Oleh: Mayjend TNI (Purn) Fulad, S.Sos, M.Si
Penasehat Militer RI untuk PBB (2017–2019)
Pendahuluan
Ketika Superioritas Militer Tidak Lagi Menjamin Kemenangan Strategis
Dalam tradisi militer klasik terdapat adagium yang tetap relevan hingga hari ini: “Amatir membahas taktik, profesional membahas logistik, sedangkan jenderal membahas grand strategy.”
Karena itu, perang Gaza tidak cukup dibaca hanya dari jumlah rudal yang ditembakkan, wilayah yang direbut, atau tokoh yang dieliminasi. Perang modern harus dinilai dari kemampuan sebuah negara mempertahankan kesinambungan politik, stabilitas ekonomi perang, legitimasi internasional, moral publik, serta daya tahan strategis jangka panjang.
Dari perspektif tersebut, Israel saat ini menghadapi situasi yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar konflik militer biasa. Negara itu memang masih memiliki keunggulan teknologi, dukungan Barat, dan kapasitas tempur tinggi. Namun dalam saat yang sama, Israel mulai menunjukkan gejala klasik yang dalam studi strategi disebut sebagai strategic overstretch, yaitu kondisi ketika ambisi operasi militer mulai melampaui kapasitas politik, ekonomi, sosial, dan psikologis negara itu sendiri.
Perang yang semula dimaksudkan untuk memulihkan deterrence pasca-serangan 7 Oktober 2023 kini berkembang menjadi konflik berkepanjangan dengan konsekuensi multidimensional. Tekanan muncul bukan hanya dari Hamas atau Hizbullah, tetapi juga dari fragmentasi politik domestik, tekanan ekonomi perang, delegitimasi internasional, dan meningkatnya ketidakpastian kawasan.
Dalam ilmu strategi, inilah fase paling berbahaya bagi sebuah negara: ketika ancaman eksternal bertemu dengan kelelahan internal.
Ketika Kepemimpinan Kehilangan Kesatuan Strategis
Perang panjang selalu menguji ketahanan sistem politik sebuah negara. Dalam konteks Israel, ujian tersebut kini terlihat semakin nyata.
Koalisi pemerintahan terus mengalami turbulensi. Perbedaan pendekatan antara kelompok kanan garis keras, kelompok keamanan nasional, dan oposisi moderat memperlihatkan bahwa Israel belum memiliki konsensus strategis mengenai bagaimana perang harus diakhiri.
Masuknya Benny Gantz dan Gadi Eisenkot ke dalam kabinet perang sebelumnya diharapkan mampu menciptakan persatuan nasional. Namun seiring waktu, justru muncul perbedaan mendasar terkait tujuan operasi, penanganan sandera, hingga strategi menghadapi Iran dan Hizbullah.
Dalam perspektif militer, kondisi ini sangat berbahaya. Sebab perang tidak hanya membutuhkan kekuatan senjata, tetapi juga kesatuan arah politik. Clausewitz menyebut pusat gravitasi (center of gravity) sebuah negara sering kali terletak pada kohesi kepemimpinan nasionalnya. Ketika pusat gravitasi itu mulai retak, maka efektivitas strategi perlahan ikut melemah.
Israel hari ini belum kehilangan kemampuan tempurnya. Namun yang mulai terkikis adalah konsensus nasional mengenai arah perang itu sendiri.
Perang Berkepanjangan dan Erosi Daya Tahan Nasional
Israel dikenal sebagai salah satu kekuatan militer paling modern di dunia. Akan tetapi, sejarah menunjukkan bahwa teknologi tinggi tidak otomatis menjamin kemenangan politik.
Perang yang berlangsung berkepanjangan telah menciptakan tekanan besar terhadap ekonomi domestik Israel. Mobilisasi cadangan militer dalam waktu lama mempengaruhi produktivitas nasional. Sektor investasi melemah akibat ketidakpastian keamanan. Jalur perdagangan regional terganggu oleh eskalasi Laut Merah dan ancaman terhadap Selat Hormuz.
Dalam waktu bersamaan, biaya perang meningkat secara eksponensial. Operasi multi-front dari Gaza, Lebanon, hingga ancaman langsung Iran menuntut kesiapan logistik dan pertahanan udara dalam skala yang sangat besar.
Iron Dome dan sistem pertahanan canggih lainnya memang masih efektif dalam banyak situasi. Namun perang modern tidak ditentukan hanya oleh kemampuan mencegat rudal. Yang jauh lebih menentukan adalah kemampuan mempertahankan stamina nasional dalam jangka panjang.
Sun Tzu sejak ribuan tahun lalu telah mengingatkan bahwa tidak ada negara yang benar-benar diuntungkan oleh perang berkepanjangan. Napoleon pun menegaskan bahwa logistik adalah fondasi utama kemenangan.
Dalam konteks ini, tantangan terbesar Israel bukan lagi sekadar menghancurkan musuh, melainkan mempertahankan daya tahan negaranya sendiri.
Kemenangan Taktis yang Tidak Berubah Menjadi Keberhasilan Politik
Tujuan utama operasi militer Israel pasca-7 Oktober pada dasarnya jelas: menghancurkan kapasitas Hamas, mengembalikan sandera, serta memulihkan deterrence regional.
