SMPN 3 Purbalingga Borong Juara I IPA dan Juara I IPS LPIR

Bagikan :

Tim peneliti dan pembimbing dari SMPN 3 Purbalingga, dari kiri ke kanan:  Adha Adinnuha Sigit Wibowo, Narella Andika Kinanti Rina Wahyuningsih M.Pd (pembimbing IPA0, Deni Irawati (pembimbing IPS), Niken Agustin Larasati dan Fatih Athar Aryansyah 

PURBALINGGA, EDUKATOR –SMP Negeri 3 Purbalingga memborong 2 kejuaraan sebagai juara 1 semua pada Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) Tingkat SMP/MTs Kabupaten Purbalingga Tahun 2026, yang digelar di Aula Dindikbud Purbalingga, Rabu-Kamis (21-22/10/2026). Di bidang IPA, Tim SMPN 3 Purbalingga menampilkan karya penelitian berjudul:KITANAS Spray: Pengaruh Edible Coating Berbasis Pati Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott), Kitosan, dan Ekstrak Kulit Nanas terhadap Susut Bobot, Warna, dan Masa Simpan Cabai Merah. Sedangkan di bidang IPS, tim sekolah ini menampilkan karya: Melek Teknologi Boros? Pengaruh Dompet Digital Terhadap Pembelian Impulsif Siswa SMPN 3 Purbalingga.

Kepala SMPN 3 Purbalingga Warsono S.Pd MM mengapresiasi atas raihan prestasi yang membanggakan ini. “Terima kasih kepada anak-anak, guru pembimbing, orang tua, komite sekolah dan berbagai pihak yang ikut berkontribusi dalam lomba LPIR tahun 2026,” ujar Warsono kepada EDUKATOR di SMPN 3 Purbalingga, Kamis (22/10/2026).

Kepala SMPN 3 Purbalingga Warsono S.Pd MM

LPIR 2026 diselenggarakan melalui kerja sama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPA SMP, MGMP IPS SMP, Dindikbud Kabupaten Purbalingga dan didukung Lembaga Bimbingan Belajar Genza Education.

Sebanyak 52 tim peserta terbagi dalam tiga cabang dalam lomba itu, yakni Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) 18 tim, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) 24 tim, dan Ilmu Pengetahuan Terapan (IPT) dengan delapan tim.

Pengawas pendamping SMPN 3 Purbalingga, Bangun Pracoyo, M.Pd (kanan) bersama tim peneliti IPA dan guru pembimbing penelitian Rina Wahyuningsih, M.Pd. 

KITANAS Spray
Guru pembina penelitian bidang IPA SMPN 3 Purbalingga Rina Wahyuningsih M.Pd ditemui terpisah mengatakan, penelitian berjudul KITANAS Spray: “Pengaruh Edible Coating Berbasis Pati Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott), Kitosan, dan Ekstrak Kulit Nanas terhadap Susut Bobot, Warna, dan Masa Simpan Cabai Merah” dilakukan oleh Narella Andika Kinanti dan Adha Adinnuha Sigit Wibowo, keduanya dari kelas 9G.

Penelitian itu bermula dari keprihatinan Narella dan Adha terhadap nasib petani cabai.Yakni ketika panen raya, produksi cabai yang melimpah sering kali membuat harga turun. Petani menghadapi pilihan sulit: menjual cabai dengan harga murah atau menyimpannya dengan risiko cepat layu dan membusuk.

Untuk itu, di bawah bimbingan guru IPA Rina Wahyuningsih M.Pd, mereka mengembangkan inovasi sederhana yang berpotensi membantu mengatasi masalah pascapanen cabai. Mereka menciptakan KITANAS Spray, yaitu larutan pelapis cabai berbahan pati talas, kitosan, dan ekstrak kulit nanas yang ditujukan untuk memperpanjang masa simpan cabai merah.

“Kami membuat KITANAS Spray karena prihatin dengan keadaan petani. Saat panen, harga cabai bisa murah. Kalau ditahan dan tidak dijual, cabai justru bisa membusuk. Karena itu, kami mencoba membuat ramuan agar cabai lebih tahan lama,” ujar Narella Andika Kinanti .

Narella Andika Kinanti

Adha Adinnuha Sigit Wibowo menimpali, bahan untuk membuat ramuan itu mudah didapat, murah, dan berasal dari bahan alami.

Adha Adinnuha Sigit Wibowo

Keduanya menjelaskan, pengembangan inovasi tersebut dilakukan melalui pencarian dan pengujian berbagai komposisi bahan.

“Kami mencari berbagai formula yang tepat, memilih bahan yang mudah didapat dan murah, kemudian meraciknya menjadi KITANAS Spray,” ungkapnya.

Memanfaatkan Bahan Lokal dan Limbah Pertanian
KITANAS merupakan singkatan dari Kitosan, Talas, dan Nanas. Ketiga bahan tersebut dipadukan dengan bahan pendukung untuk membentuk lapisan tipis pada permukaan cabai.

