Volunteer Korea Belajar Inklusivitas Lewat Batik “Eco Print”

Bagikan :

Suasana workshop eco print para volunteer Korea di JDA. Minggu (25/1). (Foto: Harta Nining Wiaya/EDUKATOR)

YOGYAKARTA, EDUKATOR–Seni batik eco print menjadi media pembelajaran inklusivitas, kepedulian lingkungan, dan kolaborasi lintas budaya dalam workshop yang digelar Jogja Disability Arts (JDA) bersama Jeonju Volunteer Centre, Korea Selatan, di Yogyakarta, Minggu (25/1/2026). Kegiatan ini mempertemukan seniman difabel, volunteer internasional, dan mahasiswa dalam ruang belajar tanpa sekat.

Workshop tersebut merupakan bagian dari rangkaian kunjungan dan bakti sosial volunteer Korea di Yogyakarta.

Koordinator Jeonju Volunteer Centre sekaligus penerjemah, Hagyasophia Giri Sekarsurya atau yang arab disapa Sophia, menjelaskan, para volunteer merupakan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Korea Selatan yang mengikuti program tahunan pemerintah Korea. Mereka belajar langsung teknik batik eco print yang ramah lingkungan bersama Wiji Astuti, seniman batik asal Gunungkidul sekaligus difabel pengguna kaki palsu.

Eco Print, Seni Ramah Lingkungan
Dengan palu kecil, daun, dan bunga lokal, para volunteer mempraktikkan teknik eco print di ruang pamer JDA. Wiji Astuti memandu proses pembuatan motif alami pada kain secara sederhana dan membumi.

“Hasil eco print jangan dicuci dulu selama tujuh hari agar warnanya menempel dengan baik,” ujar Wiji kepada para peserta.

Karya yang dihasilkan dibawa pulang oleh masing-masing volunteer sebagai kenangan sekaligus pengetahuan baru. Bagi JDA, eco print dipilih karena mengangkat isu lingkungan sekaligus menegaskan posisi difabel dan perempuan sebagai subjek berkarya.

Suasana workshop eco print para volunteer Korea di JDA. Minggu (25/1). (Foto: Harta Nining Wiaya/EDUKATOR)

Kolaborasi yang Dirancang Bersama
Ketua JDA, Sukri Budi Dharma atau Butong, menjelaskan bahwa kunjungan volunteer Korea ini merupakan kali kedua dan telah dirancang melalui komunikasi sejak pertengahan 2025.

“Kami berdialog tentang kebutuhan mereka dan apa yang ingin dipelajari. Maka kami programkan workshop eco print bersama Wiji, sekaligus memperlihatkan karya seni rupa kawan-kawan seniman difabel,” ujarnya.

Menurut Butong, JDA tidak hanya menjadi ruang pamer, tetapi juga ruang pengembangan potensi. “Di JDA, prinsipnya jelas: we are subject, not object. Difabel didorong menjadi subjek, berkarya, dan berdaya,” tegasnya.

Volunteerisme dan Aksi Sosial
Sophia menambahkan, saat ini total terdapat 21 volunteer yang datang ke Yogyakarta, terdiri atas 18 mahasiswa dan tiga pendamping. Selama dua minggu, mereka tinggal di Desa Karangwuni, Glagah, Kulon Progo.

Setiap pagi, para volunteer mengajar di SD Karangwuni dengan materi budaya, lingkungan, dan kesehatan. Pada siang hari, mereka melakukan berbagai kegiatan sosial di desa, mulai dari pilah sampah, membuat tong sampah bergambar untuk disumbangkan kepada warga, hingga merancang sosialisasi pemilahan sampah dan pelatihan taekwondo bagi masyarakat.

“Di Korea, kalau sampah tidak dipilah, petugas tidak mau mengangkut. Kesadaran ini yang ingin mereka bagikan,” jelas Sophia.

Workshop di JDA, menurutnya, juga merupakan bagian dari rangkaian bakti sosial tersebut. Selain volunteer Korea, kegiatan ini turut diikuti sejumlah mahasiswa Sekolah Vokasi UGM dari berbagai jurusan.

Belajar Inklusivitas Tanpa Diskriminasi
Salah satu perwakilan Jeonju Volunteer Centre yang turut mendampingi kegiatan tersebut mengapresiasi pendekatan JDA dalam membangun ruang seni yang inklusif.

“Difabel di sini tidak diposisikan sebagai orang yang dikasihani, tetapi sebagai seniman yang karyanya bahkan sudah berpameran di tingkat internasional,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Yong Im, volunteer Korea yang menggunakan nama Indonesia Sekar. Ia mengaku terkesan dengan praktik inklusivitas di JDA.

“Di sini saya tidak melihat diskriminasi. Difabel dan non-difabel bisa bekerja sama dengan sangat baik,” tuturnya.

Ia membandingkan dengan kondisi di Korea, di mana komunitas difabel masih sering berjalan sendiri dan belum sepenuhnya inklusif.

Merajut Asa Inklusivitas
Ke depan, JDA dan Jeonju Volunteer Centre akan melakukan evaluasi untuk menentukan kemungkinan menjadikan kolaborasi ini sebagai program tahunan. Sukri menilai dukungan negara Korea terhadap program volunteerisme menjadi pembelajaran penting.

“Melalui seni dan perjumpaan lintas budaya ini, kita belajar bahwa inklusivitas bukan konsep abstrak, tetapi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Melalui batik eco print, daun dan bunga lokal diolah bersama dengan palu kecil sebagai medium berkarya. Dari proses itu, JDA dan para volunteer Korea menunjukkan bahwa batas-batas dapat diruntuhkan dan inklusivitas dibangun melalui karya seni serta aksi sosial yang berkelanjutan. (Harta Nining Wijaya)

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-02-03 at 17.21
IKAPERO Purbalingga Salurkan Bantuan di Lereng Gunung Slamet
WhatsApp Image 2026-02-03 at 16.53
Dr. Akhmad Rizqul Karim Kupas RPS Berbasis OBE Menggunakan GenAI
WhatsApp Image 2026-02-03 at 14.48
Jepang Butuh Tenaga Pertanian, Gaji Tembus Rp 25 Juta/Bulan
aston1
Aston Purwokerto Hadirkan "Ramadhan Culinary Festival"
Akhmad Fauzi1
Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Bisa Gagal, Jika Orang Tua Tak Tegas Soal HP