Ramadan di Era Kontemporer, Persiapan Ibadah di Tengah Distraksi

Bagikan :

Oleh: Priyanto, M.Pd
Kepala SMP N 3 Kutasari, Plt Kepala SMP N 1 Kutasari,
dan Ketua DPD AGPAII Kab. Purbalingga

RAMADAN selalu datang membawa harapan: kesempatan memperbaiki diri, memperkuat iman, dan memperhalus akhlak. Namun, Ramadan hari ini hadir dalam lanskap kehidupan yang berbeda. Dunia bergerak cepat, pekerjaan menuntut lebih banyak waktu, dan ruang privat manusia nyaris tak pernah benar-benar sunyi.

Kita hidup dalam era ketika perhatian diperebutkan oleh notifikasi, linimasa, dan banjir informasi yang tak kunjung selesai. Maka, tantangan utama menyambut Ramadan bukan lagi sekadar kesiapan fisik, melainkan kesiapan batin untuk fokus dan menghadirkan kesadaran.

Minim Transfromasi
Di sinilah persoalan muncul. Banyak orang menyambut Ramadan dengan semangat tinggi: menyusun jadwal tarawih, membuat target khatam Al Quran, hingga merancang agenda sedekah dan kajian.

Tetapi sering kali persiapan itu berhenti pada daftar rencana. Ramadan berjalan padat aktivitas, namun minim transformasi. Kita berpuasa, tetapi mudah marah. Kita tarawih, tetapi tetap gemar menggunjing. Kita membaca Al Quran, tetapi masih ringan menyakiti orang lain lewat kata-kata.

Fenomena ini menunjukkan bahwa Ramadan kerap dipahami sebatas ritual, bukan pendidikan karakter. Padahal, dalam kerangka Islam, puasa adalah latihan pengendalian diri yang paling mendasar. Puasa mengajarkan bahwa ibadah bukan sekadar gerak lahiriah, melainkan proses pembebasan manusia dari dominasi hawa nafsu.

Gagasan Nurcholish Madjid (Cak Nur) memperkuat pemahaman ini. Dalam berbagai tulisannya, termasuk Islam Doktrin dan Peradaban, Cak Nur menegaskan bahwa ajaran Islam bukan hanya sistem ritual, melainkan sistem nilai yang membangun peradaban. Agama seharusnya melahirkan manusia yang lebih dewasa secara moral dan lebih matang secara sosial. Kesalehan tidak cukup berhenti pada hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi harus nyata dalam akhlak dan tanggung jawab sosial.

Proses Pedidikan Peradaban
Jika Ramadan dipahami sebagai proses pendidikan peradaban, maka persiapannya harus dimulai dari menata orientasi. Persiapan pertama adalah memperjelas tujuan puasa: bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan menundukkan ego, melatih kesabaran, dan memperkuat integritas.

Puasa adalah ibadah sunyi yang tidak bisa diawasi manusia. Di ruang itu, manusia diuji apakah ia jujur kepada dirinya sendiri. Maka, Ramadan seharusnya melahirkan manusia yang lebih berkarakter, bukan hanya lebih sibuk dengan aktivitas ibadah.

Persiapan kedua adalah melatih disiplin sebelum Ramadan datang. Banyak orang berharap Ramadan otomatis mengubah kebiasaan, padahal perubahan memerlukan latihan. Membiasakan salat tepat waktu, mengurangi kebiasaan menunda, menata pola tidur, dan melatih kontrol emosi adalah bagian dari persiapan yang sering diabaikan. Jika kebiasaan buruk dibiarkan hingga hari pertama Ramadan, maka yang terjadi adalah kelelahan spiritual. Ibadah terasa berat karena dilakukan tanpa kesiapan.

Persiapan ketiga, yang paling khas era kontemporer, adalah mengelola distraksi digital. Teknologi tidak salah. Tetapi manusia modern sering kehilangan kendali atas teknologi. Media sosial bukan hanya alat komunikasi, melainkan ruang pembentuk identitas.

