Oleh: Akhmad Fauzi, S.S.,S.Pd., C.PIM
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Purbalingga
ADA sebuah pujian yang sekilas terdengar menyenangkan bagi seorang guru: “Wah, kalau urusan seperti itu pasti bisa diandalkan. Dia memang serba bisa.” Kalimat tersebut biasanya lahir dari kekaguman. Guru yang mampu mengajar dengan baik, mengoperasikan teknologi, membuat desain, mengelola administrasi, menyelesaikan persoalan siswa, menjadi panitia berbagai kegiatan, bahkan membantu pekerjaan di luar tugas utamanya, dianggap sebagai sosok yang kompeten.
Namun, ada pertanyaan yang perlu diajukan: apakah guru yang mampu melakukan banyak hal memang harus selalu diberi banyak hal untuk dikerjakan? Di sinilah persoalannya.
Ketika Kompetensi Justru Menjadi Beban
Kemampuan seseorang semestinya menjadi modal untuk berkembang, bukan alasan untuk terus-menerus menambah beban. Ketika kompetensi justru membuat seseorang semakin sering menerima pekerjaan tambahan tanpa batas yang jelas, muncullah sebuah fenomena yang dapat disebut sebagai competence punishment atau “hukuman karena kompetensi”.
Istilah tersebut bukan berarti setiap tugas tambahan merupakan hukuman. Dalam sebuah organisasi, saling membantu tentu diperlukan. Guru juga membutuhkan kemampuan beradaptasi karena dunia pendidikan terus berubah. Persoalannya muncul ketika kemampuan beradaptasi berubah menjadi tuntutan untuk mengerjakan hampir segala sesuatu.
Guru abad ke-21 memang tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran. Perubahan teknologi, karakter peserta didik, perkembangan ilmu pengetahuan, dan tuntutan pembelajaran membuat guru perlu memiliki berbagai kompetensi pendukung. Guru perlu melek digital, mampu berkomunikasi dengan orang tua, memahami karakter peserta didik, berkolaborasi, dan terus belajar.
Semua itu merupakan bagian dari profesionalisme. Tetapi, adaptif tidak sama dengan serba mengerjakan.
“Dia Pasti Bisa” Bisa Menjadi Jebakan
Seorang guru Bahasa Indonesia boleh saja mampu membuat video pembelajaran. Guru Matematika boleh saja memahami teknologi informasi. Guru IPA mungkin memiliki kemampuan desain yang baik. Guru IPS bisa saja memiliki keterampilan mengelola kegiatan sekolah.
Kemampuan tambahan tersebut merupakan aset. Masalah muncul ketika aset tersebut kemudian dianggap sebagai kewajiban permanen.
Karena seorang guru mampu membuat desain, ia selalu diminta membuat poster. Karena mampu mengoperasikan komputer, ia menjadi tempat bertanya setiap kali ada persoalan perangkat digital. Karena pandai berkomunikasi, ia terus ditugasi menghadapi berbagai persoalan sosial. Karena teliti dalam administrasi, pekerjaan dokumentasi akhirnya berkali-kali jatuh kepadanya.
Lama-kelamaan, seseorang bukan lagi diberi tugas karena sesuai dengan perannya, tetapi karena “dia pasti bisa”. Kalimat sederhana itu dapat menjadi jebakan.
Solidaritas Tetap Membutuhkan Batas
Dalam kehidupan sekolah, kata solidaritas memiliki tempat yang penting. Sekolah bukan sekadar kumpulan individu yang bekerja sendiri-sendiri. Guru, tenaga kependidikan, kepala sekolah, wali kelas, guru BK, dan berbagai unsur lainnya harus saling mendukung.
Namun, solidaritas seharusnya tidak berarti menghilangkan pembagian peran. Bayangkan sebuah tim sepak bola. Pemain belakang tentu dapat membantu menyerang ketika diperlukan. Pemain depan juga dapat membantu bertahan. Tetapi apabila seluruh pemain diminta mengerjakan semua posisi sepanjang pertandingan, permainan justru kehilangan struktur.
Begitu pula organisasi sekolah.
Guru mata pelajaran memiliki kompetensi utama dalam pembelajaran. Wali kelas memiliki tanggung jawab tertentu dalam pengelolaan kelas dan perkembangan peserta didik. Guru BK memiliki kompetensi khusus dalam layanan bimbingan dan konseling. Tenaga kependidikan memiliki keahlian dalam administrasi dan pelayanan teknis. Pimpinan sekolah memiliki fungsi manajerial dan kepemimpinan.
Masing-masing bukan berarti bekerja dalam kotak yang terpisah. Mereka justru harus saling terhubung. Sinergi bukan berarti semua orang mengerjakan semua pekerjaan. Sinergi berarti setiap orang mengerjakan bagian yang menjadi tanggung jawabnya, lalu bagian-bagian itu bertemu untuk mencapai tujuan yang sama.