Pati talas digunakan sebagai bahan pembentuk lapisan, sedangkan kitosan berpotensi membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Ekstrak kulit nanas ditambahkan untuk mengeksplorasi potensi senyawa alami yang terkandung di dalamnya. Adapun bahan pendukung berupa carboxymethyl cellulose (CMC) dan gliserin digunakan untuk membantu menjaga kestabilan serta kelenturan lapisan.

Inovasi ini menarik karena memanfaatkan bahan yang relatif mudah dijumpai dan mengolah limbah kulit nanas menjadi bahan yang berpotensi memiliki nilai tambah. Pendekatan tersebut juga memperkenalkan kepada siswa pentingnya pemanfaatan sumber daya lokal dan pengembangan teknologi yang lebih ramah lingkungan.

Diuji Melalui Penelitian Sederhana
Penelitian KITANAS Spray dilaksanakan di Laboratorium IPA 1 SMP Negeri 3 Purbalingga pada Agustus 2026. Pengujian dilakukan selama 14 hari pada suhu ruang dengan membandingkan tiga perlakuan, yaitu cabai tanpa pelapis sebagai kontrol, cabai yang diberi pelapis berbahan pati talas dan kitosan, serta cabai yang diberi formulasi lengkap dengan tambahan ekstrak kulit nanas.

Adha dan Narella, saat keduanya sedang melakukan penelitian di laboratirium SMPN 3 Purbalingga. 

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa perlakuan dengan tambahan ekstrak kulit nanas memberikan hasil terbaik pada sejumlah indikator mutu yang diamati.
Rata-rata skor warna cabai pada perlakuan formulasi lengkap mencapai 3,28, lebih tinggi daripada perlakuan pelapis tanpa ekstrak kulit nanas sebesar 2,95 dan kelompok kontrol sebesar 2,76.

Dijelaskan, dalam pengamatan masa simpan, cabai pada kelompok kontrol bertahan rata-rata delapan hari, sedangkan perlakuan pelapis tanpa ekstrak kulit nanas mencapai sepuluh hari.

“Formulasi lengkap mampu mempertahankan kondisi cabai hingga rata-rata 11,3 hari,” jelas Adha Adinnuha .

Pengamatan terhadap kemunculan jamur juga menunjukkan hasil yang menarik. Jamur mulai terlihat pada kelompok kontrol pada hari ke-10 dan kelompok pelapis tanpa ekstrak kulit nanas pada hari ke-12. Sementara itu, pada kelompok dengan formulasi lengkap, pertumbuhan jamur tidak teramati hingga hari ke-14.Yaitu yaitu akhir periode pengamatan.

Masih Perlu Diperbaiki
Meski demikian, penelitian ini juga menemukan hal yang perlu diperbaiki. Hasil pengukuran susut bobot belum menunjukkan bahwa KITANAS Spray mampu mengurangi kehilangan massa cabai. Temuan tersebut menjadi bahan evaluasi penting bagi para siswa untuk menyempurnakan formulasi dan meningkatkan ketelitian pengukuran pada penelitian berikutnya.

Guru Berperan sebagai Fasilitator
Guru pembimbing, Rina Wahyuningsih, M.Pd., menjelaskan bahwa perannya bukan menentukan seluruh gagasan penelitian, melainkan memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan ide dan belajar memecahkan masalah.

“Saya sebagai guru hanya memfasilitasi. Saya menampung ide-ide dari murid melalui brainstorming, memberikan rambu-rambu dalam penyusunan proposal penelitian, serta membimbing mereka ketika menghadapi kesulitan,” jelas Rina Wahyuningsih, alumni S2 Universitas Negeri Malang tahun 2021 ini.

Pendekatan tersebut, lanjutnya, menunjukkan pentingnya pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir kritis, mengajukan gagasan, melakukan percobaan, mengolah data, dan merefleksikan hasilnya. Siswa tidak sekadar mempelajari konsep dalam buku, tetapi juga berlatih menggunakan pengetahuan untuk menjawab persoalan nyata di lingkungan sekitar.

Belajar STEM dari Persoalan Nyata
Pengembangan KITANAS Spray menjadi contoh penerapan pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dalam pembelajaran di sekolah.
Unsur sains terlihat dalam kajian tentang pembusukan cabai dan potensi bahan alami.

Teknologi hadir melalui pengembangan larutan pelapis. Rekayasa dilakukan saat siswa merancang serta menguji formulasi, sedangkan matematika digunakan untuk mengukur susut bobot, menghitung rata-rata, membandingkan hasil perlakuan, dan menarik kesimpulan berdasarkan data.

Lebih dari sekadar menghasilkan produk, proses ini mengajarkan siswa bahwa inovasi tidak selalu berawal dari teknologi yang mahal. Inovasi dapat tumbuh dari kepedulian terhadap masalah di sekitar, keberanian mencoba, ketekunan melakukan pengujian, dan kesediaan memperbaiki kekurangan.

