*Syngenta-Unsoed Perkuat Inovasi Benih Padi

Guru Besar Fakultas Pertanian Unsoed Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D.
JAKARTA, EDUKATOR—PT Syngenta Indonesia dan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) memperkuat kerja sama riset dan pendidikan. Kerja sama ditandai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada forum Indonesia Petani MAJU Summit 2026, Selasa (22/9/2026), di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta.
Dekan Fakultas Pertanian Unsoed Prof. Ir. Sakhidin, M.P. (paling kiri) mewakili Plt Rektor Unsoed dalam penandatanganan kerja sama dengan PT Syngenta Indonesia.
PT Syngenta Indonesia merupakan perusahaan agroteknologi. Perusahaan ini bergerak dalam pengembangan benih, perlindungan tanaman, serta solusi dan inovasi pertanian. Dalam kerja sama dengan Unsoed, fokus diarahkan pada pengembangan varietas padi, kesehatan tanaman, dan validasi teknologi sesuai kebutuhan petani.
Guru Besar Fakultas Pertanian Unsoed Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D.,, menjadi salah satu tokoh penting dalam forum itu. PT Syngenta secara khusus mengundang Prof. Totok menghadiri Indonesia Petani MAJU Summit 2026. Forum itu mempertemukan pemerintah, petani, akademisi, industri, dan mitra internasional.
“Kolaborasi industri dan perguruan tinggi harus menjawab kebutuhan nyata petani,” ujar Prof. Totok, alumnus Kyushu University, Jepang, dengan konsentrasi Crop Science ini.
Menurut Prof. Totok, hasil penelitian tidak boleh berhenti. Inovasi harus dikembangkan hingga penerapannya. Teknologi juga perlu divalidasi sesuai kebutuhan lapangan.
Guru Besar Fakultas Pertanian Unsoed Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D. (paling kanan) dalam forum Indonesia Petani MAJU Summit 2026, Selasa (22/9/2026), di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta.
Prof. Totok Dorong Inovasi Pemuliaan
Prof. Totok tampil membawakan materi “Inovasi Pemuliaan Tanaman untuk Mendukung Pertanian Berkelanjutan dan SDGs.” Materinya menyoroti peran strategis varietas unggul dan benih bermutu. Keduanya menjadi fondasi pertanian produktif, berkelanjutan, dan tangguh menghadapi perubahan iklim.
Ia menjelaskan perkembangan teknologi pemuliaan tanaman. Teknologi tersebut bergerak dari metode konvensional menuju pemuliaan presisi berbasis data.
Perkembangannya mencakup seleksi massa dan persilangan. Selanjutnya berkembang melalui mutasi dan bioteknologi. Teknologi molekuler kemudian mempercepat proses pemuliaan.
Saat ini, pemuliaan juga memanfaatkan genomik. Teknologi genomic selection dan CRISPR berkembang semakin pesat. Kecerdasan buatan dan big data breeding juga mulai digunakan.
Menurut Prof. Totok, varietas unggul memiliki banyak manfaat. Varietas unggul tidak sekadar meningkatkan potensi hasil.
Varietas juga mendukung adaptasi luas. Ketahanan penyakit dan cekaman iklim menjadi keunggulan penting. Kualitas hasil serta efisiensi pupuk dan air juga meningkat.
Benih Bermutu Antar Inovasi
Prof. Totok menekankan hubungan varietas dan benih. Pemuliaan menghasilkan varietas unggul. Namun, inovasi membutuhkan benih bermutu.
Benih bermutu menjadi penghubung menuju petani. Benih kemudian digunakan dalam praktik budidaya. Rantai tersebut dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani.
“Benih bermutu adalah kendaraan inovasi varietas unggul,” tegas Prof. Totok.
Menurut Prof Totok, rantai inovasi harus tersambung. Rantai dimulai dari pemuliaan hingga budidaya petani.
Karena itu, inovasi perbenihan membutuhkan kolaborasi. Pemerintah memiliki peran dalam riset dan pelepasan varietas. Perguruan tinggi berperan mengembangkan inovasi teknologi.
Industri benih berperan dalam perbanyakan dan distribusi. Petani menggunakan benih bersertifikat melalui budidaya baik.
Kolaborasi untuk Ketahanan Pangan
Indonesia Petani MAJU Summit 2026 menjadi forum kolaborasi multipihak. Forum tersebut merupakan bagian Festival Padi Petani MAJU 2026.
Syngenta menyebut kolaborasi multipihak penting bagi ketahanan pangan. Sinergi diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan adopsi inovasi. Pertanian berkelanjutan juga menjadi perhatian utama.
Kehadiran Prof. Totok memperkuat perspektif akademik dalam forum itu. Ia membawa isu pemuliaan tanaman dan perbenihan. Isu tersebut berkaitan langsung dengan kebutuhan inovasi pertanian.
Tiga Kemitraan Strategis
Penandatanganan MoU dengan Unsoed menjadi bagian kemitraan strategis Syngenta Indonesia. Dua mitra lainnya adalah WinAll Hi-Tech Seed Co., Ltd. dan Cuu Long Delta Rice Research Institute (CLRRI).
Bersama WinAll, Syngenta mengembangkan germplasm padi hibrida. Fokusnya pada evaluasi dan pengembangan padi berdaya hasil tinggi.
