*Murid Putri SMAN 1 Sigaluh Belajar MUA

Murid-murid putri SMAN 1 Sigaluh, Banjarnegara sedang belajar make up bersama Ika Indah Permata dari Asera Wedding Gemuruh. (Foto:Heni Purwono/EDUKATOR).
BANJARNEGARA, EDUKATOR–Perawatan wajah penting bagi murid perempuan, tetapi penggunaan make up tebal dan mencolok atau menor sebaiknya tidak dilakukan saat berada di sekolah. Murid cukup menggunakan skin care, skin preparation, atau riasan natural agar tetap terlihat segar, sopan, dan sesuai etika lingkungan pendidikan.
Pesan tersebut disampaikan Ika Indah Permata dari Asera Wedding Gemuruh, Banjarnegara saat mengajar kokurikuler Make Up Artist (MUA) bagi murid putri kelas XI SMAN 1 Sigaluh, Kamis (8/10/2026).
“Perawatan wajah harus, tetapi make up jangan berlebihan,” ujar Ika.

Perawatan wajah, agar terlihat segar dan menarik. (Foto:Heni Purwono/EDUKATOR).
Perawatan Wajah Menjadi Dasar
Menurut Ika, perawatan wajah justru penting karena murid banyak beraktivitas di luar ruangan dan terpapar sinar matahari. Karena itu, murid perempuan perlu mengenal perawatan wajah sejak usia sekolah.
“Saat sekolah, cukup gunakan skin care dan yang natural,” katanya.
Ia menilai perawatan wajah menjadi dasar sebelum seseorang menggunakan make up. Untuk perawatan bibir, murid dapat menggunakan lip balm yang tidak berwarna.
Sementara untuk penggunaan make up berikutnya, Ika menyarankan dilakukan di luar lingkungan sekolah agar tidak mengganggu etika dan aturan yang berlaku di sekolah.

Murid-murid putri SMAN 1 Sigaluh antusias mengikuti pelatihan perawatan wajah. (Foto:Heni Purwono/EDUKATOR).
Bekal Keterampilan untuk Masa Depan
Dalam kegiatan kokurikuler tersebut, Ika bersama timnya tidak hanya mengajarkan teknik merias wajah. Murid juga mendapatkan pembelajaran tentang beauty class, grooming, penampilan yang baik, kesopanan, dan etika.
“Keterampilan ini menjadi bekal mereka di dunia kerja,” kata Ika.
Menurutnya, keterampilan tersebut dapat menjadi persiapan bagi murid yang kelak ingin bekerja di bidang tertentu maupun menekuni profesi sebagai make up artist profesional.
Dengan demikian, pembelajaran MUA tidak semata-mata mengajarkan cara berdandan, tetapi juga membentuk pemahaman mengenai cara berpenampilan yang tepat sesuai situasi.
Dandan Tidak Sekadar Memoles Wajah
Salah satu murid SMAN 1 Sigaluh, Fidella Fathinah Uzma, mengaku kegiatan tersebut memberikan manfaat karena dirinya mendapat pemahaman mengenai cara merawat wajah dengan benar.
“Dandan wajah ternyata tidak bisa dilakukan sembarangan,” ujar Fidella.
Menurutnya, kondisi wajah sangat dipengaruhi oleh cara perawatan yang dilakukan sebelumnya. Karena itu, perawatan wajah seharusnya menjadi perhatian utama sebelum menggunakan make up.
“Perawatan wajah adalah dasar agar tampil lebih bagus,” katanya.
Fidella juga menilai murid sebaiknya tidak menggunakan make up terlalu tebal ketika berada di sekolah. Riasan yang terlalu mencolok dinilai kurang sesuai dengan lingkungan pendidikan.
“Dandan terlalu tebal kurang pantas untuk murid,” ujar Fidella.
Fenomena Murid Berdandan dan Tantangan Etika
Fenomena murid perempuan berdandan ketika berangkat sekolah kini semakin mudah ditemui. Bagi sebagian generasi yang lebih tua, kebiasaan tersebut mungkin dianggap berlebihan. Namun, bagi generasi Z, perawatan wajah dan penampilan telah menjadi bagian dari gaya hidup.
Meski demikian, pembelajaran mengenai kecantikan di sekolah perlu diarahkan agar murid memahami batas antara merawat diri dan menggunakan make up secara berlebihan.
Kegiatan kokurikuler MUA di SMAN 1 Sigaluh menjadi salah satu ruang bagi murid untuk mengenal perawatan wajah sekaligus memahami pentingnya grooming, penampilan yang sopan, dan etika dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan yang ditekankan pun sederhana: merawat wajah boleh, bahkan penting. Namun, untuk lingkungan sekolah, penampilan tetap perlu disesuaikan dengan usia, aturan, kesopanan, dan etika. (Heni Purwono/Prs)