Namun setelah konflik berlangsung panjang, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tujuan tersebut belum sepenuhnya tercapai.
Hamas masih memiliki kapasitas bertahan. Front utara tetap aktif melalui tekanan Hizbullah. Ancaman Iran justru meningkat menjadi faktor regional yang semakin dominan. Sementara itu, sebagian wilayah Israel utara mengalami gangguan keamanan berkepanjangan yang memaksa perpindahan warga sipil dalam jumlah besar.
Di sisi lain, legitimasi internasional Israel juga mengalami tekanan serius akibat tingginya korban sipil dan krisis kemanusiaan di Gaza. Dalam perang modern, legitimasi internasional merupakan bagian penting dari kekuatan strategis. Negara yang kehilangan legitimasi perlahan akan kehilangan ruang diplomasi.
Inilah paradoks perang modern: sebuah negara dapat memenangkan banyak pertempuran, tetapi tetap gagal mencapai tujuan politik utamanya.
Dalam terminologi strategi militer, kondisi tersebut dikenal sebagai strategic attrition, kemenangan taktis yang justru menguras posisi strategis sendiri.
Krisis Moral dan Fraktur Sosial
Tidak ada perang panjang yang dapat dimenangkan tanpa dukungan moral publik.
Di Israel, tekanan sosial-politik kini semakin terlihat melalui demonstrasi keluarga sandera, polarisasi politik domestik, dan meningkatnya ketegangan antara kelompok religius, sekuler, maupun komunitas Arab-Israel.
Situasi ini diperumit oleh proses hukum yang masih membayangi Benjamin Netanyahu. Akibatnya, sebagian publik mulai mempertanyakan apakah perang sepenuhnya dijalankan demi kepentingan nasional atau turut dipengaruhi kepentingan politik domestik.
Dalam sejarah militer, krisis kepercayaan publik sering kali menjadi titik awal melemahnya ketahanan nasional. Uni Soviet di Afghanistan dan Amerika Serikat di Vietnam sama-sama belajar bahwa perang tidak hanya dimenangkan di medan tempur, tetapi juga di ruang psikologi publik.
Clausewitz benar ketika mengatakan bahwa perang merupakan kelanjutan politik dengan cara lain. Ketika politik domestik mengalami fragmentasi mendalam, maka perang perlahan kehilangan fondasi moralnya.
Perubahan Arsitektur Keamanan Timur Tengah
Konflik Gaza tidak lagi berdiri sendiri sebagai perang lokal. Konflik ini telah berkembang menjadi episentrum perubahan geopolitik Timur Tengah.
Iran semakin berani memainkan pengaruh regionalnya. Hizbullah meningkatkan tekanan militer di utara Israel. Kelompok Houthi mengganggu jalur perdagangan internasional di Laut Merah. Amerika Serikat pun dipaksa mempertahankan kehadiran militernya secara lebih intensif di kawasan.
Dalam saat yang sama, negara-negara Arab mulai menghadapi dilema strategis antara menjaga hubungan dengan Barat atau merespons tekanan opini publik domestik yang pro-Palestina.
Artinya, perang ini bukan hanya tentang Gaza. Ini adalah perebutan ulang keseimbangan kekuatan kawasan. Dan dalam setiap perubahan arsitektur keamanan, selalu muncul risiko salah kalkulasi yang dapat memicu eskalasi lebih besar.
Rekomendasi Strategis untuk Indonesia
Sebagai negara besar dengan politik luar negeri bebas aktif, Indonesia harus bersikap tenang, rasional, namun tetap tegas.
Pertama, Indonesia perlu meningkatkan diplomasi internasional melalui PBB dan forum multilateral guna mendorong gencatan senjata permanen, perlindungan warga sipil, dan solusi dua negara yang berkeadilan.
Kedua, pemerintah harus memperkuat mitigasi dampak geopolitik terhadap energi, perdagangan, dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik, termasuk meningkatkan kesiapan pengamanan jalur ALKI.
Ketiga, Indonesia harus tetap konsisten menjaga posisi independen: mendukung hak rakyat Palestina tanpa terjebak dalam polarisasi geopolitik global.
Penutup
Sejarah militer menunjukkan bahwa kekuatan sebuah negara tidak hanya diukur dari jumlah alutsista atau kecanggihan teknologi tempurnya. Kekuatan sejati terletak pada kemampuan menjaga keseimbangan antara militer, politik, ekonomi, moral publik, dan legitimasi internasional.
Israel hari ini belum runtuh. Namun negara itu sedang menghadapi ujian strategis terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Jika konflik terus berlangsung tanpa arah politik yang jelas, maka risiko erosi jangka panjang terhadap daya tahan nasional akan semakin besar.
Bagi Indonesia, pelajaran utamanya sangat jelas: perang modern tidak pernah benar-benar dimenangkan hanya dengan kekuatan senjata. Ketahanan nasional sejati dibangun melalui persatuan politik, stabilitas ekonomi, kepemimpinan yang dipercaya rakyat, dan kemampuan membaca perubahan geopolitik secara cermat.
Jakarta, Mei 2026