Santri: Jalan Terjal Digital dan Sikap Tawadu

Bagikan :

Oleh: Tukijo, S.Pd., M.Pd.
Guru SMPN 17 Semarang
Mahasiswa S-3 Ilmu Pendidikan Bahasa, Universitas Negeri Semarang (UNNES)

DUNIA santri yang identik dengan kajian kitab kuning serta tradisi sorogan kini dihadapkan pada perkembangan digitalisasi. Tradisi pesantren memberikan ruang bagi para santri untuk menekuni kajian keilmuan melalui kehidupan pesantren. Persepsi masyarakat konvensional terhadap dunia santri pun tidak mudah diubah. Lantas, bagaimana sebaiknya dunia santri menghadapi hadirnya kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) dan berbagai platform digital lainnya?

Perkembangan AI di berbagai sektor bukan tanpa sebab. Berbagai aktivitas kehidupan kini dihadapkan pada pesatnya transformasi teknologi. Perlu dipahami bahwa kehadiran AI bukanlah ancaman yang harus ditakuti oleh para santri. Dunia pesantren justru dapat memanfaatkan AI sebagai alat bantu, dengan tetap menempatkan manusia sebagai pusat proses berpikir dan pengambilan keputusan.

Kendati demikian, AI tetap perlu digunakan secara bijak dalam proses pembelajaran di pesantren. Teknologi ini, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk membantu menelaah manuskrip dan kitab-kitab terdahulu, menyusun draf teks khotbah, serta mendukung kegiatan belajar lainnya. Namun, pemanfaatan tersebut harus diimbangi dengan daya kritis dan sikap tabayun. Artinya, setiap informasi yang diperoleh perlu diperiksa melalui proses literasi, analisis, dan kajian kritis sebelum dipercaya atau disebarluaskan.

Dalam kondisi semacam ini, santri tidak cukup menjadi pengguna pasif. Peran aktif santri bukan hanya memproduksi konten, melainkan juga menyaring informasi dan meluruskan disinformasi. Pada era AI, santri harus waspada terhadap potensi pemalsuan informasi, deepfake, dan berbagai manipulasi digital lainnya. AI dapat menjadi peluang untuk mengembangkan pengetahuan, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak merugikan apabila digunakan secara tidak bertanggung jawab.

Santri yang produktif dapat memanfaatkan AI secara bijak untuk memproduksi konten dakwah sekaligus mengkurasi informasi yang beredar di masyarakat. Dengan dukungan teknologi dan kebijaksanaan penggunanya, penyebaran informasi yang memicu sentimen negatif dan berpotensi memecah kerukunan dapat diantisipasi.

Sikap Tawadu di Tengah Transformasi Digital
Kini, santri berada di tengah rimba digital. Di satu sisi, mereka harus konsisten menjaga marwah pondok pesantren. Di sisi lain, perkembangan teknologi yang begitu cepat, termasuk AI, telah menjadi bagian dari dinamika kehidupan. Santri perlu bertransformasi menjadi pribadi yang kreatif, inovatif, dan kritis, tetapi tetap istikamah dalam menjaga etika serta sikap tawadu.

Literasi digital sebagai bagian dari transformasi pendidikan pesantren membawa arah baru dalam proses belajar. Para santri kini dapat mengakses informasi secara lebih luas, baik berupa berita, buku elektronik (e-book), jurnal, maupun video tutorial yang tersedia di luar lingkungan pesantren (Ali, 2019).

Berangkat dari pendapat Ali tersebut, transformasi pesantren dapat didorong melalui peningkatan literasi santri. Mereka perlu memperoleh wadah dan kesempatan untuk mengembangkan diri dengan mengakses teknologi terapan. Misalnya, santri dapat memanfaatkan video pembelajaran, buku elektronik, dan video dakwah sebagai sumber belajar. Langkah ini dapat memperkaya referensi digital multimodal yang mendukung proses pembelajaran di pondok pesantren.

