Perang yang Tak Terkendali, Guncangan Ekonomi, Kemarahan Rakyat AS, dan Jalan Buntu di Timur Tengah

Bagikan :

Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad, S.Sos, M.Si

Mahasiswa Program Doktoral di Unsoed Purwokerto, dengan minat kajian Geopolitik dan Keamanan Internasional. Pernah bertugas sebagai Perwira Tinggi Militer pada Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (Penmil PTRI PBB) di New York (2017—2019).

INI catatan dari pinggir kampung Selatan Kabupaten Kebumen, Jateng, tempat lahir saya. Kampung yang tenang dan masyarakat yang terus mengucap syukur atas anugerah Illahi, di sisi lain perang yang tak kunjung padam. Tulisan ini sebagai renungan bagi umat manusia di muka bumi, disatu sisi umat Islam sedang merayakan Idul Fitri, sementara yang sedang berperang bergumul dengan kepulan asap perang.

Tiga puluh hari sudah, sejak 28 Februari 2026, dunia menyaksikan babak baru konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Apa yang disebut sebagai “operasi pendahuluan” terhadap fasilitas nuklir Iran itu kini telah berubah menjadi pusaran yang tak terkendali.

Bukan hanya Timur Tengah yang terbakar. Ekonomi global ikut bergetar. Panggung politik Amerika berguncang. Dan perlawanan Iran-Israel memasuki jalan buntu yang tak kunjung menemukan titik terang.

Ini bukan lagi perang proksi. Ini adalah konfrontasi total yang menyeret seluruh dunia ke dalam ketidakpastian. Di saat kita di Indonesia baru saja menyelesaikan ibadah puasa dan merayakan Idul Fitri dengan penuh syukur, saudara-saudara kita di Gaza, Teheran, dan Tel Aviv justru merayakan hari raya mereka dengan suara sirine dan ledakan bom.

Guncangan Ekonomi dari Selat Hormuz
Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi Selat Hormuz setiap hari. Ketika konflik memanas, selat sempit itu berubah dari jalur perdagangan menjadi medan pertempuran.

Akibatnya, harga minyak melonjak. Tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah peringatan dari Fatih Birol, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA). Dalam pidatonya di Australia, Birol menyatakan bahwa ekonomi global menghadapi ancaman besar akibat agresi militer AS-Israel terhadap Iran. Dampaknya, katanya, lebih buruk daripada krisis minyak tahun 1970-an dan Perang Ukraina.

Lebih dari 40 pusat fasilitas energi di 9 negara mengalami kerusakan parah. Arteri vital ekonomi global petrokimia, pupuk kimia, hingga perdagangan belerang dan helium telah terganggu. Menteri Ekonomi Prancis, Roland Lescure, bahkan menyebut ini sebagai “guncangan minyak baru”.

Di tengah guncangan itu, Pentagon justru menyodorkan tagihan tambahan kepada Kongres sebesar lebih dari 200 miliar dolar AS setara Rp3.394 triliun. Dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengisyaratkan jumlah itu masih bisa membengkak.

Ironisnya, kebutuhan dana sebesar itu muncul di saat publik Amerika sendiri menuntut pemulihan ekonomi dan penanganan inflasi. Sementara itu, di negara-negara berkembang seperti Indonesia, kita ikut merasakan getarannya: harga kebutuhan pokok yang sempat melambung tinggi di bulan Ramadan, sebagian tak lepas dari guncangan ekonomi global akibat konflik ini.

Kemarahan Publik yang Menggerogoti Trump
Jika perang ini dimaksudkan untuk memperkuat posisi Donald Trump di dalam negeri, kenyataan berkata sebaliknya. Survei Fox News yang dirilis 25 Maret 2026 menunjukkan tingkat ketidaksetujuan terhadap Trump mencapai 59 persen tertinggi sepanjang kepemimpinannya. Survei Reuters bahkan mencatat angka lebih rendah lagi: hanya 36 persen warga AS yang puas dengan kinerja Trump. Penurunan ini terjadi dalam waktu singkat turun empat persen hanya dalam sepekan.

Apa penyebab utamanya? Survei tersebut dengan gamblang menyebutkan: lonjakan harga bahan bakar dan ketidaksetujuan luas terhadap perang yang dilancarkan terhadap Iran.

