Implementasi Pengelolaan Perpustakaan JITU di Aksara Loka

Bagikan :

Oleh: Yustina Kusumawati, S.Pd.,M.Pd.
Kepala SMP Negeri 17 Semarang

STOP. Kepala Sekolah sudah tidak boleh lagi mengeluhkan berbagai persoalan pengembangan perpustakaan di wilayah tugasnya. Permasalahan koleksi buku yang tidak update, pemeliharaan buku yang kurang baik, fasilitas yang tidak memadai, ketersediaan anggaran, pelayanan buruk, ketidaktersediaan pustakawan, bukan alasan berhentinya memberikan pelayanan terbaik untuk murid.

Kepala Sekolah dalam tugas manajerial, harus visioner dalam mengelola perpustakaan. Kepala Sekolah melakukan pembinaan dan menjalankan fungsi pengawasan terkait organisasi perpustakaan, sumber daya manusia, koleksi, sarana dan prasarana, serta cara bagaimana mendayagunakan Perpustakaan Sekolah untuk mendukung proses belajar mengajar

Peraturan Perpustakaan Nasional Nomor 4 Tahun 2024 tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah/Madrasah. Peraturan ini sebagai acuan bagi penyelenggara dan pengelola Perpustakaan dalam penyelenggaraan, pengelolaan, dan pengembangan Perpustakaan Sekolah/Madrasah.

Perpustakaan sebagai salah satu pengelola informasi di sekolah bertugas mengumpulkan, mengolah, menyajikan dan merawat koleksi untuk dapat dimanfaatkan oleh pengguna/pemustaka dalam jangka waktu yang lama secara efektif dan efisien. Oleh karena itu perpustakaan mempunyai tanggungjawab besar dalam melestarikan koleksinya.

Program Unggulan
Program unggulan perpustakaan sekolah bukan hanya soal fasilitas mewah atau branding sekolah. Lebih dari itu, Perpustakaan JITU adalah investasi jangka panjang untuk mencetak generasi yang cerdas, kritis, kreatif, visioner, dan siap menghadapi tantangan global.

Perpustakaan JITU adalah semangat yang dibangun oleh kepala sekolah dalam mengembangkan perpustakaan. JITU adalah akronim dari Jujur, Inovasi, Transformatif dan Unstoppable (tak terhentikan atau berkelanjutan).

Beberapa rencana kerja yang diprogramkan oleh pengelola Perpustakaan Aksara Loka tempat penulis bertugas selain pelayanan sirkulasi dan referensi di antaranya Klinik Baca, Literasi Digital berbasis QR code, berkolaborasi dengan Dinas Arpus Perpustakaan Keliling, Studi Tiru, dan penjadwalan kunjungan ke perpustakaan wilayah.

Kemudian membentuk komunitas pecinta perpustakaan, penggunaan aplikasi  SLiMS, pojok literasi, Perpustkaan Jujur, Program Perpustakaan Aksara Loka Sahabat Anak, Pemberian Penghargaan kepada Duta Pustaka dan Pemustaka Paling Aktif, dan Poster Kampanye Membaca.

Juga ada Bedah Buku, penggunaan media sosial Instagram, Program Donasi Buku, Program Penyiangan Buku, dan sirkulsi pemanfaatakan IFP (Interactive Flat Panel) dalam pembelajaran.

Pelayanan Prima
Pelayanan prima adalah sebuah keharusan untuk meningkatkan daya tarik kunjung dan peningkatan minat baca. Dalam menjalankan tugasnya kepala sekolah dibantu oleh pustkawan.

Selain mengembangkan dan mengolah bahan koleksi perpustakaan, pustakawan sekolah bertugas dalam bidang layanan pemustaka. Tugas pustakawan sekolah dalam bidang layanan pemustaka antara lain  layanan bimbingan pemustaka, layanan sirkulasi, layanan referensi, dan layanan bimbingan membaca di perpustakaan.

Kemudian  layanan bimbingan literasi informasi, layanan wajib kunjung perpustakaan, layanan bercerita, layanan audio visual, serta promosi perpustakaan.

Perpustakaan sekolah seharusnya mempunyai beberapa ruang untuk disebut ideal. Ada ruang koleksi, ruang baca, ruang referensi, ruang audio visual atau multimedia, ruang sirkulasi dan gudang. Tantangan untuk kepala sekolah apabila luas bangunan belum memungkinkan memfasilitasi semua kebutuhan tersebut. Kepala Sekolah yang optimis melihat tantangan adalah peluang.

Masalah Dana Anggaran Perpustakaan
Dalam praktiknya Kepala Sekolah dan pustakawan sekolah juga menghadapi masalah di bidang dana anggaran perpustakaan. Dalam menyusun anggaran dana perpustakaan, pustakawan harus sudah mengevaluasi kebutuhan perpustakaan sekolah.

Jangan sampai dana anggarannya hanya untuk pembelian buku paket saja. Kejituan pengalokasian anggaran adalah kunci utama keberhasilan pengelolaan perpustakaan.

Alokasi untuk pembelian buku sudah besar dan sangat mencukupi. Pelibatan seluruh pengelola perpustakaan dan guru dalam pemilihan buku-buku menjadi keharusan.

Kajian buku yang memuat kelebihan dan kelemahan buku harus disertakan saat menetapkan buku-buku yang akan dibeli, termasuk buku pengayaan perpustakaan.

Selangkah demi selangkah, persiapan akreditasi perpustakaan sekolah harus diupayakan. Penataan ulang aset-aset yang ada, penambahan koleksi, peningkatan kompetensi pengelola, perbaikan layanan harus diprioritaskan.

Di sisi lain, era digital seperti sekarang Kepala Sekolah harus memiliki pemahaman bahwa kebutuhan akan sumber belajar yang mudah diakses dan terpercaya semakin meningkat.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menghadirkan SIBI (Sistem Informasi Buku Indonesia), sebuah platform resmi untuk mengakses dan mengunduh buku digital pendidikan secara gratis. Ini cukup membantu.

Mengutip pesan Prie GS–budayawan dan sneiman–, jika harus jadi guru di depan kelas, jangan pedulikan kurikulum yang berganti-ganti, sepanjang kecintaanmu pada murid tak pernah berganti. Cinta itu lebih cerdas daripada kurikulum manapun.

Jika terpaksa tak jadi guru di dalam kelas, jadikan seluruh dunia adalah kelas. Kepala Sekolah, siap??? (*)

 

 

BERITA TERKINI

FULAD6
Perang AS-Iran, Jangan Seret Indonesia Ke Bara Api
ChatGPT Image May 4, 2026, 05_43_07 PM
Implementasi Pengelolaan Perpustakaan JITU di Aksara Loka
slamet
Permudah Layanan Kepegawaian ASN, Banyumas Luncurkan Aplikasi SLAMET
jw3
Jurusan Bahasa Jawa Unnes Gelar Workshop Pengembangan Bahan Ajar
lantik1
Bupati Banyumas Lantik 77 Pejabat Baru