Puasa, Antara Menahan Lapar, Haus dan Melatih Kesabaran

Bagikan :

Tri Aji Pamungkas atau akrab disapa Ipam sedang menyampaikan kultum. 

PURBALINGGA, EDUKATOR–Pesan mendalam tentang makna kesabaran dalam ibadah puasa menggema dari mimbar Salat Tarawih Masjid Al Hidayah , Kelurahan Karangsentul, Kecamatan Padamara, Purbalingga, Minggu malam (1/3/2026). Melalui kultum bertema Nilai Sabar dalam Ibadah Puasa Ramadhan, Tri Aji Pamungkas atau akrab disapa Ipam mengingatkan jamaah bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan latihan kesabaran yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia.

Kultum tersebut merupakan bagian dari kolaborasi antara takmir Masjid Al Hidayah dan Karang Taruna Bina Muda Karangsentul dalam mengisi kegiatan Tarawih selama Ramadan. Di hadapan jamaah, Ipam membuka tausiyahnya dengan mengutip sabda Rasulullah, “Puasa itu separuh dari sabar” (H.R. At-Tirmidzi).

“Tanpa sabar, puasa kehilangan ruhnya. Dan puasa adalah sekolah terbaik untuk melatih sabar,” ujar Ipam.

Sabar Bukan Sekadar Diam
Dalam tausiyahnya, Ipam menegaskan bahwa sabar bukan sikap pasif, melainkan usaha aktif mengendalikan diri di tengah berbagai tantangan. Menurutnya, menahan lapar dan haus hanyalah tahap awal, sementara ujian sesungguhnya adalah menjaga lisan, mengontrol emosi, menahan pandangan, serta menghindari perbuatan yang merugikan orang lain.

Ia juga menguatkan pesan tersebut dengan firman Allah dalam QS. Az-Zumar ayat 10 yang menyatakan bahwa orang-orang bersabar akan diberikan pahala tanpa batas. “Ayat ini menunjukkan bahwa sabar adalah fondasi kualitas iman seorang muslim,” jelasnya.

Ipam turut mengutip pandangan ulama Imam Ibnu Rajab Al-Hambali tentang tiga bentuk kesabaran, yakni sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar menjauhi larangan-Nya, serta sabar menghadapi ketetapan Allah yang pahit. Ketiga jenis kesabaran itu, menurutnya, terangkum sekaligus dalam ibadah puasa.

“Puasa itu laboratorium sabar,” tegas Ipam.

Benteng Menjaga Kualitas Puasa
Lebih lanjut, Ipam mengingatkan bahwa tantangan berpuasa tidak hanya berasal dari rasa lapar dan dahaga, tetapi juga godaan kebiasaan buruk seperti berbohong, berkata kasar, hingga pengaruh lingkungan yang kurang mendukung. Dalam kondisi tersebut, kesabaran menjadi benteng utama agar ibadah puasa tetap bernilai di hadapan Allah.

“Puasa dan sabar ibarat dua sisi mata uang. Jika sabar runtuh, puasa mudah kehilangan maknanya,” katanya.

Kegiatan kultum Tarawih yang melibatkan generasi muda ini menjadi bukti sinergi positif antara takmir masjid dan Karang Taruna Bina Muda Karangsentul.

Ramadan pun dimaknai tidak sekadar sebagai rutinitas ibadah tahunan, tetapi sebagai momentum pembentukan karakter, di mana kesabaran menjadi kekuatan utama dan puasa menjadi sekolah kehidupan bagi umat. (Muhammad Syaifudin/Prs)

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-09-04 at 20.11
Khidmat, Penyambutan ETK Kwarda Jateng di Perbatasan Kebumen-Banjarnegara
TOP_9204
75 UMKM dan 29 Pesantren Ramaikan SELARAS 2026
536188746_1207451184483089_6673379772962767251_n
Dosen DKV UMP Tegar Roli Anugrafianto: AI Ubah Wajah Media, Etika Jadi Taruhannya
FULAD6
Istana di Jakarta, Komando di Solo? Ketika Pengaruh Politik Mulai Membentuk Pusat Gravitasi Kekuasaan
FAUZI MERAH
Belajar dari Fenomena “Hardship Camp” dan Menemukan Kembali Makna Pendidikan Karakter