Menyongsong Gelombang Baru, Bagaimana AI Membumikan Cerita Rakyat Jawa?

Bagikan :

Oleh: Tukijo, S.Pd., M.Pd.
Mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Bahasa
Universitas Negeri Semarang (UNNES)

SAAT kecil dulu, para murid sering disuguhi berbagai cerita rakyat, mulai dari fabel hingga legenda yang membekas di benak mereka. Kini, para murid justru “dipaksa” mengikuti kebiasaan orang tua menonton kembali cerita legenda melalui video.

Ironisnya, mereka lebih sibuk menikmati konten YouTube, TikTok, drama Korea, maupun sinema dari negeri seberang. Dari situ muncul sebuah pertanyaan kecil di benak saya: apakah dongeng dan crita rakyat Jawa akan benar-benar mati di generasi mereka?

Kita semua sepakat, crita rakyat Jawa bukan sekadar hiburan pengantar tidur. Ia merupakan pitutur luhur—falsafah hidup, kode etik, dan kearifan lokal yang mengajarkan kesabaran, pantang menyerah, serta harmoni dengan alam.

Namun, realitas menunjukkan bahwa bahasa Jawa dialek kuno dan alur cerita yang panjang sering kali menjadi penghalang psikologis bagi Generasi Z yang terbiasa dengan sajian informasi cepat, visual, dan interaktif.

Lalu, apakah kita akan membiarkan warisan ini menjadi fosil digital? Tentu tidak. Di sinilah penulis melihat adanya titik temu menarik antara masa lalu dan masa depan.

Menurut saya, AI hanyalah sebuah alat. Seperti halnya gamelan yang terbuat dari logam, jika dipukul asal-asalan akan menghasilkan suara bising. Namun, jika ditabuh dengan hati, ia akan melahirkan laras slendro yang merdu.

Pemanfaatan AI dalam apresiasi sastra Jawa crita rakyat bukan untuk menggantikan pertunjukan kethoprak atau pembacaan wayang oleh dalang. Tujuan utamanya adalah menjembatani jarak budaya (cultural distance) yang semakin lebar akibat derasnya arus globalisasi.

Berdasarkan penelitian kajian pustaka, setidaknya ada tiga pendekatan revolusioner tentang bagaimana AI dapat menjadi “dalang digital” untuk membumikan cerita rakyat Jawa.

Personalisasi Cerita dengan Chatbot Naratif
Generasi Z tidak suka digurui. Mereka lebih suka diajak berdialog. Dalam sebuah uji coba, kami mengembangkan prototipe chatbot berbasis Natural Language Processing (NLP). Tidak seperti chatbot biasa yang kaku, chatbot ini mampu bercerita tentang Lutung Kasarung dengan gaya bahasa berbeda sesuai selera penggunanya.

Untuk murid yang menyukai nuansa misteri, chatbot akan menonjolkan adegan magis dalam cerita. Sementara bagi murid yang bergaya humoris, tokoh punakawan seperti Semar dan Petruk dibuat lebih ekspresif dengan dialog ala stand-up comedy masa kini.

Bahkan, bagi murid yang sedang belajar aksara Jawa, chatbot dapat menampilkan teks bilingual secara bertahap, yakni aksara Latin dan Jawa, sehingga proses belajar terasa lebih ringan dan tidak menakutkan. Hasilnya, minat baca dan tingkat keterlibatan murid terhadap cerita rakyat meningkat secara nyata karena mereka merasa dipahami dan dilayani secara personal.

Prompt Engineering dan Imajinasi Visual
Salah satu kelemahan crita rakyat dalam buku teks selama ini adalah minimnya ilustrasi kekinian yang menarik. Dahulu, anak-anak membayangkan sosok Ratu Pantai Selatan hanya melalui gambar hitam putih di buku paket yang monoton.

Kini, dengan bantuan AI generator gambar seperti Midjourney atau DALL-E 3, murid dapat menjadi “dalang visual” atas cerita mereka sendiri. Dalam sebuah uji coba di SMP di Semarang, penulis memberikan perintah sederhana kepada murid: “Gambarkan Candi Prambanan bergaya anime dengan kilat di langit malam, menggambarkan kutukan Roro Jonggrang.”

Dalam hitungan detik, layar gawai mereka menampilkan visual epik penuh warna yang membuat seluruh kelas berdecak kagum. Murid kemudian berlomba-lomba menulis ulang cerita berdasarkan gambar yang mereka buat sendiri.

Penulis menyaksikan bagaimana apresiasi mendalam lahir bukan karena mereka dipaksa membaca teks kuno, melainkan karena mereka terlibat aktif dalam proses kreatif—menjadi pencipta sekaligus penikmat.

Voice Cloning dan Dubbing Lokal
Bahasa Jawa adalah bahasa yang indah karena intonasi dan unggah-ungguh—tingkat tutur yang mencerminkan kepada siapa kita berbicara. Sayangnya, tidak semua guru memiliki kemampuan vokal untuk menirukan suara gemulai seorang putri keraton atau suara tegas seorang prabu di medan perang.

Teknologi AI text-to-speech modern memungkinkan proses sulih suara cerita rakyat dengan kualitas yang memukau. Bayangkan seorang guru memasukkan teks cerita Damarwulan ke dalam perangkatnya, lalu memilih suara AI yang gagah dan berwibawa untuk tokoh Damarwulan, suara licik penuh intrik untuk Ratu Kencana Wungu, serta suara menggemaskan untuk Layang Kumitir.

Cerita yang sebelumnya terasa datar dan monoton kini hidup kembali. Anak-anak tidak lagi menguap bosan. Mereka justru meminta cerita diputar ulang karena merasa sedang menonton film animasi profesional.

Menjaga Jati Diri di Tengah Kemajuan Teknologi
Tentu saja, perjalanan ini masih panjang dan belum sempurna. Ada kekhawatiran mengenai akurasi budaya, risiko distorsi cerita asli, hingga kesenjangan akses teknologi di daerah terpencil.

Namun, bukankah semangat kawruh jiwa dalam falsafah Jawa mengajarkan kita untuk terus belajar dan beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jati diri?

Kita tidak bisa memaksa anak-anak kembali ke masa lalu. Akan tetapi, kita bisa menghadirkan masa lalu kepada mereka dengan cara yang mereka pahami.

AI hanyalah jembatan. Yang menyeberang tetaplah manusia dengan hatinya. Di seberang jembatan itu, Roro Jonggrang, Jaka Tarub, Keong Mas, dan Damarwulan masih tersenyum, menunggu dikenalkan kembali kepada generasi baru—bukan sebagai cerita usang, melainkan sahabat lama yang hadir dalam rupa baru. (*)

 

BERITA TERKINI

TUKIJO10
Menyongsong Gelombang Baru, Bagaimana AI Membumikan Cerita Rakyat Jawa?
FULAD6
Erosi Strategis Israel, Perang Gaza dan Perubahan Arsitektur Keamanan Timur Tengah
nokman26
Peran AI dalam Dunia Pendidikan: Peluang dan Tantangan bagi Guru dan Siswa
santa1
Rayakan HUT ke 70, Yayasan Santa Maria Dorong Transformasi Pembelajaran
6086661548785995410
PNS Baru Jangan Mudah Jaminkan SK untuk Kredit di Bank