
Dr. Lilik Kartika Sari, S.Pi., M.Si sedang menjelaskan tentang Biopori kepada warga Desa Planjan, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap
CILACAP, EDUKATOR–Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) di Desa Planjan, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap menggelar penyuluhan dan sosialisasi biopori. Kegiatan yang diikuti 24 warga Desa Planjan itu, terdiri perwakilan setiap dusun, kepala dusun dan perangkat desa berlangsung di Balai Desa Planjan, Selasa (27/1/2026).
Sebagai narasumber dalam kesempatan tersebut, Tim Pascasarjana Unsoed, terdiri Dr. Lilik Kartika Sari, S.Pi., M.Si., Dr. Diana RUSR, M.Si., Dr. Ir. Tri Nur Cahyo, M.Si., Prof. Dr. Maria DNM, M.Sc., dan Dr. Dindy D Putri, M.Si. Mereka memberikan materi “Biopori, Mengolah Sampah Mejadi Berkah”, baik secara teori, dilanjut praktik membuat biopori.
Dr Lilik Kartika yang juga dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unsoed menjelaskan, Biopori adalah lubang sedalam 80-100cm dengan diameter 10-30 cm, dimaksudkan sebagi lubang resapan untuk menampung air hujan dan meresapkannya kembali ke tanah”
“Biopori dapat memperbesar daya tampung tanah terhadap air hujan, mengurangi genangan air, yang selanjutnya mengurangi limpahan air hujan turun ke sungai,” ujarnya.
Delapan Manfaat Biopori
Lubang biopori, lanjut Lilik Kartika, memiliki delapan manfaat. Pertama, memaksimalkan air yang meresap ke dalam tanah sehingga menambah air tanah. Kedua, membuat kompos organik alami dari sampah organik daripada sampah di bakar. Ketiga, mengurangi genangan air yang menimbulkan penyakit. Keempat, mengurangi resiko banjir di musim hujan.
Kelima, mengurangi air hujan yang terbuang ke laut. Keenam, mencegah terjadinya erosi tanah dan tanah longsor. Ketujuh, memaksimalkan peran dan aktivitas flora dan fauna tanah. Dan kedelapan, mendukung pertumbuhan tanaman di sekitar lubang biopori.
Membuat Biopori
Cara Membuatnya Mudah
Membuat biopori sebenarnya sangat praktis dan mudah. Berikut panduannya :
| Tahapan | Langkah Kerja | Detail & Tips |
| 1. Persiapan Lokasi | Pilih area yang sering tergenang air atau di sekitar pohon. | Cari tanah yang tidak terlalu keras agar mudah dibor. Lokasi ideal: taman, halaman, atau dekat saluran air hujan. |
| 2. Penggalian | Gunakan bor biopori, buat lubang vertikal ke dalam tanah. |
Kedalaman: 80–100 cm.
Diameter: 10–30 cm. |
| 3. Penguatan Bibir Lubang | Gunakan semen atau potongan pipa PVC (paralon) di bagian atas. | Beri semen selebar 2 cm di sekeliling mulut lubang agar tanah tidak longsor masuk kembali ke dalam. |
| 4. Pengisian Sampah
|
Masukkan sampah organik (sisa dapur, daun kering) sampai penuh. | Sampah ini adalah “pancingan” untuk cacing agar membuat terowongan (pori-pori) di dalam tanah. |
| 5. Penutupan | Tutup lubang dengan tutup yang berlubang-lubang (kawat/plastik). | Tujuannya agar aman tidak terperosok dan mencegah sampah plastik masuk, tapi air tetap bisa lewat. |
| 6. Pemeliharaan | Tambahkan sampah jika volume menyusut. | Lubang harus selalu terisi sampah organik agar organisme tanah terus aktif bekerja. |
| 7. Pemanenan | Ambil kompos yang sudah jadi menggunakan alat bor. |
Sampah Dapur: Jadi kompos dalam ±2 minggu.
Sampah Kebun: Jadi kompos dalam ±2 bulan. |
Diterapkan di Lingkungan Rumah Masing-masing
Menutup kegiatan tersebut, Kepala Desa Planjan, Daryono, S.T., menyampaikan rasa terima kasih atas ilmu yang dibagikan oleh tim akademisi Unsoed. Ia berharap warga Desa Planjan dapat segera menerapkan teknologi ini di lingkungan rumah masing-masing.
“Kehadiran Tim Pascasarjana Unsoed sangat memotivasi kami. Kami berkomitmen untuk menjadikan Desa Planjan lebih asri dengan menerapkan biopori ini, sehingga masalah genangan air dan penumpukan sampah organik dapat teratasi secara mandiri,” tekad Daryono. (Prasetiyo)