Istilah “perang bodoh” mulai menghiasi diskursus publik Amerika. Hanya 42 persen warga AS yang mendukung perang yang sedang berlangsung. Di kalangan pemilih independen, dukungan merosot hingga hanya 28 persen. Lebih dari 40 persen anggota Partai Republik sendiri menyatakan ketidakpuasan terhadap kinerja Trump dalam menangani biaya hidup. Angka itu meningkat dari 27 persen pada survei sebelumnya.

Bagi Trump yang tengah bersiap menghadapi panggung politik, perang berkepanjangan adalah bumerang yang siap meledakkan elektabilitasnya. Ini pelajaran penting bagi kita semua: bahwa rakyat di mana pun, pada akhirnya, akan menghukum pemimpin yang membawa mereka ke jurang perang tanpa kejelasan.

Jalan Buntu yang Diakui dari Dalam Israel
Yang paling mengejutkan datang dari mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak. Dalam wawancara dengan televisi Israel 13, Barak secara blak-blakan mengakui bahwa AS dan Israel telah mencapai kebuntuan dalam serangan mereka terhadap Iran.

“Jangan berbohong kepada kami lagi,” kata Barak. “Kita tidak bisa membuka Selat Hormuz, dan kita tidak bisa menghancurkan kekuatan nuklir dan rudal Iran.”

Ia memperingatkan bahwa kelanjutan perang dapat menyeret Tel Aviv ke “tahap kegagalan strategis”. Pengakuan ini sangat signifikan karena datang dari tokoh yang memahami secara mendalam dinamika militer dan politik Israel.

Sementara itu, upaya negosiasi juga terus mengalami kebuntuan. Iran menyatakan tidak mempercayai Amerika Serikat berdasarkan pengalaman sebelumnya.

Menurut laporan Axios, perundingan antara AS dan Iran telah dua kali gagal. Pada Juni tahun lalu, Israel menyerang Iran menjelang putaran pembicaraan. Pada Februari, AS dan Israel melancarkan operasi setelah tercapai kesepakatan awal terkait isu nuklir.

“Kami tidak ingin tertipu lagi,” kata seorang sumber kepada Axios.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa meskipun ada pertukaran pesan melalui perantara, itu bukanlah negosiasi. Presiden Trump bersikeras sebaliknya. Klaim Trump langsung dibantah oleh Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.

Di hari Idul Fitri ini, kita diajarkan bahwa maaf-memaafkan adalah jalan utama untuk memulai lembaran baru. Tapi di Timur Tengah, jalan itu terasa begitu jauh. Kepercayaan yang hancur, janji yang diingkari, dan darah yang terus mengalir membuat pintu perdamaian seolah terkunci rapat.

Di Persimpangan Jalan
Konflik ini tidak hanya melibatkan tiga aktor utama. Seluruh peta kekuatan global terbelah.

China, sebagai importir minyak terbesar dunia, mengambil posisi klasik diplomasinya: menyerukan de-eskalasi dan membuka diri sebagai mediator. Bagi Beijing, stabilitas lebih penting daripada kemenangan siapa pun.

Rusia melihat krisis ini sebagai ruang manuver. Setiap krisis yang menyibukkan AS di Timur Tengah berarti dua keuntungan: fokus Washington terhadap Eropa berkurang, dan harga energi dunia cenderung naik.

Arab Saudi menghadapi dilema klasik. Iran adalah rival strategis, tetapi perang besar juga berisiko menghancurkan stabilitas kawasan. Riyadh mengambil posisi sangat berhati-hati: mendukung tekanan terhadap Iran, tetapi tidak ingin wilayahnya berubah menjadi pangkalan perang terbuka.

Sementara itu, negara-negara seperti Indonesia terus bersuara untuk perdamaian. Namun suara kita seringkali tenggelam di tengah gemuruh senjata dan kepentingan ekonomi negara adidaya. Ini adalah realitas pahit yang harus kita akui: bahwa dunia masih diatur oleh logika kekuasaan, bukan logika kemanusiaan.

Ke Mana Arah Konflik Ini?
Tiga kemungkinan bisa dibaca. Pertama, perang besar kemungkinan tidak akan berubah menjadi invasi darat terhadap Iran. Negara itu terlalu besar dan terlalu kompleks untuk ditaklukkan dengan cepat.

