
Oleh: Ākhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Kabupaten Purbalingga
SEBUAH tayangan reels di salah satu media sosial menampilkan video seorang motivator ternama, Ary Ginanjar Agustian. Sosok ini tentu tidak asing bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi mereka yang mengikuti perkembangan dunia motivasi dan pengembangan karakter.
Ary Ginanjar Agustian dikenal sebagai pendiri ESQ Leadership Center, penulis buku fenomenal “ESQ: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual”, serta tokoh yang mempopulerkan konsep integrasi Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ), dan Kecerdasan Spiritual (SQ).
Selain berkiprah sebagai motivator nasional, Ary Ginanjar juga merupakan mantan dosen dan aparatur sipil negara (PNS) yang berhasil mengimplementasikan gagasan-gagasannya dalam dunia bisnis dan kepemimpinan selama lebih dari dua dekade.
Dari perjalanan tersebut, lahirlah konsep The ESQ Way 165 sebagai pendekatan pengembangan diri yang menekankan keseimbangan nilai, karakter, dan tujuan hidup.
Tiga Kategori Guru
Dalam video reels tersebut, Ary Ginanjar mengulas pandangannya tentang profesi guru dengan menekankan aspek niat atau why dalam menjalani peran sebagai pendidik.
Ia membagi guru ke dalam tiga kategori berdasarkan orientasi niatnya. Pertama, strong why, yakni guru yang berorientasi utama pada materi atau penghasilan. Kedua, big why, yaitu guru yang mengharapkan pengakuan dan penghargaan sosial. Ketiga, grand why, yakni guru yang memiliki niat tulus untuk mendidik dan mencerdaskan anak-anak bangsa.
Menurutnya, guru dengan orientasi strong why dan big why berpotensi mengalami kekecewaan karena realitas profesi guru yang belum sepenuhnya menjanjikan kesejahteraan maupun penghargaan sosial.
Sebaliknya, guru dengan grand why akan merasakan kebahagiaan batin karena kepuasan sejatinya terletak pada keberhasilan peserta didik. Bagi guru tipe ini, setiap ilmu yang disampaikan bernilai ibadah dan menjadi amal kebaikan di sisi Tuhan.
Tekanan Administratif
Salah satu masalah yang sering terjadi di sekolah adalah menurunnya motivasi intrinsik guru akibat tekanan administratif dan orientasi formalitas, sehingga sebagian guru menjalankan tugas mengajar sebatas menggugurkan kewajiban, bukan sebagai panggilan jiwa.
Kondisi ini berpengaruh langsung pada kualitas pembelajaran, relasi guru–murid, serta pembentukan karakter peserta didik
Untuk memahami penjelasannya lebih mendalam maka bisa kita cermati gagasannya sebagai berikut;
a).Guru dengan Orientasi Strong Why
Guru dengan orientasi strong why menjalani profesinya terutama karena faktor ekonomi atau kebutuhan finansial. Mengajar dipandang sebagai pekerjaan untuk memperoleh: penghasilan, bukan sebagai panggilan jiwa. Akibatnya, semangat kerja guru tipe ini sangat bergantung pada besarnya gaji, tunjangan, atau insentif yang diterima.
Dalam kondisi kesejahteraan yang belum ideal, guru strong why rentan mengalami kejenuhan, kekecewaan, bahkan penurunan kualitas kinerja. Pembelajaran cenderung bersifat rutin, minimalis, dan kurang inovatif karena orientasi utamanya adalah menyelesaikan kewajiban formal, bukan mengembangkan potensi peserta didik secara optimal.
b).Guru dengan Orientasi Big Why
Guru big why adalah mereka yang terdorong oleh kebutuhan akan pengakuan, penghargaan, dan status sosial. Kepuasan profesional diperoleh ketika kinerjanya diakui oleh pimpinan, masyarakat, atau lembaga. Guru tipe ini umumnya cukup bersemangat, kompetitif, dan ingin tampil menonjol.
