Seni Rupa sebagai Bahasa dan Terapi bagi Anak Neurodivergen

Bagikan :

Workshop seni rupa bagi anak-anak autism. (Foto: dokumentasi studio tanjakan 98 Yogyakarta)

YOGYAKARTA, EDUKATOR–Diskusi dan Workshop Seni Rupa untuk Terapi Anak Autistik Tingkat Nasional 2025, digelar di Aula Universitas Cendekia Mitra Indonesia, Jalan Ngeksigondo No. 60, Yogyakarta, Minggu (14/12/2025). Kegiatan bertema “Cara Unik Individu Neurodivergent Berbahasa Visual” ini diikuti peserta dari berbagai daerah, baik luring maupun daring.

Kegiatan diselenggarakan oleh Koperasi Konsumsi Cendekia Mitra Indonesia dengan dukungan civitas akademika Universitas Cendekia Mitra Indonesia serta bekerja sama dengan Studio Tanjakan 98.

Pembicara kunci (Keynote speaker) Hajar Pamadhi menekankan pentingnya seni rupa sebagai pendekatan neuroestetis bagi anak neurodivergen. “Terapi seni, khususnya melukis, merupakan kegiatan neuroestetis yang berfungsi melumaskan saraf otak sehingga fungsi neurokognitif dapat bekerja lebih optimal pada anak-anak neurodivergen,” ujar budayawan yang juga akademisi itu.

Pada sesi berikutnya, Samodro, seorang ayah dari anak neurodivergen (salah satu spektrum autis), Anugrah Fadly Kreato Seniman,  memaparkan pengalaman mendampingi putranya, sejak kecil melalui kegiatan seni rupa. Menurut Samodro, praktik seni pada awalnya tidak ditujukan sebagai terapi, namun berproses memberi dampak positif.

“Seiring bertambahnya usia, seni rupa membantu kemandirian, pengendalian emosi, dan cara berkomunikasi Anugrah hingga ia dapat bersekolah di sekolah umum,” katanya.

Samodro menambahkan, tidak semua aktivitas seni otomatis menjadi terapi.

“Terapi seni harus memberi ruang ekspresi batin sampai tercapai katarsis. Proses hands-on, tidak berorientasi hasil, dan memunculkan keterkejutan visual. Peran orang tua dan guru yang berlebihan justru bisa mengurangi fungsi terapeutiknya,” tegasnya.

Sementara itu, Dewan Pembina Yayasan Universitas Cendekia Mitra Indonesia, Agus Paryanto, menyatakan komitmen kampus dalam membangun pendidikan ramah neurodivergen.

“Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian kami terhadap masa depan anak-anak neurodivergen. Ke depan, Universitas Cendekia Mitra Indonesia berencana menerima mahasiswa neurodivergen maupun calon guru pada jenjang sarjana dan diploma,” ujarnya.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan workshop seni rupa yang dipandu Anugrah Fadly Kreato Seniman bersama relawan mahasiswa, dengan dukungan sponsor alat seni Giotto, Canson, dan Lyra.

Peserta tampak antusias berkarya sebagai bagian dari sosialisasi dan penguatan jejaring komunitas neurodivergen.

Selain itu, pengunjung juga menyaksikan pameran lukisan “DUA SISI” di Galeri Selasar Cendekia, yang menampilkan karya remaja neurodivergen dan neurotipikal.

Pada kesempatan tersebut, Hajar Pamadhi turut memberikan penjelasan dan analisis karya kepada peserta sebagai bagian dari edukasi apresiasi seni. (Harta Nining Wijaya)

 

BERITA TERKINI

audiensi2
Faperta Unsoed akan Reklamasi Tanah Tidak Produktif di Purbalingga
salut langgeng
Yuk, Kuliah di UT–Salut Langgeng Purbalingga
bnnk2
Seluruh Pegawai BNNK Purbalingga Jalani Pemeriksaan Tes Narkoba
persibangga1
Persibangga Menang Tipis Lawan PPSM Magelang
PRIYANTO10
Membaca Brainrot sebagai Gejala Pendidikan Digital:Sebuah Tinjauan Strategis