Kedua, konflik kemungkinan meluas secara regional ke Lebanon, Suriah, Irak, bahkan Laut Merah namun tetap berada dalam batas yang berusaha dikendalikan oleh kekuatan besar.

Ketiga, kejutan terbesar justru bisa datang dari ekonomi. Jika Selat Hormuz benar-benar terganggu dalam jangka panjang, harga energi global dapat melonjak tajam dan memicu tekanan sosial di berbagai negara.

Sejarah selalu punya cara sederhana untuk mengingatkan manusia: siapa yang menguasai jalur energi, dialah yang memegang denyut dunia. Tapi sejarah juga mengajarkan bahwa tidak ada perang yang berakhir dengan kemenangan mutlak ketika semua pihak sudah terlalu dalam untuk mundur.

Dunia di Ujung Jalan Buntu
Tiga puluh hari setelah ledakan pertama di Teheran, dunia berada di ujung jalan buntu. Ekonomi global terancam resesi. Politik Amerika digerogoti kemarahan publik. Medan pertempuran Timur Tengah justru membelenggu para pelakunya sendiri.

Di hari yang fitri ini, dari desa kecil di Selatan Jawa Tengah, saya merenung. Suara dentuman perang yang tak juga reda . Di satu sisi, kami bersyukur bisa merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Di sisi lain, hati terenyuh membayangkan saudara-saudara kami di Gaza, di Teheran, di Tel Aviv, yang merayakan hari raya mereka dengan isak tangis di atas puing-puing rumah.

Idul Fitri mengajarkan kita untuk kembali pada fitrah: bahwa semua manusia lahir dalam keadaan suci dan merdeka. Namun di dunia yang terus dilanda konflik, fitrah kemanusiaan itu seolah terkikis oleh kebencian, ambisi kekuasaan, dan kepentingan ekonomi segelintir orang.

Di Washington, Beijing, Moskow, Riyadh, Teheran, dan Tel Aviv, para pemimpin dunia membaca peta yang sama tetapi membayangkan masa depan yang berbeda.

Sementara di desa-desa seperti tempat saya menulis ini, yang kami harapkan hanyalah kedamaian. Kedamaian yang memungkinkan anak-anak bermain tanpa takut bom.

Harapan Kedamaian
Kedamaian yang membuat harga pangan tak melambung akibat perang di seberang lautan. Kedamaian yang membuat Idul Fitri benar-benar menjadi hari kemenangan bagi seluruh umat manusia, bukan hanya segelintir orang.

Dan di antara semua kalkulasi itu, Selat Hormuz tetap berdiri seperti sebuah pintu sempit tempat denyut energi dunia mengalir. Jika pintu itu tertutup, bahkan sebentar saja, dunia akan kembali diingatkan betapa rapuhnya peradaban modern yang berdiri di atas minyak, perdagangan, dan keseimbangan kekuasaan.

Yang pasti, dunia saat ini sedang berdiri di salah satu titik kritis sejarah. Jalan keluar dari kebuntuan ini entah meja negosiasi atau eskalasi lebih lanjut akan menentukan tidak hanya nasib Timur Tengah, tetapi arah peradaban global di tahun-tahun mendatang.

Semoga di hari yang suci ini, kita semua di mana pun berada dapat merenungkan arti kedamaian yang sesungguhnya. Karena pada akhirnya, kemenangan terbesar bukanlah kemenangan di medan perang, tetapi kemenangan untuk bisa duduk bersama dalam damai.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H, Minal Aidin wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin. (***).

 

BERITA TERKINI

fulad2-1024x768
Perang yang Tak Terkendali, Guncangan Ekonomi, Kemarahan Rakyat AS, dan Jalan Buntu di Timur Tengah
sadewohalbil
Bupati Sadewo Minta  Seluruh ASN Sosialisasikan Trilas dan UHC  
6208234154332196275
Perawat Dituntut Adaptif di Era Digital
flier baru pameran
Perupa Nur Agustus Gelar Pameran “NAH !!” di Toko Buku Gramedia
halbil1
Halal Bihalal SMPN 3 Kalimanah - SMPN 2 Kemangkon, Kolaborasi Nyata Dunia Pendidikan