PURWOKERTO, EDUKATOR – Berawal dari persoalan kesehatan masyarakat di pedesaan, Prof. Dr. sc. hum. Budi Aji, M.Sc., Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (FIKes) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), berhasil menembus pemeringkatan peneliti global bidang kedokteran klinis dan kesehatan masyarakat. Prestasi tersebut mencerminkan kiprahnya dalam publikasi ilmiah dan kontribusi penelitian yang mendapat perhatian komunitas akademik internasional.
Akademisi lulusan Heidelberg University, Jerman, itu tercatat dalam pemeringkatan saintis global versi TOPSCINET (Elsevier) pada bidang Clinical Medicine dan Public Health. Capaian ini sekaligus menunjukkan bahwa penelitian yang mengangkat persoalan kesehatan masyarakat lokal berpeluang memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dunia.
Mengangkat Persoalan Kesehatan Masyarakat
Di tengah persaingan riset internasional, Budi Aji konsisten menaruh perhatian pada persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat Indonesia. Penelitiannya antara lain mencakup perlindungan kesehatan petani penderes gula kelapa, akses pelayanan kesehatan bagi warga lanjut usia di pedesaan Banyumas, serta pembiayaan kesehatan masyarakat kurang mampu melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan BPJS Kesehatan.
Bagi Budi, penelitian tidak cukup berhenti pada publikasi jurnal. Hasilnya perlu mendorong perbaikan kebijakan sekaligus memperjuangkan hak masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang layak.
“Sains harus menjawab persoalan nyata di masyarakat,” ujar Budi Aji kepada EDUKATOR di Purwokerto, Rabu (14/10/2026)..
Menurutnya, penelitian tentang petani dan lansia di pedesaan bukan sekadar upaya menghasilkan artikel ilmiah. Riset tersebut juga menjadi sarana menyampaikan kebutuhan masyarakat kepada para pembuat kebijakan agar memperoleh perhatian yang semestinya.
Berkolaborasi dalam Riset Internasional
Kontribusi Budi di tingkat global juga didukung keterlibatannya dalam Global Burden of Disease (GBD) Collaboration Network. Jaringan kolaborasi peneliti internasional yang berpusat di University of Washington, Amerika Serikat, tersebut menjadi wadah kerja sama dalam pengembangan penelitian kesehatan global.
Melalui kolaborasi itu, Budi turut berkontribusi dalam penulisan sejumlah artikel ilmiah yang diterbitkan jurnal internasional bereputasi, di antaranya The Lancet dan Nature Human Behaviour.
Pengalaman dalam jejaring riset internasional tersebut memperluas ruang kontribusinya bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Pada saat yang sama, kolaborasi itu membuka peluang untuk memperkuat penelitian kesehatan di Indonesia, terutama yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Sebarkan Edukasi Kesehatan Lewat Film
Selain menjalankan penelitian, Budi mengemban tanggung jawab sebagai Dekan FIKes Unsoed periode 2022–2026. Ia turut mendorong edukasi kesehatan masyarakat melalui pendekatan kreatif, salah satunya dengan memanfaatkan film pendek.
Media tersebut digunakan untuk mengangkat persoalan stigma terhadap lansia dan pencegahan stunting. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa edukasi kesehatan tidak hanya disampaikan melalui tulisan ilmiah, tetapi juga melalui media yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Bagi Budi, pengakuan di tingkat global bukanlah tujuan akhir. Penelitian harus tetap berorientasi pada manfaat nyata bagi masyarakat.
“Target utama kami meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia,” katanya.
Motivasi Peneliti Muda dari Daerah
Budi berharap pencapaiannya dapat memotivasi peneliti muda dan mahasiswa, khususnya di perguruan tinggi daerah, untuk terus menghasilkan penelitian berkualitas. Ia mendorong generasi akademisi agar memperluas jejaring internasional dan berani berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dunia.
Menurutnya, peneliti dari perguruan tinggi daerah memiliki kesempatan untuk berkiprah di tingkat global. Hal itu perlu didukung konsistensi penelitian, kolaborasi yang kuat, serta kemampuan mengangkat persoalan nyata di lingkungan sekitar menjadi karya ilmiah yang bermanfaat.
Prestasi Budi Aji menegaskan pentingnya menghubungkan standar penelitian internasional dengan kebutuhan masyarakat. Riset yang berkualitas tidak hanya memperkuat reputasi akademik perguruan tinggi, tetapi juga diharapkan mampu mendorong perbaikan kebijakan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.(Alief Einstein/Prs)