
Sale Pisang madu Dennis, bikinan Adi Setyono di RT 2/RW 7 Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga.
PURBALINGGA, EDUKATOR–Sale pisang adalah salah satu camilan yang banyak disukai orang. Camilan berwarna coklat ini cocok menjadi teman minum kopi atau teh, atau suguhan saat tamu datang. Di Purbalingga, salah satu produsen sale pisang yang cukup ternama adalah Adi Setyono (55), warga RT 2/RW 7 Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang.
Produk “Sale Pisang Madu Dennis”, memiliki aroma khas dan cita rasa legit, manis, dan nikmat dengan keunikan bentuk pisang utuh, tidak diiris seperti sale pisang pada umumnya. Nama Dennis diabadikan pada produk sale ini, diambil dari nama anak pertama Adi Setyono.
Sale Pisang madu Dennis, bikinan Adi Setyono di RT 2/RW 7 Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga.
Sale pisang madu Dennis dikenal nonkolesterol dan diproduksi melalui proses higienis dengan menjaga kebersihan sejak bahan baku hingga pengemasan. Berkat proses tersebut, sale pisang ini mampu bertahan hingga lima bulan.
“Kuncinya pada kebersihan dan pengurangan kadar air yang maksimal, sehingga sale lebih awet tanpa mengurangi rasa,” ujar Adi Setyono kepada EDUKATOR di rumahnya yang sekaligus sebagai tempat usaha, Senin (22/12/2025).
Adi Setyono sedang mengupas pisang raja bandung
Adi Setyono menceritakan, merintis usaha sale pisang sejak 2009, setelah sebelumnya belajar membuat sale di Purwokerto pada orang asli Sidareja, Cilacap. Selama ini, Sidareja dikenal sebagai produsen sale pisang ternama.
Pada tahun 2007, Adi Setyono bekerja sebagai buruh harian membuat sale pisang. Setelah dirasa cukup ilmunya, pada tahun 2009 ia pulang kampung, usaha sendiri.
Pada awal produksi, Adi hanya mampu mengolah sekitar 30 kilogram pisang per proses, yang dikemas dalam ukuran setengah kilogram menjadi sekitar 60 pak. Saat itu, produk belum memiliki izin resmi. Baru pada 2013, usaha Sale Pisang Madu Denis mengantongi izin dari Dinas Kesehatan.
Pisang Raja Bandung
Adi mengatakan, bahan baku yang digunakan adalah pisang raja Bandung pilihan tanpa biji yang diperoleh dari petani di berbagai desa di wilayah Kecamatan Kaligondang.
Awalnya ia membeli pisang mentah, kemudian diperam hingga matang sempurna sampai keluar madunya. Lalu dikupas dan dijemur di bawah sinar matahari selama empat hingga enam hari, tergantung kondisi cuaca.
“Tujuan penjemuran untuk mengurangi kadar air agar sale lebih tahan lama,” kata Adi.
Dijemur di bawah sinar matahari
Proses penjemuran dilakukan pada siang hari, sementara malam hari pisang diasap menggunakan merang agar aroma dan rasa madunya semakin kuat. Setelah kadar air berkurang, pisang dioven menggunakan oven roti selama sekitar 15 menit, kemudian didinginkan sebelum dikemas secara rapi dan higienis.
Saat ini, produksi dilakukan sekitar dua minggu sekali atau dua kali dalam sebulan. Dalam satu kali produksi, Adi membutuhkan sekitar 20–25 tandan pisang atau setara 50–70 kilogram, tergantung ukuran buah.
Sale Pisang madu Dennis, bikinan Adi Setyono di RT 2/RW 7 Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga.
Harga jual Sale Pisang Madu Dennis sangat terjangkau, saat ini Rp 19.000 untuk kemasan setengah kilogram dan Rp 9.000 untuk ukuran seperempat kilogram.
Produk ini dipasarkan dengan sistem titip jual di sejumlah toko oleh-oleh di Purbalingga dan Purwokerto serta sejumlah warung, sementara sebagian besar lainnya berdasarkan pesanan.
Pesanan Meningkat Jelang Lebaran
Permintaan biasanya meningkat menjelang Lebaran. Pada momen ini, kebutuhan produksi bisa mencapai satu hingga dua kuintal, sehingga ketersediaan pisang kerap menjadi tantangan.
“Menjelang Lebaran, pisang sering rebutan dengan penjual sriping karena sama-sama butuh banyak,” ungkap Adi.
Dengan aroma khas dan rasa manis seperti madu, sale pisang produksi Adi Setyono terus diminati masyarakat sebagai camilan tradisional yang cocok dinikmati kapan saja.
Bagi yang ingin memesan, Adi Setyono dapat dihubungi melalui nomor 0823-2552-9547. (Prasetiyo)