Bersama CLRRI, fokusnya adalah germplasm padi premium. Kerja sama mencakup padi aromatik dan berdaya hasil tinggi.
Sementara dengan Unsoed, fokusnya berbeda. Kerja sama mencakup inovasi varietas padi. Riset kesehatan tanaman dan validasi teknologi juga dikembangkan.
Ketiga kemitraan tersebut memperkuat ekosistem inovasi. Sumber daya genetik menjadi bagian penting pengembangan varietas. Teknologi juga diarahkan agar semakin relevan bagi petani.
Rekam Jejak Syngenta-Unsoed
Kerja sama Fakultas Pertanian Unsoed dan Syngenta Seed Indonesia telah berjalan. Bidangnya mencakup riset dan pendidikan.
Pada 2024–2026, kedua pihak bekerja sama. Fokusnya merakit varietas tipe Inpari 32 aromatik. Pengujian ketahanan hama juga dilakukan.
Pengujian mencakup penyakit utama galur padi Syngenta. Kerja sama tersebut memperkuat kapasitas riset kedua pihak.
Di bidang pendidikan, Syngenta menjadi mitra magang berdampak. Program tersebut berlangsung pada semester gasal 2025/2026.
Unsoed juga menjadi tempat NK Bootcamp. Kegiatan tersebut menjadi pelatihan staf Syngenta pada 2026.
Rencana berikutnya mencakup uji multilokasi. Uji tersebut dilakukan PT Syngenta Seed Indonesia. Langkah tersebut memperkuat hubungan riset industri dan perguruan tinggi.
Dalam penandatanganan MoU, Plt. Rektor Unsoed diwakili Dekan Fakultas Pertanian Unsoed Prof. Ir. Sakhidin, M.P.
Dekan Fakultas Pertanian Unsoed Prof. Ir. Sakhidin, M.P. (kiri)
Pemuliaan untuk Pertanian Berkelanjutan
Pada bagian lain Prof. Totok menghubungkan pemuliaan dengan SDGs. Pemuliaan tanaman mendukung produktivitas dan kesehatan.
Teknologi pemuliaan juga meningkatkan efisiensi sumber daya. Varietas tahan kekeringan mendukung penanganan perubahan iklim.
Varietas hemat pupuk mendukung produksi berkelanjutan. Hasil tinggi mendukung tujuan tanpa kelaparan. Ketahanan penyakit juga mendukung ekosistem daratan.
Prof. Totok juga menjelaskan teknologi masa depan. Pemuliaan bergerak menuju pendekatan lebih presisi.
Teknologi tersebut mencakup CRISPR dan genome editing. Kecerdasan buatan juga menjadi bagian perkembangannya.
Teknologi drone phenotyping ikut mendukung pemuliaan. Begitu pula high throughput phenotyping dan genomic prediction.
Tantangan Hilirisasi Varietas
Prof. Totok mengingatkan bahwa inovasi tidak otomatis berdampak. Varietas unggul harus tersedia bagi petani.
Adopsi petani masih menjadi tantangan. Ketersediaan benih bermutu juga perlu diperkuat.
Distribusi benih harus semakin optimal. Perubahan iklim juga berlangsung semakin cepat. Investasi riset masih membutuhkan penguatan.
Karena itu, hilirisasi menjadi sangat penting. Varietas harus tersedia dalam bentuk benih bermutu.
Benih tersebut kemudian harus sampai kepada petani. Petani juga membutuhkan dukungan budidaya yang tepat.
Jika rantai berjalan baik, dampaknya semakin luas. Produktivitas pertanian dapat meningkat. Biaya produksi berpotensi menurun.
Penggunaan pestisida dapat lebih efisien. Pemanfaatan pupuk juga dapat semakin efektif. Pada akhirnya, ketahanan pangan dan kesejahteraan petani meningkat.
Perkuat Sinergi Industri dan Kampus
Prof. Totok menempatkan perguruan tinggi sebagai bagian penting. Kampus tidak hanya menghasilkan pengetahuan.
Perguruan tinggi juga menghasilkan inovasi teknologi. Industri kemudian dapat membantu pengembangan dan penerapannya.
Petani menjadi pihak yang menerima manfaat inovasi. Karena itu, kebutuhan petani harus menjadi perhatian.
Kerja sama Syngenta dan Unsoed memiliki konteks tersebut. Riset diarahkan pada varietas dan kesehatan tanaman. Validasi teknologi juga menjadi bagian kerja sama.
Melalui kolaborasi tersebut, inovasi diharapkan semakin dekat. Terutama dari sumber daya genetik menuju petani.
Prof. Totok menegaskan pentingnya integrasi pemuliaan. Integrasi mencakup perbenihan dan praktik budidaya.
“Varietas unggul adalah hasil inovasi ilmu pengetahuan,” kata Prof. Totok.
Kolaborasi Syngenta dan Unsoed akhirnya memiliki cakupan luas. Riset, pendidikan, teknologi, dan kebutuhan petani dipertemukan.
Kerja sama tersebut diharapkan memperkuat inovasi benih padi. Langkah tersebut juga mendukung pertanian produktif dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, inovasi perbenihan menjadi bagian penting. Terutama dalam mendukung swasembada beras berkelanjutan.
Ketahanan pangan nasional juga menjadi tujuan bersama. Kolaborasi multipihak menjadi kunci untuk mewujudkannya. (Prasetiyo)