dengan tujuan menemukan jalan keluar dari persoalan hidup.

Dalam pengalaman pribadi selama studi hingga menjalani profesi konselor, penulis mengakui pernah bekerja tanpa mengacu pada model atau teknik konseling tertentu. Proses konseling berlangsung berdasarkan intuisi semata, tanpa pedoman yang terstruktur. Akibatnya, konseling menjadi tidak terarah dan sulit diukur. Kondisi ini juga dialami oleh banyak konselor sekolah yang bekerja secara kasus per kasus tanpa integrasi model dan teknik yang jelas.

Melalui tulisan ini, penulis tidak hanya membahas konsep dasar konseling, tetapi juga berbagai keterampilan teknis yang dapat membantu meningkatkan kinerja konselor, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Hal ini menjadi penting di tengah tuntutan profesionalisme yang semakin tinggi dalam berbagai bidang kehidupan.

Dalam kehidupan, manusia dihadapkan pada dua kemungkinan dan satu kepastian: berhasil, gagal, dan tidak pernah sepenuhnya puas. Bahkan keberhasilan tidak selalu menjamin kepuasan batin. Dalam kondisi inilah konseling berperan menjaga asa dan harapan manusia agar tetap bermakna.

Kepribadian dapat dianalogikan sebagai poros kehidupan manusia, sebagaimana bumi berputar pada porosnya. Manusia yang sehat adalah manusia yang memiliki kepribadian utuh dan terhubung secara sosial. Minimnya interaksi sosial dapat menyebabkan cacat dalam struktur mental maupun kepribadian, menimbulkan perasaan kesepian, dan kehilangan eksistensi diri.

Lynn Wilcox, mengutip Hazrat Pir, mengemukakan dua pertanyaan eksistensial mendasar: bagaimana menjadi manusia yang sempurna, dan bagaimana membentuk masyarakat yang sempurna. Psikologi Barat, meski telah lama meneliti perilaku manusia, dinilai belum mampu menjawab pertanyaan ini secara mendalam. Konseling hadir untuk mengisi celah tersebut dengan membantu individu mencapai keutuhan kepribadian dan stabilitas emosional dalam jangka panjang.

Konseling yang berhasil bukan hanya menyelesaikan masalah sesaat, tetapi mengantarkan individu pada kebebasan berpikir dan bertindak secara bertanggung jawab. Kebebasan inilah prinsip dasar kepribadian manusia yang membedakannya dari makhluk hidup lainnya.

Kualifikasi Konselor
Tidak semua pemberi bantuan dapat disebut sebagai konselor. Profesi konselor menuntut kualifikasi khusus melalui pendidikan, pelatihan, dan penguasaan keterampilan konseling yang terukur. Namun, penguasaan teknik semata belum cukup menjadikan seseorang sebagai konselor profesional.

Abraham Maslow mengibaratkan konselor seperti tukang kayu. Tukang kayu ahli tidak hanya memiliki peralatan lengkap, tetapi juga intuisi untuk memilih alat yang tepat sesuai kebutuhan. Demikian pula konselor, yang harus mampu memadukan data psikologis, emosional, dan intuisi, serta memahami bahwa setiap masalah membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Kathryn Geldard menegaskan bahwa konselor harus memiliki pemahaman mendalam tentang psikologi, perkembangan manusia, dan proses perubahan. Di Inggris, praktik konseling diatur secara ketat oleh BACP, termasuk kewajiban supervisi dan pengembangan profesional berkelanjutan. Sementara di Indonesia, keterbatasan standar dan regulasi menyebabkan profesi konselor belum sepenuhnya dikenal dan dimanfaatkan secara optimal.

Oleh karena itu, diperlukan payung hukum yang jelas agar profesi konselor memiliki legalitas dan mampu memberikan layanan yang berkualitas, efektif, dan bertanggung jawab.(*)

BERITA TERKINI

gkj2
Kapolsek Kaligondang Ajak Jemaat GKJ Penaruban Jaga Kamtibmas
pwt
Yuk Buruan Daftar ! Purwokerto Half Marathon 2026 17 Mei Mendatang
IMG_20260307_204244_980
Sinergi Pemkab Purbalingga–OJK Kembangkan Keuangan Syariah
kai daop5
KAI Daop 5 Purwokerto Tawarkan Diskon Tiket Ramadan
MENDIKDASMEN1
Mendikdasmen Ajukan Tambahan Anggaran Rp 181 Triliun, Bukan untuk MBG