
Ketua Kelompok PLK UNY Magang BPBD Kabupaten Kulon Progo, Kurniawan Arya Putra Dewanto (kanan) menyerahkan bantuan logistik kepada korban terdampak bencana saat assesmen bencana pohon tumbang menimpa rumah di Kalibawang, Kulon Progo.
KULON PROGO, EDUKATOR–Empat mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) angkatan 2023 berkontribusi langsung dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana di Kabupaten Kulon Progo, Provinsi DIY melalui Program Pembelajaran Luar Kampus (PLK) Magang. Selama hampir empat bulan, 9 Februari hingga 29 Mei 2026, mereka terlibat dalam berbagai kegiatan edukasi, pemasangan sistem peringatan dini, pemetaan kebencanaan, hingga penanganan bencana bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kulon Progo.
Penyerahan kenang kenangan Sosialisasi & Simulasi Bencana Gempa Bumi yang dibawakan oleh Peserta Magang PLK UNY Magang BPBD Kabupaten Kulon Progo di LKSA MCC Panti Asuhan Muhammadiyah Tuksono, Sentolo
Empat mahasiswa tersebut terdiri Muhammad Kurniawan Sugiarto, Bekti Ayu Arum Pramesthi, Rafi Arya Pratama, dan Kurniawan Arya Putra Dewanto.
“Selama magang, kami tidak hanya belajar teori, tetapi juga terlibat langsung dalam edukasi masyarakat, mitigasi, pemetaan, hingga penanganan bencana bersama BPBD Kulon Progo. Hal ini menjadikan kami semakin memahami pentingnya kolaborasi dalam membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana,” ujar Ketua Kelompok PLK UNY Magang BPBD Kabupaten Kulon Progo, Kurniawan Arya Putra Dewanto kepada EDUKATOR di kampus UNY, Sabtu (13/6/2026).
Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kulon Progo, Setiawan Tri Widada, S.Sos., mengatakan, keterlibatan empat mahasiswa magang itu memberikan dukungan nyata terhadap berbagai program kebencanaan yang dijalankan instansinya.
“Kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang lebih tangguh menghadapi bencana,” ujarnya.
Belajar Langsung dari Lapangan
Program magang diawali dengan observasi dan pengenalan lingkungan kerja BPBD Kabupaten Kulon Progo. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa mempelajari struktur organisasi, tugas dan fungsi setiap bidang, serta mekanisme koordinasi dalam penanganan bencana.
Mahasiswa juga memperoleh pemahaman mengenai karakteristik kebencanaan di Kabupaten Kulon Progo yang memiliki ancaman tanah longsor, banjir, gempa bumi, hingga tsunami. Bekal tersebut menjadi dasar dalam pelaksanaan berbagai kegiatan selama program magang berlangsung.
Selama magang, mereka aktif mengikuti sosialisasi mitigasi dan kesiapsiagaan bencana serta kunjungan edukasi ke Markas Komando Damkar Wates yang menyasar sekolah, lembaga pendidikan anak usia dini, panti asuhan, hingga kalurahan.
Materi yang diberikan meliputi pengenalan jenis bencana, langkah penyelamatan diri, serta pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat.
Selain itu, mahasiswa turut mendukung simulasi gempa bumi dengan memperagakan langkah perlindungan diri saat gempa, proses evakuasi menuju titik aman, serta prosedur keselamatan yang harus dilakukan setelah gempa berakhir.
Salah satu kegiatan tersebut dilaksanakan pada peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Tahun 2026 dan sosialisasi gempa bumi di LKSA MCC Panti Asuhan Muhammadiyah Tuksono.
Simulasi penanganan bencana dalam rangka Hari Kesiapsiagaan Bencana 2026, 26 April 2026.
Terlibat Pemasangan EWS dan Uji Sirine Tsunami
Dalam bidang mitigasi struktural berbasis teknologi, mahasiswa berpartisipasi dalam pemasangan Early Warning System (EWS) longsor di sejumlah wilayah rawan, seperti Banjaroyo, Kalibawang, dan Sremo Tengah, Hargowilis, Kokap.
Pemasangan alat early warning system (EWS) Pergerakan tanah untuk mitigasi terjadinya tanah longsor di Kalibawang, Kulon Progo
“Kami juga terlibat dalam kegiatan uji sirine tsunami yang dilaksanakan secara berkala di Kalurahan Karangwuni, pintu timur underpass YIA, serta pintu barat underpass YIA di Kapanewon Temon. Kegiatan tersebut bertujuan memastikan perangkat peringatan dini dapat berfungsi dengan baik saat kondisi darurat,” tutur Kurniawan Aryo Dewanto.
