Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Bisa Gagal, Jika Orang Tua Tak Tegas Soal HP

Bagikan :

Oleh:Ākhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari
Kabupaten Purbalingga

PROGRAM 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat hadir sebagai ikhtiar penting untuk membangun generasi yang utuh: kuat fisik, sehat mental, matang sosial, dan kokoh spiritual. Tujuh kebiasaan tersebut – Tidur Cepat, Bangun Pagi, Gemar Belajar, Berolahraga, Bermasyarakat, Makan Sehat, dan Beribadah – bukan sekadar slogan, melainkan fondasi karakter yang semestinya dibentuk sejak dini.

Namun, di tengah derasnya arus digital, tujuan besar itu menghadapi tantangan serius. Dalam praktik keseharian, pembiasaan baik sering kali kalah oleh kebiasaan baru yang tumbuh perlahan tetapi kuat: anak semakin lekat dengan layar telepon genggam (HP). Gawai yang seharusnya menjadi alat bantu, dalam banyak kasus justru berubah menjadi pusat perhatian utama anak. Akibatnya, waktu tidur bergeser, konsentrasi belajar terganggu, aktivitas fisik menurun, dan interaksi sosial melemah.

Pengaruh HP
Persoalan ini tidak cukup dibaca sebagai “anak kebanyakan main HP”. Lebih dari itu, penggunaan gawai yang tidak terkontrol telah mengganggu proses pembentukan kebiasaan dasar yang semestinya menjadi penopang masa depan mereka.

Kebiasaan yang paling mudah runtuh akibat gawai adalah Tidur Cepat. Banyak anak terbiasa menonton video, bermain game, atau berselancar di media sosial hingga larut malam. Dampaknya pun terasa keesokan hari: anak mengantuk di kelas, sulit fokus, cepat lelah, bahkan mudah tersulut emosi. Sekolah sering menjadi tempat “panen” dari kebiasaan tidur larut ini. Pada titik tertentu, pembelajaran sebaik apa pun akan sulit maksimal jika kondisi tubuh anak tidak siap.

Kebiasaan Gemar Belajar juga mengalami tekanan besar. Ketika anak terbiasa dengan hiburan instan dari layar, proses belajar yang menuntut ketekunan menjadi terasa berat dan membosankan. Membaca buku kalah menarik dibanding menggulir konten tanpa henti. Mengerjakan tugas kalah seru dibanding permainan daring. Jika dibiarkan, kondisi ini tidak hanya menurunkan prestasi akademik, tetapi juga mengikis kemampuan anak untuk tekun, sabar, dan konsisten, sebagai keterampilan penting dalam kehidupannya.

Berikutnya, kebiasaan Berolahraga turut menurun. Anak lebih sering duduk lama di depan layar daripada bergerak. Aktivitas fisik berkurang, kebugaran melemah, dan risiko kesehatan meningkat. Padahal, olahraga adalah pilar penting dalam membangun daya tahan tubuh dan ketahanan mental anak.

Tidak berhenti di situ, kebiasaan Bermasyarakat pun ikut terkikis. Anak menjadi lebih akrab dengan dunia virtual dibanding lingkungan nyata. Interaksi sosial langsung berkurang. Nilai empati, komunikasi, gotong royong, dan kebersamaan tidak terasah. Anak seolah hadir di rumah, tetapi pikirannya “berada di tempat lain” -, yaitu di layar kecil yang terus digenggamnya.

Tidur Larut Malam
Sementara itu, kebiasaan Bangun Pagi dan Makan Sehat sering terdampak secara tidak langsung. Anak yang tidur larut malam otomatis sulit bangun pagi. Pagi yang terburu-buru membuat sarapan terlewat. Pola makan menjadi tidak teratur dan sering diganti makanan instan yang kurang sehat.

Adapun kebiasaan Beribadah, sangat bergantung pada keteladanan dan pembiasaan. Tanpa contoh nyata dari keluarga dan lingkungan, anak akan sulit menjadikan ibadah sebagai kebutuhan batin, bukan sekadar rutinitas formal.

Dari kondisi tersebut tampak jelas bahwa pembentukan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat tidak cukup diserahkan pada sekolah, apalagi hanya dibebankan kepada anak. Kebiasaan baik memerlukan ekosistem. Tanpa dukungan rumah dan lingkungan, sekolah seakan bekerja sendirian menghadapi arus besar pengaruh digital.

Pertanyaan pentingnya adalah bagaimana strategi kolaboratif orang tua, sekolah, dan lingkungan agar anak mampu membangun 7 kebiasaan tersebut secara efektif di tengah kuatnya pengaruh HP?

Strategi Kolaboratif Rumah–Sekolah–Lingkungan
Menghadapi persoalan ini, solusi terbaik bukan sekadar melarang, apalagi memusuhi teknologi. Yang dibutuhkan adalah pengaturan, pendampingan, dan keteladanan. Gawai harus dikembalikan pada fungsinya sebagai alat bantu, bukan penguasa waktu anak.