Ke depan, kreativitas santri tidak seharusnya hanya berkutat pada tradisi pesantren, meskipun tradisi tersebut tetap penting untuk dipertahankan melalui penghormatan dan sikap tawadu kepada kiai. Santri juga perlu mengembangkan diri melalui berbagai bentuk kegiatan yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Salah satu contohnya ialah program pemasaran digital (digital marketing) bagi santri. Melalui program pengembangan bisnis pesantren, santri dapat menjadi pelopor usaha yang halal, kreatif, dan inovatif. Anggapan bahwa santri hanya sosok yang lugu dan terbatas pada pola pembelajaran konvensional perlu dijawab melalui kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk AI.

Perkembangan AI dalam berbagai bentuknya harus diimbangi dengan kemampuan literasi santri yang memadai. Dalam kondisi kehidupan yang serba cepat dan dinamis, rendahnya kemampuan literasi dapat membuat seseorang mudah terjebak dalam informasi yang keliru atau hasil manipulasi teknologi. Karena itu, penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan kemampuan berpikir kritis dan memverifikasi informasi.

Santri Bukan Penonton Pasif
Santri pada era digital bukan sekadar penonton pasif, melainkan juga pelaku perubahan yang kreatif. Kreativitas tersebut dapat dikembangkan melalui pembinaan, kerja sama, dan program unggulan yang menghubungkan pesantren dengan dunia industri. Misalnya, santri dapat mengembangkan konten digital, usaha percetakan, produksi video, animasi, dan berbagai materi promosi untuk produk halal. Berbagai bidang lain pun terbuka untuk dikembangkan sesuai dengan potensi dan kebutuhan pesantren.

Tentu saja, semua itu harus disertai dengan kemampuan beradaptasi terhadap teknologi secara tepat. Selain mampu berinovasi dengan AI, santri harus tetap menjaga marwah pesantren dan memegang teguh etika dalam bertransformasi secara digital. Dinamika masa depan perlu dihadapi dengan kesiapan belajar dan keterbukaan terhadap perubahan.

Santri tidak boleh terjebak dalam paradigma masa lalu. Mereka perlu membuktikan bahwa santri tetap menjadi bagian masyarakat yang dipercaya, mandiri, inovatif, percaya diri, dan memiliki semangat belajar tinggi.

Harus Menjaga Marwah Keilmuan Pesantren
Di sisi lain, santri tetap harus menjaga marwah keilmuan pesantren dan adab dalam kehidupan sehari-hari. Namun, menjaga tradisi bukan berarti membatasi diri dari persaingan dan inovasi di luar lingkungan pesantren. Teknologi telah merambah berbagai bidang kehidupan sehingga santri perlu beradaptasi dengan dinamika yang ada. Penguasaan teknologi terkini, termasuk AI, menjadi sebuah keniscayaan.

Santri tidak boleh hanya berorientasi pada banyaknya kegiatan sorogan, tetapi juga harus mampu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh untuk menghasilkan karya nyata. Dengan demikian, nilai-nilai pesantren dapat ditransformasikan ke dalam berbagai kegiatan yang lebih aplikatif melalui pemanfaatan teknologi.

Pada akhirnya, tantangan santri di era digital bukan sekadar menguasai teknologi, melainkan juga memastikan bahwa teknologi digunakan untuk tujuan yang bermanfaat. Sikap tawadu, penghormatan kepada kiai, keteguhan menjaga adab, serta kemampuan berpikir kritis harus berjalan beriringan. Dengan bekal tersebut, santri dapat menjadi generasi yang tidak hanya mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat tanpa kehilangan jati dirinya. (*)

 

BERITA TERKINI

Screenshot 2026-10-22 075124
Santri: Jalan Terjal Digital dan Sikap Tawadu
Screenshot 2026-10-22 073601
Merawat Akhlak, Menguasai Teknologi: Transformasi Santri untuk Masa Depan Indonesia
WhatsApp Image 2026-10-21 at 16.31
BNNP Jateng Ajak Warga Salatiga Tak Takut Rehabilitasi
WhatsApp Image 2026-10-21 at 19.52
RSUD Goeteng Raih Akreditasi Utama Periode 2026–2030
WhatsApp Image 2026-10-21 at 22.16
Belajar di Alam, Murid SMPN 3 Satap Rembang Asah Keterampilan Berbahasa