555 Guru PAI se-Purbalingga Gaungkan Pembelajaran Berbasis Cinta

Bagikan :

PURBALINGGA, EDUKATOR–Sebanyak 555 guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dari berbagai jenjang pendidikan di Kabupaten Purbalingga berkumpul di Pendopo Dipokusumo, Rabu (6/5/2026), dalam seminar bertema pembelajaran berbasis cinta.

Kegiatan itu digelar di tengah derasnya disrupsi digital, yakni perubahan cepat akibat perkembangan teknologi yang memengaruhi pola hidup, cara belajar, dan perilaku masyarakat. Para guru PAI menegaskan bahwa pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga harus membangun karakter, empati, dan keteladanan siswa.

Seminar bertajuk “Transformasi Pembelajaran PAI Berbasis Cinta; Membangun Generasi Berkarakter, Berempati, dan Bernalar Kritis di Era Digital” itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 Kabupaten Purbalingga.

Transformasi berarti perubahan besar dan menyeluruh menuju cara baru yang lebih relevan dengan perkembangan zaman. Dalam dunia pendidikan, transformasi pembelajaran dimaknai sebagai perubahan pola mengajar dari sekadar hafalan dan mengejar nilai menjadi pembelajaran yang membangun karakter, empati, dan kemampuan berpikir kritis siswa.

Peserta seminar

Kegiatan seminar tersebut digelar melalui kolaborasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga, Kementerian Agama Purbalingga, Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII), KKG PAI, serta MGMP PAI jenjang SMP, SMA, dan SMK.

Sejak pagi, suasana pendopo berlangsung khidmat sekaligus hangat. Acara diawali dengan pengukuhan Pengurus KKG PAI Kabupaten Purbalingga oleh Kepala Dindikbud Kabupaten Purbalingga, Heru Sri Wibowo, S.Sos, M.Si. Selanjutnya dilakukan pelantikan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) AGPAII Kabupaten Purbalingga oleh perwakilan DPW AGPAII Jawa Tengah, Tatik Pujiani, M.Ag.

Ketua panitia, Sujatno, S.Th.I, M.Pd mengatakan seminar tersebut menjadi momentum refleksi pembelajaran PAI di tengah tantangan zaman digital.

“Transformasi pembelajaran PAI berbasis cinta menjadi langkah strategis untuk menjawab tantangan pendidikan di era digital,” ujar Sujatno yang juga guru SMAN 1 Purbalingga.

Kegiatan juga dihadiri Kasi PAIS Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah X Jawa Tengah, anggota DPRD Kabupaten Purbalingga, pengawas PAI, Forkopimda, serta pengurus AGPAII dari Wonosobo, Cilacap, Banjarnegara, dan Banyumas.

PAI Tak Sekadar Mengejar Nilai
Seminar dibuka melalui keynote speech Bupati Purbalingga yang diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Drs Suroto, M.Si.

Ia menegaskan bahwa transformasi pendidikan menjadi kebutuhan mendesak untuk menyiapkan masa depan daerah.

Kepala Dindikbud Kabupaten Purbalingga, Heru Sri Wibowo, menyoroti perlunya perubahan paradigma pembelajaran PAI. Menurutnya, pendidikan agama selama ini masih terlalu berfokus pada hafalan dan capaian angka.

“PAI bukan sekadar mata pelajaran, melainkan ruh pendidikan. Keberhasilannya tidak diukur dari nilai rapor, tetapi dari perilaku nyata siswa,” tegas Heru.

Ia mendorong guru menerapkan pendekatan yang lebih humanis dan inspiratif, dengan mengedepankan empati serta keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar.

Perkuat Karakter dan Moderasi Beragama
Dalam sesi materi, H. Sudiono, S.Pd.I, M.Pd.I dari Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga menekankan pentingnya penguatan mindset, moral, dan mental sebagai fondasi pembentukan karakter peserta didik.

Ia juga menegaskan bahwa pembelajaran PAI harus mengedepankan nilai kemanusiaan, moderasi beragama, dan penguatan akhlak.

Sementara itu, Tatik Pujiani menjelaskan bahwa kurikulum berbasis cinta bukan sekadar konsep normatif, melainkan pendekatan sistematis yang dapat diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari.

Dari Hafalan Menuju Penghayatan
Pemateri lainnya, Priyanto M.Pd.I mengungkapkan bahwa pembelajaran berbasis cinta menjadi jawaban atas kegelisahan dunia pendidikan saat ini. Banyak siswa memahami ajaran agama, tetapi belum mampu menginternalisasikannya dalam perilaku sehari-hari.

Priyanto, S.Pd.I, M.Pd.I

Menurutnya, pembelajaran harus menyentuh aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara utuh melalui pendekatan deep learning.

“Karakter tidak lahir dari ujian, tetapi dari pembiasaan,” kata Priyanto yang juga Kabid Pembinaan SMP DIndikbud Pubalingga.

Ia juga mendorong perubahan metode belajar dari pola ceramah satu arah menjadi dialog partisipatif yang memberi ruang keterlibatan siswa.

Santunan Jadi Simbol Kepedulian
Diskusi yang dipandu moderator Yusuf Mubarok berlangsung interaktif. Para peserta aktif membahas implementasi pembelajaran berbasis cinta hingga penguatan budaya sekolah yang berkarakter.

Tak hanya berhenti pada seminar, kegiatan juga diwarnai aksi sosial berupa pemberian santunan kepada 10 siswa dan 10 guru PAI yang belum mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan belum terdaftar dalam Dapodik.

Panitia berharap hasil seminar dapat menjadi gerakan nyata di sekolah masing-masing. Dari Pendopo Dipokusumo, para guru membawa satu pesan penting bahwa mengajar dengan cinta bukan berarti melemahkan, melainkan menguatkan karakter generasi muda dari dalam. (Priyanto/Prs)

BERITA TERKINI

mikrot1
Mahasiswa UNY Ciptakan "Mikrot", Mi Instan Berbahan Daun Krokot
seminar1
555 Guru PAI se-Purbalingga Gaungkan Pembelajaran Berbasis Cinta
bim2
158 Pelajar SMP/MTs Ikuti Bimtek Penelitian
FULAD6
Diplomasi Asimetris Iran, Antara Martabat dan Kalkulasi Kekuatan
DSC01812
Gunakan Tiga Bahasa, Pelepasan 413 Murid SMAN 1 Purbalingga Berlangsung Khidmat