
Foto bersama peserta workshop Pengembangan Bahan Ajar Pmbelajaran Bahasa Jawa.
SEMARANG, EDUKATOR — Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (UNNES), menggelar Workshop Pengembangan Bahan Ajar pada Senin, 4 Mei 2026, di Gedung B8 Kampus Unnes.
Kegiatan ini diikuti pengelola jurusan, dosen, dan mahasiswa, dengan tujuan meningkatkan kompetensi penyusunan materi ajar yang inovatif dan relevan di era digital.
Workshop dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan praktis dan teoritis dalam mengembangkan bahan ajar bahasa dan sastra Jawa. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus menjawab tantangan perkembangan teknologi pendidikan.
Foto bersama peserta workshop Pengembangan Bahan Ajar Pmbelajaran Bahasa Jawa.
Inovasi Pembelajaran Bahasa Daerah
Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa UNNES, Mujimin, S.Pd., M.Pd., menegaskan pentingnya inovasi dalam pembelajaran bahasa daerah.
“Saya menyambut baik kegiatan ini sebagai langkah strategis untuk memperkaya khazanah keilmuan mahasiswa,” ujarnya.
Ia berharap mahasiswa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyerap ilmu dari para narasumber yang merupakan alumni berprestasi.
Didukung Akademisi Senior
Workshop ini mendapat dukungan penuh dari para akademisi senior, di antaranya Prof. Dr. Yusro Edy Nugroho, M.Hum., dan Prof. Dr. Teguh Supriyanto, M.Hum., serta dosen lainnya. Kegiatan dipandu oleh Dr. Ucik Fuadhiyah, S.Pd., M.Pd., yang menjaga jalannya diskusi tetap terarah dan dinamis.
Praktik Terbaik dan Merancang Materi Pembelajaran Menarik
Tukijo, S.Pd, M.Pd , guru Bahasa Jawa SMPN 17 Kota Semarang yang juga mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes sedang menyampaikan materi .
Materi disampaikan oleh Tukijo, S.Pd., M.Pd., dan Dr. L. Yuyun Dian S., M.Pd., yang mengulas konsep dasar bahan ajar, tujuan dan jenisnya, serta strategi penyusunan modul dan buku teks.
Menunjukkan buku cetak untuk pembelajaran Bahasa Jawa
Mereka juga membagikan praktik terbaik dalam merancang materi pembelajaran yang menarik, baik dalam bentuk cetak maupun digital.
Saat sesi tanya jawab berlangsung aktif dengan berbagai pertanyaan kritis dari mahasiswa terkait tantangan menyusun bahan ajar yang sesuai dengan karakter generasi masa kini.
Narasumber memberikan jawaban secara jelas dan solutif, sehingga peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga memperoleh keterampilan praktis.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu menghasilkan bahan ajar bahasa Jawa yang kreatif, kontekstual, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. (*/Iko)