1) Orang Tua sebagai Pengendali Utama dan Teladan Digital
Rumah adalah sekolah pertama. Orang tua memegang kendali utama karena merekalah yang paling dekat dengan rutinitas anak. Langkah konkret yang dapat dilakukan orang tua antara lain:
a) Membuat kesepakatan jam layar (screen time) yang jelas.
b) Membatasi penggunaan HP pada malam hari, terutama menjelang tidur.
c) Menetapkan aturan “HP berhenti” minimal satu jam sebelum tidur.
d) Memberi contoh: orang tua tidak sibuk dengan HP saat makan, belajar, atau waktu keluarga.
e) Menyusun rutinitas harian: jadwal tidur, bangun, belajar, olahraga ringan, dan ibadah bersama.
f) Mendampingi anak berdialog tentang konten digital, bukan hanya mengawasi sepihak.
g) Ketegasan orang tua bukan berarti keras, melainkan konsisten. Anak butuh batasan yang jelas agar mampu mengelola kebebasan.

2) Sekolah sebagai Penguat Budaya dan Pengawasan Edukatif
Sekolah juga perlu menjadi ruang penguat karakter, bukan sekadar tempat mengejar target akademik. Beberapa langkah yang dapat dilakukan sekolah, diantaranya;
a) Membuat kebijakan penggunaan HP yang tegas tetapi edukatif, misalnya HP disimpan selama jam pelajaran.
b) Mengintegrasikan 7 kebiasaan ke dalam budaya sekolah: literasi pagi, olahraga bersama, pembiasaan ibadah, program kebersihan, dan kepedulian sosial.
c) Menguatkan literasi digital agar anak mampu mengelola gawai dengan bijak.
d) Mengadakan kelas parenting serta komunikasi rutin agar orang tua dan sekolah berjalan searah.
Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar ilmu, tetapi juga tempat belajar hidup.

3) Lingkungan sebagai Ruang Sosial yang Menghidupkan Kebiasaan
Lingkungan sekitar menentukan keberlanjutan kebiasaan anak di luar sekolah. Di lingkungan, upaya yang bisa dilakukan misalnya:
a) Menghidupkan kembali permainan tradisional dan kegiatan sosial anak.
b) Menyediakan ruang bermain aman agar anak mau bergerak dan bersosialisasi.
c) Membangun kontrol sosial positif: norma penggunaan HP yang sehat disepakati bersama.
d) Tokoh masyarakat dan tokoh agama memberi teladan dalam disiplin, kebersamaan, dan spiritualitas.
Jika lingkungan mendukung, anak akan memiliki alternatif kegiatan selain layar.

4) Sinergi Tiga Pilar: Satu Suara, Satu Aturan
Kunci keberhasilan adalah konsistensi aturan dan keselarasan nilai. Anak tidak boleh menerima pesan atau aturan yang bertentangan: di rumah bebas HP, di sekolah dilarang, atau sebaliknya. Karena itu, sinergi dapat diwujudkan melalui:
1) Kesepakatan bersama rumah–sekolah tentang penggunaan HP;
2) Dibuatnya Program kolektif seperti Gerakan Malam Tanpa Gawai, Hari Bermain Tradisional, atau Pekan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, dan;
3) Evaluasi berkala perkembangan kebiasaan anak melalui komunikasi tiga arah.

Membangun generasi hebat tidak cukup dengan jargon dan poster. Kebiasaan baik hanya akan tumbuh jika didukung oleh ekosistem yang sehat. Jika rumah, sekolah, dan lingkungan berjalan sendiri-sendiri, maka gawai akan menang – pelan tetapi pasti. Namun bila ketiganya bersinergi, HP tidak lagi menjadi ancaman, melainkan bisa diarahkan sebagai alat bantu belajar dan penguat kreativitas.

Dengan pendampingan yang konsisten dan keteladanan yang nyata, 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat bukan hanya mungkin diwujudkan, tetapi dapat menjadi budaya baru yang membentuk generasi disiplin, sehat, peduli, serta berkarakter kuat di tengah tantangan zaman. Kerja sama yang harmonis pada seluruh lini tersebut adalah kunci untuk membentengi anak sekaligus menyiapkan mereka menyongsong Indonesia Emas 2045.

Daftar Pustaka
1. https://cerdasberkarakter.kemendikdasmen.go.id/gerakan7kebiasaan/
2. https://mtsn8sleman.sch.id/blog/pentingnya-kolaborasi-antara-sekolah-dan-keluarga-dalam-mendukung-pendidikan-anak/
3. https://guruinovatif.id/artikel/membangun-sekolah-yang-aman-dan-kolaboratif-lewat-sinergi-guru-dan-orang-tua

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-02-03 at 17.21
IKAPERO Purbalingga Salurkan Bantuan di Lereng Gunung Slamet
WhatsApp Image 2026-02-03 at 16.53
Dr. Akhmad Rizqul Karim Kupas RPS Berbasis OBE Menggunakan GenAI
WhatsApp Image 2026-02-03 at 14.48
Jepang Butuh Tenaga Pertanian, Gaji Tembus Rp 25 Juta/Bulan
aston1
Aston Purwokerto Hadirkan "Ramadhan Culinary Festival"
Akhmad Fauzi1
Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Bisa Gagal, Jika Orang Tua Tak Tegas Soal HP