*Dongkrak Ekonomi Peternak
Bupati Banyumas Sadewo melihat keunggulan kambing PE dan Kambing Jawa (kambing Kacang) pada Festival Kambing Kecamatan Lumbir.
BANYUMAS, EDUKATOR–Festival kambing? Ya, festival kambing benar-benar digelar di Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas. Ratusan kambing Peranakan Ettawa (PE) dan kambing Jawa (Kambing Kacang) tampil bersama para pemiliknya, ikut meramaikan Festival Kambing Kecamatan Lumbir yang digelar Senin, 16 Februari 2026, di Desa Kedunggede.
Ajang tahunan ini menjadi panggung unjuk kualitas sekaligus strategi meningkatkan mutu bibit ternak unggulan daerah.
Kecamatan Lumbir yang terdiri atas 10 desa memang dikenal sebagai sentra kambing Peranakan Ettawa (PE) dan kambing Jawa penghasil daging dan susu. Sejak lama, dua jenis ternak dwiguna tersebut dikembangkan secara turun-temurun oleh masyarakat. Tak heran, pemerintah kecamatan rutin menggelar festival sebagai wadah seleksi dan promosi.
Festival Kambing Lumbir berlangsung ramai
Ajang Seleksi Bibit Unggul
Camat Lumbir, Wardoyo, mengatakan festival ini menyasar peternak dan kelompok ternak kambing di wilayahnya. Tujuannya untuk mendapatkan bibit kambing PE dan Jawa yang berkualitas dalam rangka peremajaan ternak.
“Festival ini juga memotivasi dan merangsang peternak untuk memproduksi bibit kambing PE dan Jawa yang berkualitas untuk meningkatkan nilai jual, sehingga mendongkrak eknomi peternak” kata Wardoyo.
Bupati Sadewo di arena Festival Kambing Lumbir 2026
Ia menjelaskan, kategori lomba dan kontes meliputi anakan calon pejantan PE dan Jawa dengan tinggi badan di bawah 65,9 sentimeter, calon pejantan tinggi 66–80,9 sentimeter, pejantan tinggi 81 sentimeter ke atas, anakan calon betina di bawah 65,9 sentimeter, calon betina 66–80,9 sentimeter, serta betina dengan tinggi 81 sentimeter ke atas.
Khusus Kambing Asli Lumbir
Wardoyo menegaskan, seluruh kambing peserta harus berasal dari wilayah Kecamatan Lumbir dan dipelihara oleh peternak atau kelompok ternak setempat. “Bukan ternak dari luar Kecamatan Lumbir,” tegasnya.
Syarat tersebut diberlakukan sebagai upaya memperbaiki kualitas dan kuantitas bibit kambing PE dan Jawa melalui proses penjaringan yang objektif lewat lomba dan kontes. Dengan demikian, bibit unggul benar-benar lahir dari peternak lokal.
Dorong Lumbir Jadi Sentra Peternakan
Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan Festival Kambing 2026. Ia berharap kegiatan ini menjadi tonggak awal terwujudnya Kecamatan Lumbir sebagai sentra peternakan kambing di Kabupaten Banyumas.
“Semoga adanya festival ini dapat meningkatkan motivasi bapak/ibu dalam pembibitan dan budidaya kambing sehingga kualitas ternak semakin baik, serta hasilnya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujar Sadewo.
Menurutnya, sektor peternakan memiliki nilai strategis dalam pembangunan daerah. Selain memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, sektor ini juga menghasilkan produk lain seperti kotoran ternak yang bermanfaat sebagai pupuk.
Potensi Besar
“Kecamatan Lumbir yang memiliki potensi besar dalam sektor peternakan kambing ini, tentu menjadi peluang untuk memaksimalkan dan mengembangkan potensi tersebut,” ujarnya.
Bupati Sadewo berharap, melalui inovasi, peningkatan kualitas bibit, serta penerapan teknologi modern, dapat mewujudkan Kecamatan Lumbir sebagai sentra peternakan kambing dengan skala yang lebih luas lagi.
Ia menambahkan, apabila pengembangan dilakukan secara berkelanjutan, bukan tidak mungkin masyarakat luar daerah yang ingin membeli kambing akan langsung teringat pada Lumbir.
“Sehingga kalau ada masyarakat luar yang ingin membeli kambing akan langsung teringat untuk mencari di Kecamatan Lumbir,” ujarnya.
Kambing Peranakan Etawa (PE)

Kambing Jawa (Kambing Kacang)
Perbandingan
Berikut tabel perbandingan karakteristik dan harga kambing PE vs Kambing Jawa.
| No | Aspek | Kambing Peranakan Ettawa (PE) | Kambing Jawa (Kambing Kacang) |
| 1 | Ukuran Tubuh | Besar (Jantan: 80–100 cm, Betina: 70–90 cm) | Kecil–sedang (Tinggi: 55–65 cm) |
| 2 | Telinga | Panjang dan terkulai (20–30 cm) | Pendek, tegak, atau setengah tegak |
| 3 | Hidung | Cembung (roman nose) | Datar atau sedikit cekung |
| 4 | Bulu | Relatif panjang, terutama di area paha | Pendek dan rapat |
| 5 | Ambing (Betina) | Besar, produksi susu 1–3 liter/hari | Kecil, produksi susu rendah |
| 6 | Bobot Dewasa | Jantan: 70–90 kg, Betina: 40–60 kg | Jantan: 25–35 kg, Betina: 20–30 kg |
| 7 | Kegunaan | Dwiguna (Daging & Susu) | Pedaging & daya tahan tinggi |
| 8 | Kualitas Daging | Lembut, gurih, tekstur empuk.Cocok untuk sate dengan potongan besar dan tidak alot. | Kenyal, aroma kambing kuat (gahar).Banyak dipakai pedagang sate tradisional |
| 9 | Harga Jantan Dewasa | Rp3.500.000 – Rp5.500.000+ | Rp2.400.000 – Rp3.000.000 |
| 10 | Harga Betina Dewasa | Rp2.500.000 – Rp3.800.000 | Rp1.600.000 – Rp2.200.000 |
| 11 | Harga Bibit (Cempe) | Rp1.500.000 – Rp2.500.000 | Rp800.000 – Rp1.300.000 |
| 12 | Catatan Harga | Harga bisa melonjak jika masuk kategori kontes | Harga cenderung stabil dan merakyat |
Dari tabel tersebut, dapat disimpulkan:
1..Kambing PE lebih unggul untuk peternakan intensif yang menyasar pasar susu atau kontes kecantikan ternak.
2.Kambing Jawa sangat direkomendasikan untuk peternak pemula atau sistem tradisional, karena daya tahannya yang luar biasa terhadap cuaca ekstrem di Indonesia. (Prasetiyo)