Rina Wahyuningsih menjelaskan, KITANAS Spray masih memerlukan penelitian lanjutan sebelum dapat direkomendasikan untuk penggunaan lebih luas. Pengujian dengan alat ukur yang lebih teliti, jumlah sampel yang lebih besar, serta kondisi penyimpanan yang terkontrol diperlukan untuk memastikan konsistensi hasilnya.

“Keamanan bahan dan mutu cabai setelah perlakuan juga perlu dikaji,” ujarnya.

Namun, langkah yang dilakukan Narella dan Adha patut diapresiasi. Mereka telah menunjukkan bahwa siswa SMP pun dapat menjadi peneliti muda yang peka terhadap persoalan masyarakat dan berani menawarkan solusi berbasis potensi lokal.

Dari laboratorium sekolah, sebuah gagasan sederhana lahir dengan harapan besar: membantu petani, mengurangi potensi kerugian pascapanen, dan menumbuhkan budaya inovasi sejak dini.

Juara 1 Bidang IPS
Sementara itu, di bidang IPS, Tim SMPN 3 Purbalingga membawakan karya penelitian berjudul : Melek Teknologi Boros? Pengaruh Dompet Digital Terhadap Pembelian Impulsif Siswa SMP N 3 Purbalingga. Dua siswa terlobat daam penelitian ini, Fatih Athar Aryansyah dari Kelas 8H, dan Niken Agustin Larasati dari kelas 8A. Guru pembimbingnya adalah guru IPS Deni Irawati, S.Pd.

Pengawas pendamping SMPN 3 Purbalingga, Bangun Pracoyo, M.Pd (kanan) bersama tim peneliti IPS :      Fatih Athar Aryansyah dari Kelas 8H, dan Niken Agustin Larasati dari kelas 8A.

Impulsif adalah sikap atau tindakan yang dilakukan secara spontan, terburu-buru, dan mengikuti dorongan sesaat tanpa berpikir panjang tentang akibatnya.

Dalam bahasa sederhana, orang yang impulsif cenderung bertindak dahulu, baru berpikir kemudian.

Fatih Athar Aryansyah yang juga Ketua OSIS SMPN 3 Purbalingga menjelaskan, perkembangan teknologi pembayaran digital meningkatkan kemudahan bertransaksi dan berpotensi mendorong pembelian impulsif pada remaja yang pengendalian dirinya belum optimal.

“Penelitian kami bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan dompet digital terhadap pembelian impulsif siswa SMP Negeri 3 Purbalingga,” jelasnya.

Fatih Athar Aryansyah  dan Niken Agustin Larasati saat presentasi dalam penelitian bidang IPS di salah satu kelas di SMPN 3 Purbalingga.

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling terhadap 90 siswa pengguna dompet digital. Data dikumpulkan melalui angket skala Likert berbasis Google Form dengan 18 pernyataan yang valid dan reliabel.

Data kemudian dianalisis dengan SPSS versi 25 melalui statistik deskriptif, uji asumsi klasik, dan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata penggunaan dompet digital dan pembelian impulsif.

SPSS singkatan dari Statistical Package for the Social Sciences, yaitu perangkat lunak atau aplikasi komputer yang digunakan untuk mengolah, menganalisis, dan menafsirkan data penelitian secara statistik.

Secara sederhana, SPSS membantu peneliti mengubah data yang masih berupa angka-angka menjadi hasil analisis yang lebih mudah dipahami dan digunakan untuk menarik kesimpulan.

Dari analisis itu, diketahui siswa SMP Negeri 3 Purbalingga berada pada kategori tinggi. Hasil penelitian dari Uji T menunjukkan pengaruh positif dan signifikan. Uji determinasi menunjukkan angka 0,298 yang berarti dompet digital berkontribusi 29,8% terhadap pembelian impulsif, sedangkan 70,2% dipengaruhi faktor lain. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi penggunaan dompet digital, semakin tinggi kecenderungan pembelian impulsif siswa.

Untuk itu, siswa disarankan menyusun skala prioritas kebutuhan dan penyedia layanan disarankan menyediakan fitur pembatas anggaran. “Sebaga peneliti, kami mengajak teman-teman untuk menerapkan prinsip *Bijak Dulu, Baru Klik Bayar* agar terhindar dari pembelian impulsif,” ajak Fatih Athar dan Niken Agustin. (Bangun Pracoyo/Prs)

BERITA TERKINI

Screenshot 2026-10-22 200134
SMPN 3 Purbalingga Borong Juara I IPA dan Juara I IPS LPIR
rri pwt
Bakat Murid SD se-Karangmoncol akan Tayang di IDOLA RRI Purwokerto
WhatsApp Image 2026-10-22 at 12.52
IAPA Desak Meritokrasi dan Etika Pemerintahan Diperkuat
WhatsApp Image 2026-10-22 at 14.11
Ziarah Hari Santri Bersama Wabup Dimas, Perkuat Toleransi
WhatsApp-Image-2026-10-22-at-09.54
62 Guru PAUD Dilatih Kuasai Pembelajaran Digital