Di bulan Ramadan, linimasa penuh konten religi: potongan ceramah, kutipan ayat, hingga ajakan sedekah. Namun pada saat yang sama, ruang digital juga dipenuhi pamer kesalehan, perdebatan kusir, dan budaya menghakimi.

Berubah Menjadi Tontonan
Cak Nur dalam Pintu-Pintu Menuju Tuhan mengingatkan bahwa kedekatan kepada Tuhan menuntut kebersihan hati dan keikhlasan. Pesan ini relevan ketika ibadah mudah berubah menjadi tontonan. Ramadan bukan panggung. Ia adalah ruang batin untuk memperbaiki diri.

Puasa Digital

Maka, “puasa digital” menjadi salah satu bentuk mujahadah modern: membatasi waktu layar, menahan diri dari debat yang tidak produktif, dan mengurangi konsumsi konten yang tidak perlu. Mengendalikan gawai adalah bagian dari mengendalikan nafsu.
Persiapan keempat adalah menghidupkan kembali kesederhanaan.

Setiap tahun kita menyaksikan paradoks: Ramadan disebut bulan menahan nafsu, tetapi justru menjadi puncak konsumsi. Promosi makanan meningkat, pusat perbelanjaan ramai, dan buka puasa sering berubah menjadi ajang gaya hidup. Kesederhanaan yang menjadi ruh puasa perlahan terkikis oleh budaya konsumtif. Akibatnya, empati sosial melemah. Mustahil seseorang merasakan penderitaan kaum miskin jika berbukanya selalu berlimpah.

Persiapan kelima adalah menata relasi sosial. Ramadan seharusnya menjadi bulan rekonsiliasi, bulan memaafkan, dan bulan menahan ego. Di tengah masyarakat yang mudah tersulut oleh perbedaan, puasa seharusnya menjadi latihan merawat kebersamaan.

Kesalehan yang tidak melahirkan akhlak sosial hanyalah formalitas. Dalam pandangan Cak Nur, agama semestinya menghadirkan kedewasaan dan keluasan sikap, bukan kebencian.

Pertarungan Antara Kedalaman dan Keramaian
Pada akhirnya, Ramadan di era kontemporer adalah pertarungan antara kedalaman dan keramaian. Dunia modern menawarkan banyak hal, tetapi menyita perhatian. Kita kaya informasi, tetapi miskin perenungan. Kita ramai berbicara agama, tetapi sering gagal menghadirkan agama dalam perilaku.

Ramadan tidak akan kehilangan maknanya. Yang terancam adalah kesiapan manusia modern untuk menyambutnya. Jika Ramadan hanya menjadi agenda tahunan yang penuh aktivitas tanpa perubahan karakter, maka kita hanya menahan lapar dan haus, sementara jiwa tetap kosong.

Sebaliknya, jika Ramadan dipersiapkan sebagai pendidikan diri—mengurangi distraksi, menata kesederhanaan, dan memperkuat integritas—maka ia akan kembali menjadi jalan pembebasan: membebaskan manusia dari ego, dari keserakahan, dan dari “tuhan-tuhan kecil” yang diam-diam menguasai hidup kita.(*)

 

 

 

BERITA TERKINI

blokeng1
Satu Dekade Katasapa, “Blokeng” Gegerkan Panggung Misbar Purbalingga
priyanto01
Ramadan di Era Kontemporer, Persiapan Ibadah di Tengah Distraksi
FAUZI
Di Balik Prestasi dan Sensitivitas, Sekolah Ditantang Menguatkan Mental Generasi Stroberi
DSC_0111 (1)
Tiga SMP Rebut Juara Umum Lomba Mapel IPA, IPS dan Matematika  Purbalingga 2026
tarhib2
Gugus PAUD Mawar Bukateja Gelar Tarhib Ramadan