*Dalam Rangka Peringatan Hardiknas, SMPN 1 Bobotsari Juara 1

Mewakili Kadindikbud Purbalingga, Kabid Pembinaan SMP Priyanto, S.Pd.I, M.Pdi foto bersama ketua MKKS SMP, Subarno, S.Pd, panitia, guru pendamping dan peserta lomba baca geguritan.
PURBALINGGA, EDUKATOR–Suara lantang dan penuh penghayatan para pelajar SMP membacakan geguritan menggema di aula SMK Muhammadiyah 1 Purbalingga, Sabtu (9/5/2026). Sebanyak 58 murid dari SMP negeri dan swasta se-Kabupaten Purbalingga mengikuti Lomba Maca Geguritan tingkat kabupaten yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga bersama MGMP Bahasa Jawa SMP..
Lomba dalam rangka memperingati Hardiknas itu, dibuka oleh Kepala Bidang Pembinaan SMP, Priyanto, S.Pd.I, M.Pd.I, yang mewakili Kadindikbud Purbalingga.
Dihadiri juga Ketua MKKS SMP Subarno, S.Pd., dan Bina Damping MGMP Bahasa Jawa Drs. Haryonoping.
Para Juara
Setelah melalui penilaian ketat, dewan juri menetapkan Aribah Nur Muflikhah Kultsum dari SMP Negeri 1 Bobotsari sebagai Juara I. Juara II diraih Gian Alesha Putri dari SMP Negeri 2 Rembang, sedangkan Juara III diraih Afril Harfiyanti dari SMP Negeri 2 Mrebet.
Bina dam[ing MGMP Bahasa Jawa SMP Drs. Haryono menyerahkan trofi kepada salah satu juara.
Kemudian Juara Harapan I diraih Azzam Nabhan Zulfadi dari SMP Negeri 1 Rembang, Juara Harapan II Kalista Naomi Yasin dari SMP Negeri 1 Karangreja, dan Juara Harapan III Josia Febriarto dari SMP Negeri 1 Purbalingga.
Ketua MGMP Bahasa Jawa SMP Arif Restiyadi S.Pd menyerahan uang pembinaan kepada salah satu guru pendamping, yang muridnya keluar sebagai juara.
Kegiatan berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 14.00 WIB dengan suasana meriah dan kental nuansa budaya Jawa. Para peserta tampil membawakan geguritan dengan intonasi, ekspresi, dan penghayatan yang memikat perhatian penonton maupun dewan juri.
Lomba mengusung tema “Bahasa dan Sastra Jawa untuk Menghantar Siswa Berbudi Pekerti Luhur dalam Semangat Hardiknas.”
Dalam pelaksanaan lomba, setiap peserta diminta membacakan satu geguritan dari tiga pilihan yang telah disediakan panitia, yakni Pituture Simbah karya Bambang Nugroho, Tri Prakara Ajining Jawa karya Lis Rustiningsih, S.Pd., dan Paseduluran karya Bambang Nugroho.
Para peserta tampil percaya diri saat membawakan karya pilihan dengan gaya dan penghayatan masing-masing. Penampilan mereka mendapat perhatian serius dari dewan juri maupun para pendamping yang hadir.
Lestarikan Bahasa dan Sastra Jawa
Dalam sambutannya, Kabid Pembinaan SMP Priyanto menegaskan, lomba maca geguritan bukan hanya ajang membaca puisi berbahasa Jawa, melainkan bagian penting dari pelestarian budaya daerah di tengah derasnya arus digitalisasi.
“Geguritan mengandung nilai rasa, budi pekerti, filosofi kehidupan, dan kekayaan budaya Jawa yang harus terus diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya.
Ia juga memotivasi peserta agar percaya diri saat tampil di depan umum.
“Berani tampil di depan umum saja sudah menjadi prestasi luar biasa,” katanya.
Senada dengan itu, Ketua MGMP Bahasa Jawa Arif Restiyadi mengemukakan, lomba baca geguritan menjadi bagian dari upaya nguri-uri bahasa dan sastra Jawa di kalangan generasi muda.
“Bahasa dan Sastra Jawa sebagai sarana sarana mbentuk budi pekerti luhur di dalam semangat Hardiknas,” ujarnya.
Menurut dia, geguritan tidak sekadar rangkaian kata indah, tetapi juga mengandung nilai tata krama, filosofi kehidupan, dan pendidikan karakter yang penting diwariskan kepada pelajar. (Priyanto/Prs)