Namun, persoalan muncul ketika ekspektasi terhadap penghargaan tidak sejalan dengan realitas. Ketika jerih payah tidak diapresiasi secara memadai, guru big why dapat merasa terpinggirkan, kurang dihargai, dan akhirnya kehilangan motivasi. Kondisi ini dapat memengaruhi stabilitas emosi guru dan berdampak pada relasi dengan siswa maupun rekan sejawat.
c).Guru dengan Orientasi Grand Why
Guru grand why menempatkan profesi pendidik sebagai bentuk pengabdian dan ibadah. Motivasi utamanya adalah mendidik, membimbing, dan membentuk karakter peserta didik agar menjadi manusia yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi bangsa.
Guru tipe ini memperoleh kebahagiaan batin dari keberhasilan siswa, bukan dari materi atau penghargaan semata. Ia tetap bekerja dengan penuh keikhlasan meskipun menghadapi keterbatasan fasilitas, kesejahteraan, atau apresiasi. Bagi guru grand why, setiap ilmu yang diajarkan bernilai amal jariyah dan menjadi investasi akhirat.
Dalam praktiknya, sebuah sekolah hampir pasti memiliki kombinasi guru dengan orientasi strong why, big why, dan grand why. Perbedaan orientasi ini merupakan realitas sosial yang tidak dapat dihindari. Tantangan muncul ketika perbedaan tersebut tidak dikelola dengan baik, sehingga berdampak pada ketimpangan kualitas layanan pembelajaran, kurang solidnya budaya kerja tim, dan inkonsistensi pelayanan pendidikan kepada siswa.
Jika hal ini dibiarkan, perbedaan orientasi guru dapat menurunkan mutu layanan sekolah secara keseluruhan, meskipun terdapat guru-guru yang memiliki dedikasi tinggi.
Agar keberagaman orientasi guru tidak menjadi hambatan, sekolah perlu menerapkan strategi manajerial dan kultural sebagai berikut:
1).Membangun Visi dan Nilai Bersama
Pimpinan sekolah perlu menanamkan visi yang kuat tentang makna profesi guru sebagai pendidik dan pembentuk karakter. Visi bersama ini berfungsi sebagai kompas moral yang dapat menyatukan berbagai orientasi why menjadi tujuan yang sama, yaitu keberhasilan peserta didik.
2).Mengelola Kesejahteraan dan Apresiasi secara Adil
Meskipun tidak semua motivasi dapat diselesaikan dengan materi, pemenuhan hak dasar guru, transparansi tunjangan, serta bentuk apresiasi nonfinansial (penghargaan, kepercayaan, peluang pengembangan diri) sangat penting untuk menjaga motivasi guru strong why dan big why.
3).Menguatkan Budaya Refleksi dan Keteladanan
Guru-guru dengan orientasi grand why dapat menjadi teladan melalui sikap, komitmen, dan integritasnya. Sekolah dapat memfasilitasi forum refleksi, diskusi nilai, atau kegiatan keagamaan dan kebersamaan untuk menumbuhkan kesadaran makna profesi guru.
4).Mengurangi Beban Administratif yang Tidak Esensial
Menekan beban administratif yang berlebihan akan membantu guru kembali fokus pada esensi pembelajaran. Dengan demikian, energi guru dapat diarahkan untuk melayani kebutuhan belajar dan perkembangan siswa secara lebih maksimal.
Perbedaan orientasi why di kalangan guru bukanlah masalah utama. Yang menjadi persoalan saat ini adalah ketika sekolah gagal mengelola perbedaan tersebut. Dengan kepemimpinan yang visioner, budaya sekolah yang sehat, serta sistem yang adil dan manusiawi, seluruh guru – apa pun orientasi awalnya – dapat diarahkan untuk memberikan layanan pendidikan terbaik bagi peserta didik.
Pada akhirnya, refleksi dari Ary Ginanjar ini sebetulnya mengajak setiap pendidik untuk bertanya pada dirinya sendiri: termasuk dalam kategori manakah kita sebagai guru; strong why, big why, atau grand why? (***)
Daftar Pustaka
1.Mulyasa, E. Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013.
2.Agustian, Ary Ginanjar. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi & Spiritual, ESQ Emotional Spiritual Quotient, The ESQ Way 165 Jilid 1. Jakarta: Arga Wijaya Persada, 2001.
3.https://esqtraining.com/ary-ginanjar-agustian-dibalik-kesuksesan-esq/