*Sosialisasi FKUB Tanamkan Moderasi Beragama Sejak Dini
Murid-murid SMPN 3 Purbalingga mengikuti sosialisasi dari FKUB. (Foto: Prasetiyo/EDUKATOR)
PURBALINGGA, EDUKATOR--SMP Negeri 3 Purbalingga menjadi contoh nyata sekolah yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan keberagaman antarumat beragama. Hal itu tampak dari struktur kepengurusan OSIS yang dari tahun ke tahun di dalamnya terdiri dari murid berbagai agama, diantaranya Islam, Kristen, dan Katolik.
“Inilah wujud Bhinneka Tunggal Ika di SMPN 3 Purbalingga,” ujar Kepala SMPN 3 Purbalingga Subarno, S.Pd saat membuka kegiatan Sosialisasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Purbalingga, Kamis (13/11), di Aula SMPN 3 Purbalingga.
Sambutan Kepala SMPN 3 Purbalingga, Subarno, S.Pd
Kegiatan yang diikuti murid kelas 7, 8, dan 9 itu menghadirkan tiga narasumber dari FKUB Kabupaten Purbalingga. Yakni K.H. Nurkholis Masrur, S.Sos (Ketua FKUB), H. Enan, M.Pd (anggota FKUB dari Muhammadiyah), dan Pdt. Bagus Imam Tjahyono, S.Th (anggota FKUB dari Kristen), sekaligus bertindak sebagai pemandu acara.
Dalam sambutannya, Subarno mengapresiasi kiprah FKUB yang telah berperan menanamkan semangat persaudaraan lintas iman di kalangan pelajar. “Kami berterima kasih karena FKUB tidak hanya berbicara tentang kerukunan, tapi menanamkannya langsung di sekolah kami,” ujarnya.
Pdt Bagus Imam Thajyono, S.Th, moderator sosialisasi
Sesi sosialisasi berlangsung hidup dan penuh keakraban. Pdt. Bagus Imam Tjahjono memulai dengan salam semangat, yang ditirukan para murid dengan kompak. “Selamat pagi, salam sehat, salam merah putih, salam toleransi!”.
Selanjutnya tampil sebagai narasumber pertama, K.H. Nurkholis Masrur yang menyampaikan bahwa peran FKUB adalah sebagai pemersatu bangsa. Ia mencontohkan bagaimana pemuda lintas agama di Purbalingga menjaga rumah ibadah saat hari besar keagamaan.
Ketua FKUB Purbalingga, K.H. Nurkholis Masrur
Indahnya Toleransi
“Ketika Idul fitri tiba, pemuda Kristen . Katolik, Budha dan Konghucu di Purbalingga ikut menjaga sholat Id di Alun-alun. Sebalinya, saat perayaan Natal tiba, sekelompok pemuda NU maupun Muhammadiyah berjaga di gereja-gereja. Inilah indahnya toleransi,” tuturnya.
Ia juga berpesan agar murid-murid SMPN 3 Purbalingga belajar agama masing-masing secara mendalam, karena orang yang agamanya kuat akan memiliki toleransi tinggi.
Hidup rukun meskipun berbeda agama
Toleransi, lanjut Nurkholis, dimaknai sebuah tindakan menghormati perbedaan dan memberi ruang orang lain untuk berkeyakinan, mengekspresikan keyakinannya, dan menyampaikan pendapat serta menghargai kesetaraan dan sedia bekerjasama.
Nurkholis juga berpesan, meskipun berbeda agama dan suku, murid-murid SMPN 3 Purbalingga tidak boleh saling mengejek, membuly, memfitnah, menghina dan sebagainya yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Sebaliknya, dituntut untuk hidup rukun, damai, gotong royong dan saling kerjasama.
“Marilah kita menjadi sahabat bagi siapapun, tanpa memandang perbedaan,” ajaknya.
Moderasi Beragama
Pada sesi kedua, H. Enan, M.Pd memaparkan materi tentang Moderasi Beragama. Moderasi dalam kamus Bahasa Indonesia memiliki dua makna. Pertama, pengurangan kekerasan. Dan kedua, penghindaran keekstreman.
H Enan, M.Pd, anggota FKUB Purbalingga
“Moderasi berama berarti cara pandang, sikap, dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrim dalam beragama,” ujar H Enan yang juga kepala SMK Muhammadiyah 1 Purbalingga. (Prasetiyo)