Peringati Hardiknas, SMAN 1 Purwareja Klampok Luncurkan “One Class One Book”

by -1048 Views
Peluncuran program unggulan baru SMAN 1 Purwareja Klampok: One Class One Book, usai Upacara Hardiknas, Selasa (2/5/2023). (Foto: Dokumentasi Humas SMAN 1 Purwareja Klampok, Banjarnegara/EDUKATOR).

BANJARNEGARA, EDUKATOR–Menandai peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2023, SMA Negeri 1 Purwareja Klampok, Banjarnegara , Selasa (2/5) meluncurkan program unggulan baru, yakni One Class One Book. Ada 30 judul buku hasil karya para siswa, dimana setiap satu kelas membuat satu buku.

“Program ini merupakan salah satu aktualisasi dari sekolah literasi yang sedang digalakkan guna memupuk siswa agar gemar membaca dan menulis,” ujar Kepala SMA Negeri 1 Purwareja Klampok, Banjarnegara Linovia Karmelita,S.Sos usai upacara Hardiknas di sekolah setempat.

Upacara Hardiknas di SMAN 1 Purwareja Klampok berlangsung khidmat, diikuti jajaran dewan guru, staf tata usaha dan peserta didik. Mereka mengenakan baju adat tradisional Indonesia yang beragam.

Dalam rangka Hardiknas, SMAN 1 Purwareja Klampok selain menggelar upacara dan peluncurna program One Class One Book, juga ada lomba Pembuatan Film Pendek bertemakan Hardiknas, Debat Duta Pendidikan, dan Fashion Show. Untuk lomba fashion show, pakaian yang digunakan wajib terbuat dari bahan limbah yang ada di sekitar lingkungan sekolah.

Menurut Linovia Karmelita, pemanfaatan limbah ini, merupakan komitmen SMAN 1 Purwareja Klampok sebagai sekolah Adi Wiyata yang ramah lingkungan.

Sementara itu Linovia Karmelita yang membacakan sambutan Kemendikbud Ristek Nadiem Makarim menegaskan, sebanyak 24 episode Merdeka Belajar yang sudah diluncurkan membawa kita semakin dekat dengan cita-cita luhur Ki Hadjar Dewantara. Yakni pendidikan yang menuntun bakat, minat, dan potensi peserta didik agar mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai seorang manusia dan sebagai anggota masyarakat.

Anak-anak, lanjutnya, tidak perlu lagi khawatir dengan tes kelulusan. Pasalnya, Asesmen Nasional yang sekarang digunakan tidak bertujuan untuk “menghukum” guru atau murid. Tetapi sebagai bahan refleksi agar guru terus mendorong untuk belajar, supaya kepala sekolah termotivasi untuk meningkatkan kualitas sekolahnya menjadi lebih inklusif. (Bandu Suharjono)