Ketika pembagian tersebut tidak berjalan, muncullah ketimpangan. Guru yang cekatan semakin banyak menerima tugas. Guru yang terbiasa mengatakan “ya” semakin sering dicari. Sementara orang lain secara tidak sadar menjadi terbiasa mengandalkan orang yang sama.
Pada akhirnya, kompetensi seseorang justru menjadi magnet bagi pekerjaan tambahan.
Ketika Energi Guru Terkuras
Persoalan terbesar bukan sekadar banyaknya pekerjaan. Persoalan yang lebih penting adalah ke mana energi guru akhirnya tersalurkan.
Seorang guru memiliki energi yang terbatas. Waktu, perhatian, konsentrasi, dan kreativitas bukan sumber daya tanpa batas. Jika sebagian besar energi tersebut terserap oleh pekerjaan yang tidak berkaitan langsung dengan fungsi utama mengajar, ada konsekuensi yang mungkin tidak langsung terlihat.
Guru mungkin tetap hadir di kelas. Guru mungkin tetap menyelesaikan perangkat pembelajaran. Guru mungkin tetap memberikan tugas dan penilaian. Tetapi kualitas kehadirannya bisa berubah.
Guru yang secara fisik berada di kelas belum tentu memiliki energi mental yang cukup untuk membangun percakapan bermakna dengan peserta didik, memberikan umpan balik yang berkualitas, merancang pembelajaran kreatif, atau memperhatikan siswa yang membutuhkan bantuan.
Dengan kata lain, beban kerja yang tidak terkelola dapat mengambil sesuatu yang sangat berharga dari pendidikan: kualitas interaksi manusia di dalam kelas.
Profesional Bukan Berarti Mengerjakan Semuanya
Padahal, pendidikan bukan sekadar menyelesaikan administrasi atau memenuhi daftar pekerjaan. Ada proses mendengarkan, mengamati, membimbing, memberi teladan, membangun motivasi, dan menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. Semua itu membutuhkan energi.
Ada pemahaman yang perlu diluruskan tentang profesionalisme. Guru profesional bukanlah guru yang sanggup melakukan semua pekerjaan. Guru profesional adalah guru yang memahami kompetensinya, menjalankan tanggung jawab utamanya dengan baik, terus mengembangkan diri, dan mampu bekerja sama dengan pihak lain ketika menghadapi persoalan yang berada di luar kompetensinya.
Justru kemampuan untuk mengatakan, “Ini bukan ranah saya, tetapi saya tahu siapa yang dapat membantu,” merupakan bagian dari profesionalisme.
Seorang guru tidak harus menjadi konselor untuk dapat peduli terhadap masalah psikologis siswa. Ia dapat menjadi orang pertama yang mengenali tanda-tanda masalah, kemudian menghubungkan siswa dengan guru BK atau pihak lain yang kompeten.
Guru juga tidak harus menjadi tenaga administrasi penuh waktu hanya karena mampu menggunakan aplikasi komputer. Ia dapat membantu ketika diperlukan, tetapi sistem sekolah tetap perlu memastikan bahwa pekerjaan administratif memiliki penanggung jawab yang jelas.
Begitu pula dengan teknologi. Kemampuan guru menggunakan kecerdasan buatan, membuat video, mendesain media, atau mengelola platform digital seharusnya memperkuat pembelajaran. Bukan secara otomatis menjadikan guru tersebut sebagai “teknisi sekolah” untuk setiap persoalan digital.
Membantu Bukan Berarti Mengambil Alih
Salah satu persoalan dalam budaya kerja adalah anggapan bahwa membatasi diri berarti tidak peduli. Padahal, ada perbedaan antara membantu dan mengambil alih.
Membantu berarti memberikan dukungan ketika diperlukan. Mengambil alih berarti secara terus-menerus memikul pekerjaan yang semestinya menjadi tanggung jawab pihak lain.
Perbedaan ini penting. Budaya kerja yang sehat seharusnya memungkinkan seorang guru mengatakan, “Saya bisa membantu kali ini, tetapi untuk pekerjaan berikutnya sebaiknya kita koordinasikan dengan pihak yang memang bertanggung jawab.”
Kalimat tersebut bukan bentuk penolakan terhadap kerja sama. Justru, ia membantu organisasi membangun batas yang lebih jelas.
Sebab, jika setiap pekerjaan selalu diselesaikan oleh orang yang sama, organisasi tidak pernah belajar memperbaiki sistem.
Jangan Bangun Sekolah yang Bergantung pada “Orang Serba Bisa”
Sebuah organisasi yang sehat tidak seharusnya bergantung pada beberapa orang yang selalu siap melakukan segala sesuatu.
