Tel-U Purwokerto Latih Peternak Kambing Binangun dengan Pendekatan “Agropreneur”

Bagikan :

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Tel-U Purwokerto, Prasetyo Hartanto sedang memberikan pelatihan dengan pendekatan Agropreneur kepada peternak kambing di Desa Binangun, Kecamatan/Kabupaten Banyumas . (Foto: Humas Tel-U Purwokerto/EDUKATOR)

BANYUMAS, EDUKATOR — Telkom University Purwokerto atau Tel-U Purwokerto melatih puluhan peternak kambing di Desa Binangun, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas dengan pendekatan agropreneur, sekaligus mendorong pemasaran digital produk peternakan.

Melalui program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan tim dosen dan mahasiswa tersebut, para peternak mendapatkan pendampingan dalam mengembangkan usaha ternak kambing. Program ini mendorong mereka mengubah cara pandang, dari yang sebelumnya menganggap kambing sebagai “tabungan darurat” menjadi usaha produktif dengan perencanaan bisnis yang lebih matang.

“Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas peternak agar mampu mengelola usaha ternak secara lebih profesional, mulai dari manajemen usaha, inovasi produk, hingga strategi pemasaran,” kata Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Tel-U Purwokerto, Prasetyo Hartanto, S.E., M.M., CDMP, CPM (Asia) di kampus Tel-U Purwokerto, Senin (9/3/2026).

Foto bersama Tim dosen dan mahasiswa Tel-U Purwokerto bersama peserta pelatihan (Foto: Humas Tel-U Purwokerto/EDUKATOR).

Pelatihan agropreneur itu berlangsung selama tiga bulan, sejak Oktober hingga Desember 2025, dan pelaporannya pada akhir Februari 2026 lalu.

Ubah Pola Pikir Peternak
Prasetyo Hartanto menjelaskan, persoalan utama yang dihadapi peternak bukan terletak pada kemampuan teknis memelihara kambing, melainkan pada pola pikir dalam mengelola usaha.

“Kami melihat bahwa peternak sebenarnya sudah terbiasa memelihara kambing. Tantangannya adalah bagaimana ternak ini tidak lagi sekadar menjadi aset darurat, tetapi menjadi usaha yang direncanakan, dikelola, dan dikembangkan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Program pengabdian ini diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan aparatur desa dan perwakilan peternak. Diskusi tersebut bertujuan memetakan kebutuhan prioritas dalam pengembangan usaha ternak di Desa Binangun.

Salah satu langkah yang disepakati adalah pembentukan kelompok ternak sebagai wadah kolektif untuk memperkuat permodalan, penyediaan pakan, hingga pemasaran hasil ternak.

Pelatihan Inovasi dan Manajemen Usaha
Dalam kegiatan pelatihan, tim dosen dan mahasiswa menerapkan metode design thinking yang disesuaikan dengan konteks peternakan. Melalui pendekatan ini, peternak diajak memahami kebutuhan pasar, mengidentifikasi masalah usaha, serta merancang inovasi produk bernilai tambah seperti olahan susu kambing dan daging olahan.

Salah satu peserta pelatihan mengaku mendapatkan wawasan baru dalam mengembangkan usaha ternaknya.

“Kami belajar bahwa tidak cukup hanya beternak, tetapi juga harus memahami kebutuhan pasar. Ternyata susu kambing bisa diolah menjadi produk yang lebih bernilai,” katanya.

Selain inovasi produk, literasi keuangan juga menjadi perhatian utama dalam program ini. Peternak dilatih melakukan pencatatan keuangan sederhana, memisahkan keuangan usaha dan rumah tangga, serta menyusun perencanaan ekonomi jangka pendek hingga tahunan.

Tim pengabdian juga mengembangkan dashboard digital sederhana yang dapat diakses melalui ponsel untuk membantu peternak memproyeksikan arus kas usaha secara lebih terukur.

Dorong Pemasaran Digital
Pada aspek pemasaran, peternak diperkenalkan pada strategi promosi melalui media sosial dan marketplace. Generasi muda desa turut dilibatkan sebagai penggerak digitalisasi agar usaha ternak dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

Desa Binangun sendiri memiliki potensi besar di sektor peternakan. Dengan luas wilayah sekitar 519,76 hektar dan sekitar 40 persen berupa lahan tegalan yang kaya pakan hijauan, desa ini memiliki modal alam yang kuat untuk pengembangan usaha ternak.

Mayoritas Peternak Puas
Hasil program mulai terlihat dari perubahan cara pandang para peternak. Berdasarkan survei terhadap 30 responden, lebih dari 80 persen peserta menyatakan puas terhadap pelaksanaan program dan berharap kegiatan serupa dapat berlanjut.

Sejumlah peternak bahkan telah mencoba memasarkan produk olahan susu kambing melalui akun media sosial yang baru mereka buat.

Prasetyo berharap model pemberdayaan berbasis agropreneur ini dapat direplikasi di desa lain di Kabupaten Banyumas.

“Kami ingin Desa Binangun menjadi contoh bahwa dengan penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan pemanfaatan teknologi, ekonomi peternak bisa tumbuh lebih stabil dan berkelanjutan,” katanya. (Prasetiyo)

 

BERITA TERKINI

smkpgri1
SMK PGRI 1 Plus Semarang Gelar Gema Ramadan
tpid1
Masyarakat Dihimbau Bijak Berbelanja Jelang Lebaran
pgri bna1
PGRI Banjarnegara Sediakan Sembako Murah di Pasar Ramadan Sokanandi
bireuen2
Mendikdasmen Resmikan Revitalisasi 28 Sekolah di Bireuen
pkl1
PGRI Jateng Salurkan Bantuan untuk Guru Korban Banjir Pekalongan