Takwa sebagai Etos Hidup di Tengah Krisis Moral

Bagikan :

Oleh: Priyanto, M.Pd.I
Kepala SMP N 3 Kutasari, Plt. Kepala SMP N 1 Kutasari
dan Litbang MKKS SMP Kab. Purbalingga

DI TENGAH  hiruk-pikuk kehidupan modern, kata takwa sering terdengar, tetapi kerap terasa jauh dari praktik keseharian. Ia hadir dalam khutbah, doa, dan seremoni keagamaan, namun belum tentu menjelma menjadi etos hidup. Padahal, Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa takwa adalah inti perjalanan manusia beriman.

Dalam QS. Ali ‘Imran: 102, Allah menyeru, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” Seruan ini bukan sekadar perintah ritual, melainkan panggilan eksistensial: menjadikan kesadaran akan kehadiran Tuhan sebagai fondasi dalam setiap aspek kehidupan.

Takwa sering dimaknai sebagai “takut kepada Allah”. Namun, rasa takut yang dimaksud bukan ketakutan pasif yang melumpuhkan, melainkan kesadaran aktif yang menuntun. Takwa adalah kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi moral dan spiritual. Ia menjadi rem batin yang bekerja bahkan ketika tidak ada pengawasan manusia.

Al-Qur’an dalam QS. Al-Baqarah: 183 menegaskan bahwa puasa diwajibkan “agar kamu bertakwa.” Artinya, seluruh ritual ibadah bermuara pada pembentukan karakter. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan mengendalikan diri. Jika setelah Ramadan seseorang masih mudah marah, gemar memfitnah, atau abai terhadap keadilan, berarti ada proses pembelajaran spiritual yang belum tuntas.

Krisis Moral dan Relevansi Takwa

Di sinilah takwa menjadi sangat relevan. Kita tengah menghadapi krisis moral yang tidak selalu tampak di permukaan. Korupsi, manipulasi, intoleransi, hingga kekerasan verbal di ruang digital menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan. Pendidikan tinggi tidak selalu sejalan dengan kejujuran, dan kemajuan teknologi tidak selalu diiringi kedewasaan etika.

Takwa menawarkan dimensi batin yang sering terabaikan. Ia bekerja di wilayah yang tidak terjangkau hukum positif. Undang-undang mungkin mampu menghukum pelanggaran yang terlihat, tetapi takwa mencegah pelanggaran sebelum terjadi. Ia adalah pengawasan internal yang tidak mengenal ruang dan waktu.

Allah menjanjikan dampak nyata dari takwa. Dalam QS. At-Talaq: 2–3 ditegaskan bahwa siapa yang bertakwa akan diberi jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Ini bukan sekadar janji spiritual, melainkan prinsip sosial. Individu yang bertakwa cenderung jujur, disiplin, dan bertanggung jawab—nilai-nilai yang membuka peluang dan menumbuhkan kepercayaan.

Lebih jauh, QS. Al-Hujurat: 13 menegaskan bahwa kemuliaan manusia di sisi Allah ditentukan oleh takwanya, bukan oleh harta, jabatan, atau latar belakang sosial. Pesan ini terasa relevan di tengah masyarakat yang sering mengukur nilai manusia dari simbol-simbol eksternal. Takwa meruntuhkan hierarki semu dan mengembalikan ukuran kemuliaan pada kualitas moral.

Takwa dalam Tindakan Nyata

Takwa bukan konsep abstrak. Ia harus diterjemahkan dalam tindakan konkret. Takwa tampak dalam kejujuran pedagang yang menolak mengurangi timbangan. Takwa hadir pada pejabat yang menolak suap meski peluang terbuka lebar. Takwa terlihat pada warga yang menahan diri untuk tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.

Dalam kehidupan berbangsa, takwa dapat menjadi fondasi etika publik. QS. Al-Ma’idah: 8 menegaskan bahwa berlaku adil lebih dekat kepada takwa. Nilai ini mendorong pemimpin bersikap adil dan masyarakat menjaga lisan serta menghindari prasangka. Takwa mengajarkan keseimbangan antara hak dan kewajiban.

Menumbuhkan Takwa di Era Pragmatisme

Lalu, bagaimana menumbuhkan takwa di tengah arus pragmatisme?

Pertama, membangun kesadaran spiritual melalui ibadah yang reflektif, bukan sekadar formalitas. Shalat, puasa, dan tilawah seharusnya menjadi ruang evaluasi diri.

Kedua, memperkuat pendidikan karakter berbasis nilai transenden. Sekolah dan keluarga tidak cukup hanya menanamkan keterampilan, tetapi juga integritas.

Ketiga, menciptakan budaya sosial yang menghargai kejujuran dan konsistensi, bukan semata-mata pencapaian material.

Takwa pada akhirnya adalah bekal kehidupan. Dalam QS. Al-Baqarah: 197 Allah mengingatkan, “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” Hidup adalah perjalanan panjang yang tidak berhenti pada batas usia. Harta, popularitas, dan jabatan akan tertinggal; yang menyertai hanyalah kualitas diri.

Cahaya Kecil di Tengah Krisis

Di tengah dunia yang serba cepat dan kompetitif, takwa mungkin terdengar sederhana. Namun dalam kesederhanaannya, ia menyimpan kekuatan transformasi. Ia mengubah individu dari dalam, lalu memantul ke ruang sosial yang lebih luas.

Jika takwa benar-benar menjadi etos hidup, kejujuran tidak lagi terasa berat, keadilan tidak lagi dianggap naif, dan kebaikan tidak lagi dipandang sebagai kelemahan. Takwa menjadikan manusia kuat tanpa menindas, tegas tanpa kehilangan empati, dan berhasil tanpa kehilangan nurani.

Mungkin kita tidak dapat mengubah dunia secara seketika. Namun dengan menumbuhkan takwa dalam diri, kita sedang menyalakan satu cahaya kecil di tengah gelapnya krisis moral. Dari cahaya-cahaya kecil itulah peradaban yang bermartabat dibangun.(***)

BERITA TERKINI

Mendikdasmen
Anggaran Pendidikan 2026 Naik, 43 Juta Murid Terima MBG
PRIYANTO1
Takwa sebagai Etos Hidup di Tengah Krisis Moral
polres1
Polres Purbalingga Ungkap Dua Kasus Narkoba
luminor1
Luminor Hotel Purwokerto Luncurkan “Shining Six Ramadan Kareem – Iftar All You Can Eat”
peng2
Puluhan ASN Setda Banyumas Ikuti Pengajian Ramadan