Jika satu guru selalu menjadi tempat bertanya, tempat meminta bantuan, tempat menyelesaikan masalah, bahkan tempat “menyelamatkan” berbagai pekerjaan yang belum selesai, mungkin persoalannya bukan karena guru tersebut terlalu hebat. Bisa jadi sistemnya yang terlalu bergantung.
Organisasi yang sehat justru membangun sistem agar pekerjaan tetap berjalan meskipun satu orang sedang tidak berada di tempat.
Karena itu, sekolah perlu mulai melihat pembagian kerja bukan sekadar dari pertanyaan “siapa yang bisa mengerjakan?”, tetapi juga “siapa yang memang bertanggung jawab?” Pertanyaan kedua jauh lebih penting.
Lima Langkah Membangun Pembagian Kerja Sehat
Solusi terhadap persoalan guru “serba bisa” bukanlah membuat guru menjadi kaku dan hanya mau mengerjakan tugas yang tertulis dalam deskripsi pekerjaan. Sekolah tetap membutuhkan fleksibilitas. Guru tetap perlu memiliki semangat learning agility dan mampu membantu rekan kerja.
Dalam kondisi tertentu, tugas tambahan memang tidak dapat dihindari. Yang diperlukan adalah keseimbangan melalui lima langkah.
Pertama, sekolah perlu memiliki pembagian tugas yang jelas. Deskripsi pekerjaan bukan sekadar dokumen administratif, tetapi menjadi acuan agar tanggung jawab tidak terus berpindah kepada orang yang sama.
Kedua, tenaga kependidikan perlu diperkuat agar pekerjaan administratif dan teknis tidak semuanya kembali kepada guru.
Ketiga, peran BK perlu dioptimalkan sehingga persoalan peserta didik dapat ditangani melalui mekanisme yang sesuai, bukan selalu dibebankan kepada wali kelas atau guru mata pelajaran.
Keempat, sekolah perlu membangun budaya delegasi dan kolaborasi. Delegasi bukan berarti melempar pekerjaan. Delegasi berarti menempatkan pekerjaan kepada orang yang memiliki mandat dan kompetensi yang sesuai.
Kelima, perlu dibangun budaya yang menghargai batas kerja yang sehat. Guru yang mengatakan “tidak bisa mengerjakan semuanya” bukan berarti kurang berdedikasi. Bisa jadi, justru ia sedang menjaga kualitas pekerjaannya.
Perluasan Kompetensi Bukan Perluasan Beban
Pendidikan membutuhkan guru yang terus berkembang. Namun, perkembangan profesional tidak selalu berarti semakin banyak pekerjaan yang dapat dilakukan. Ada dimensi lain yang lebih penting, yaitu semakin dalam kompetensinya.
Guru Matematika perlu memiliki ruang untuk memperdalam pedagogi dan matematika. Guru Bahasa perlu memiliki kesempatan mengembangkan literasi dan strategi pembelajaran. Guru IPA perlu terus memperkaya pendekatan ilmiah dalam pembelajaran.
Ketika seluruh energi habis untuk pekerjaan tambahan, kesempatan untuk memperdalam kompetensi utama menjadi semakin sedikit.
Di sinilah sekolah perlu membedakan antara memperluas kemampuan dan memperluas beban. Keduanya tidak selalu sama. Kemampuan baru seharusnya membuat guru semakin efektif dalam menjalankan profesinya, bukan membuat daftar pekerjaannya semakin panjang tanpa batas.
Profesionalisme Juga Berarti Memahami Batas
Pada akhirnya, guru tidak membutuhkan label “serba bisa” jika label tersebut hanya menjadi alasan untuk menambah pekerjaan.
Yang dibutuhkan adalah penghargaan terhadap profesionalisme. Profesionalisme berarti memiliki kompetensi. Profesionalisme berarti bertanggung jawab. Profesionalisme berarti mau belajar. Profesionalisme berarti mampu bekerja sama. Dan profesionalisme juga berarti memahami batas.
Sekolah adalah ekosistem. Tidak ada satu orang yang seharusnya menjadi pusat penyelesaian seluruh persoalan. Kualitas pendidikan lahir dari kerja banyak pihak yang menjalankan fungsi masing-masing secara bertanggung jawab.
Karena itu, mungkin sudah saatnya kita berhenti menganggap guru yang selalu berkata “bisa” sebagai satu-satunya bentuk guru yang ideal.
Ada kalanya guru yang profesional justru berkata, “Saya bisa mengerjakan bagian saya dengan sebaik-baiknya. Untuk bagian yang lain, mari kita kerjakan bersama dengan orang yang memang memiliki kompetensinya.”
Sebab, sekolah yang kuat bukan sekolah yang memiliki beberapa orang “serba bisa”. Sekolah yang kuat adalah sekolah yang mampu membuat setiap orang bertumbuh sesuai kompetensinya, bekerja dalam perannya, saling melengkapi, dan tidak membiarkan seseorang terbakar (burnout) hanya karena ia terlalu sering dianggap mampu.(*)