*Rasakan Hangatnya Masjid Ramah Pemudik di Desa Gembong

Edi Rasidi (50), penjual Siomay Ikan saat singgah di Masjid Daarunnajaa, Desa Gembong, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga.
PURBALINGGA, EDUKATOR–Banyak kisah menarik dan unik mewarnai arus mudik menjelang Lebaran ini. Salah satunya dialami Edi Rasidi (50) , penjual Siomay Ikan yang menempuh perjalanan dari Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap menuju Desa Banyumudal, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang. Ia berjalan kaki menuju kampung halamanya itu, sambil mendorong gerobak Siomay.
Jarak perjalanan tersebut diperkirakan sekitar 130 kilometer, yang jika ditempuh menggunakan sepeda motor hanya memerlukan waktu sekitar tiga jam. Namun, Edi memilih melewati jalur berkelok dan menanjak di wilayah Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga dan kawasan Belik, Pemalang dengan berjalan kaki.
Di gerobaknya itu, terdapat tulisan di kertas yang ditempel : “Demi sungkem nyong mudik. Mlaku Cilacap-Pemalang. Cilacap Mudik Pemalang. Mlaku”
Edi memulai perjalanan pada Senin (16/3/2026) pukul 06.00 WIB dan menargetkan tiba di kampung halamannya pada Jumat (20/3/2026) malam. Ia memilih berjalan kaki untuk menunaikan nazar , setelah sebelumnya mengalami kecelakaan pada kaki hingga sempat tidak bisa berjalan.

Singgah sebentar untuk beristirahat di Masjid Daarunnajaa, Desa Gembong, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga.
Singgah di Masjid Ramah Pemudik
“Saya berangkat Senin pagi jam 6. Target sampai Pemalang empat hari empat malam. Mudah-mudahan bisa lebih cepat,” ujarnya saat beristirahat di Masjid Daarunnajaa, Desa Gembong, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga, Selasa (17/3/2026) sekitar pukul 08.30 WIB.

Bagian depan Masjid Daarunnajaa, Desa Gembong, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga.
Lokasi tersebut diperkirakan berada pada kisaran 80 kilometer dari titik awal keberangkatan, menandakan ia telah menempuh lebih dari separuh perjalanan.
Di masjid itu, Edi mendapat pelayanan dari program Masjid Ramah Pemudik yang diinisiasi Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga. Ia dipersilakan beristirahat tanpa prosedur rumit, serta memanfaatkan fasilitas seperti kamar mandi, air minum, hingga pengisian daya telepon seluler.
“Alhamdulillah pelayanannya sangat ramah. Saya dipersilakan mandi, istirahat, bahkan disediakan tempat untuk mengisi daya HP. Semuanya gratis,” ungkapnya kepada EDUKATOR.
Kepala KUA Bojongsari, Mutohir, mengatakan masjid tersebut disiapkan sebagai titik layanan bagi pemudik. “Kami menyediakan tempat istirahat, makanan ringan, air minum, hingga ruang ibadah yang nyaman,” jelasnya.
Tekad, Medan Berat, dan Harapan
Perjalanan ini menjadi pengalaman terjauh bagi Edi. Ia membawa gerobak dagangannya untuk kembali berjualan Siomay Ikan di kampung halaman setelah sebelumnya merantau dari Pemalang ke Cilacap.
Dengan bekal sekitar Rp 40 ribu dan sandal jepit, ia akan melewati jalur pegunungan dengan sejumlah tanjakan ekstrem, termasuk di Bayeman, yang masuk wilayah Desa Tlahab Lor, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Juga tanjakan panjang di daerah Belik, Pemalang.
“Saya akan melewati tanjakan panjang dan berat itu, dan saya sudah siap. Yang penting bisa ketemu keluarga,” katanya.
Di sela perjalanan, Edi juga membagikan kisahnya melalui siaran langsung di TikTok dan mendapat dukungan dari warganet.
Pagi itu, setelah beristirahat cukup untuk memulihkan tenaga di Masjid Daarunnajaa, Desa Gembong, ia kembali melanjutkan perjalanan menuju kampung halamannya.
Baginya, singgah di masjid bukan sekadar melepas lelah, tetapi juga menjadi sumber semangat untuk menuntaskan perjalanan panjang demi berkumpul bersama keluarga saat Hari Raya Idul fitri 1447 Hijriyah tiba. (Sri Lestari/Prs)