*Penyemprotan di Area Sawah Seluas 15 Hektar

Para petani di Desa Penolih serentak bersama-sama melakukan penyemprotan agar serangan hama wereng batang coklat tidak meluas.
PURBALINGGA, EDUKATOR — Gerakan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) berupa wereng batang coklat digelar di Desa Penolih, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga, Selasa (28/4/2026). Kegiatan ini berupa penyemprotan terhadap hama tersebut, dengan melibatkan pemerintah daerah, penyuluh, dan petani sebagai langkah cepat menekan serangan hama yang mulai muncul pada tanaman padi usia 25 hari di sejumlah lahan.
Saat ini, serangan wereng batang coklat terpantau meningkat, terutama pada lahan yang terdampak banjir di Desa Penolih. Kondisi tersebut mempercepat perkembangan hama di beberapa titik. Dalam kegiatan ini, penyemprotan dilakukan serentak di area sekitar 15 hektare, termasuk lahan sewa Bumdes.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Purbalingga Ir. Prayitno M.Si IPU menegaskan pentingnya pengendalian terpadu untuk mencegah ledakan populasi hama.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Purbalingga Ir. Prayitno M.Si IPU bersama Kades Penolih Suparno (kaos kuning) berbincang tentang pengendalian serangan hama wereng batang coklat di Desa Penolih.
“Pengendalian harus dilakukan bersama dan sejak dini agar tidak terjadi kerusakan luas pada tanaman. Langkah terpadu sesuai prinsip pengelolaan hama sangat penting untuk menekan risiko kerugian produksi,” ujar Prayitno yang hadir di areal persawahan di Desa Penolih.
Ikut hadir juga dalam kegiatan itu, Kepala Bidang Perlindungan Pertanian Dinas Pertanian , Pagan dan Perikanan Purbalingga drh. Edi Setyanta beserta tim Gerakan Pengendalian (Gerdal), koordinator penyuluh dan petugas BPP, pemerintah desa, pengurus gapoktan, serta para petani.
Kepala Desa Penolih Suparno melaporkan, secara keseluruhan, luas sawah di Desa Penolih mencapai sekitar 96 hektare, dengan sekitar 25 hektare di antaranya merupakan wilayah rawan banjir setiap tahun. Di lokasi Prupung, sejumlah lahan bengkok perangkat desa dan Bumdes bahkan dilaporkan beberapa kali gagal panen akibat genangan air yang berulang.
Wereng batang coklat sendiri dikenal sebagai hama utama padi yang mampu merusak tanaman secara cepat dan menyebabkan penurunan hasil hingga gagal panen jika tidak dikendalikan sejak dini .
Kolaborasi Pengendalian Terpadu
Suparno menyambut baik kegiatan tersebut dan berharap mampu menekan serangan wereng. “Dengan adanya gerakan ini, kami berharap hama wereng bisa dikendalikan sehingga panen nanti sesuai harapan petani,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya kekompakan petani dalam menghadapi tantangan pertanian. Menurutnya, semangat gotong royong dan dukungan terhadap program pemerintah menjadi kunci keberhasilan.
Selain itu, upaya ini juga dikaitkan dengan dorongan peningkatan indeks pertanaman (IP) 300. Yakni upaya menanam hingga tiga kali dalam satu tahun untuk meningkatkan produksi.
Namun, menurutnya, kondisi lahan yang kerap dilanda banjir masih menjadi kendala utama dalam penerapannya di wilayah tertentu. “Kondisi lapangan seperti banjir masih menjadi kendala utama dalam mencapai target tersebut,” katanya.
Melalui gerakan ini, pemerintah dan petani diharapkan dapat terus bersinergi menjaga produktivitas pertanian serta meminimalkan risiko gagal panen di wilayah rawan serangan hama. (Prasetiyo)