Mendukung Assessment dan Penyaluran Logistik
Kurniawan Aryo mengaku, pengalaman lapangan semakin lengkap ketika mahasiswa ikut melakukan assessment bencana bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Kulon Progo.
Para mahasiswa magang, kata Kurniawan Aryo Dewanto, membantu mengidentifikasi dampak kejadian, mendokumentasikan kondisi lapangan, menghimpun informasi yang diperlukan untuk penanganan lanjutan, serta mendukung penyaluran logistik kepada masyarakat terdampak tanah longsor maupun pohon tumbang di berbagai wilayah.
Mahasiswa juga mengikuti proses pelaporan kedaruratan melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops), mulai dari menerima laporan masyarakat hingga membantu koordinasi penanganan di lapangan.
Kegiatan korve , bersih bersih sekitar lingkungan Kantor BPBD Kabupaten Kulon Progo.
Menghasilkan Peta Kebencanaan
Muhammad Kurniawan Sugiarto , salah satu mahasiswa magang menambahkan, sebagai mahasiswa Pendidikan Geografi, pemanfaatan teknologi geospasial menjadi salah satu kontribusi utama selama program magang.
“Kami menyusun peta persebaran kejadian bencana Kabupaten Kulon Progo Tahun 2025, memetakan titik EWS dan sensor pergerakan tanah, serta membuat peta jalur evakuasi tsunami di Kalurahan Jangkaran, Glagah, Karangwuni, Banaran, Bugel, dan Karangsewu,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan peserta magang lainnya, Rafi Arya Pratama yang akrab disapa Pipo, bahwa dirinya bersama rekan-rekannya melakukan validasi lapangan terhadap rambu jalur evakuasi tsunami dari Kapanewon Temon hingga Kapanewon Lendah dengan panjang lintasan sekitar 23 kilometer.
“Produk pemetaan tersebut diharapkan dapat menjadi sumber informasi sekaligus bahan pertimbangan dalam upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana di Kabupaten Kulon Progo,” katanya.
Perkuat Komunikasi Kebencanaan
Selain kegiatan lapangan, mahasiswa turut mendukung komunikasi dan publikasi kebencanaan melalui kegiatan net radio Pusdalops BPBD se-DIY yang bertujuan menjaga kesiapan sistem komunikasi saat kondisi darurat.
Mereka juga membantu pembuatan berbagai media informasi, video edukasi, publikasi kebencanaan, hingga video alur pelayanan pelaporan bencana BPBD Kabupaten Kulon Progo agar masyarakat lebih mudah memahami mekanisme pelaporan ketika terjadi bencana.
Tak hanya itu, mahasiswa ikut mendukung administrasi perkantoran, pengarsipan dokumen, pengoperasian drone untuk dokumentasi udara, pemeriksaan kendaraan operasional dan peralatan kebencanaan, hingga pengecekan truk toilet yang digunakan untuk mendukung Embarkasi Haji 1447 Hijriah/2026.
Membangun Masyarakat Tangguh Bencana
Melalui sosialisasi, simulasi, pemasangan sistem peringatan dini, assessment bencana, penyaluran logistik, hingga penyusunan peta kebencanaan, masyarakat memperoleh peningkatan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan dalam menghadapi potensi bencana di lingkungan sekitarnya.
Di sisi lain, BPBD Kabupaten Kulon Progo mendapatkan dukungan dalam pelaksanaan berbagai program kebencanaan, mulai dari edukasi masyarakat, pengelolaan informasi kebencanaan, hingga penyediaan data dan produk pemetaan yang dapat dimanfaatkan dalam upaya mitigasi serta pengurangan risiko bencana.
Bagi keempat mahasiswa tersebut, keterlibatan langsung dalam berbagai kegiatan menjadi pengalaman berharga untuk mengaplikasikan ilmu geografi, mengembangkan keterampilan profesional, sekaligus memahami pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana.
Program PLK UNY Magang pun tidak hanya menjadi sarana belajar dari dunia kerja, tetapi juga menjadi bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung peningkatan kapasitas masyarakat serta pengurangan risiko bencana di Kabupaten Kulon Progo. (Prasetiyo)